Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Menghasut!


__ADS_3

Siapa yang memulai maka dia yang akan merasa menjadi korban. Paling tersakiti padahal dia yang menyakiti.


~JBlack


***


"Mas, kamu gak mau ke rumah, Bia?" Tanya Dhira pada Shaka.


Pria yang saat itu sedang berdiam diri di ruang kerja tentu langsung menoleh dengan cepat.


"Memangnya kamu kasih izin?" Tanya Shaka dengan pelan.


Dhira yang tadi masih di pintu ruang kerja Shaka lekas masuk. Dia berjalan ke arah sang suami yang duduk dengan tenang di kursi kerjanya dengan senyuman di bibirnya.


"Iya. Aku tahu Mas Shaka khawatir sama Bia. Apalagi dia sedang hamil besar," Ucap Dhira dengN manis.


Jujur dalam hati Shaka. Dia bertanya-tanya. Dhira selalu tak memberikannya izin beberapa hari kemarin. Bahkan untuk menjemput Bia yang pulang dari rumah sakit. Dirinya harus bertengkar dengan Dhira dan berakhir dia di rumah.


Shaka tak bisa melakukan apapun karena ancaman Dhira yang selalu mengatakan tak mau makan dan tak peduli pada anak yang dia kandung.


"Oke. Makasih banyak, Sayang. Aku akan berangkat sekarang!" Ucap Shaka yang tak sabaran.

__ADS_1


Percayalah tak bertemu dengan Bia adalah hal yang membuat Shaka harus mengurung diri di ruang kerja. Hanya ruang kerjanya ini yang mampu membuatnya bisa menghubungi Bia melalui panggilan video.


Meski tak bisa bertemu. Shaka tetap mencari cara untuk menghubungi istrinya yang lain. Bia benar-benar sudah memenuhi seluruh hatinya. Bia benar-benar telah mencuri cintanya yang semula untuk Dhira kini mulai terbagi.


Kebaikan hati Bia. Bagaimana perhatian wanita itu. Bagaimana cara Bia memperlakukan dirinya membuat perasaan Shaka benar-benar untuknya.


"Mas tunggu!" Panggil Dhira yang membuat Shaka menghentikan langkah kakinya.


"Ya?"


"Aku sama mau bilang, kata tetangga sebelah Bia. Sering ada mobil mercedes-benz warna hitam di depan rumah Bia. Pria yang sama selalu keluar masuk rumah Bia. Dia… "


"Itu mobil Semi," Ucap Shaka dengan jantung yang berdebar.


"Jangan katakan pada Bia kalau aku bilang ini ya, Mas. Kalau Mas gak percaya, bisa tanya tetangga sebelah. Bahkan katanya malam hari, pernah Semi baru pulang dari rumah Bia," Bisik Dhira dengan senyuman miring di bibirnya dengan tangan mengelus punggung suaminya.


Entah kenapa mendengar ucapan istrinya jantung Shaka berdetak kencang. Kedua tangannya terkepal kuat karena dia mulai percaya pada istrinya.


Apalagi beberapa waktu dia sangat ingat selalu meminta Semi untuk mengecek kondisi istrinya. Hingga sesuatu terjadi pun, mulai memenuhi pemikiran Shaka kali ini.


"Mas… "

__ADS_1


"Aku harus pergi sekarang, Dhira."


Dhira melepas pelukannya. Dia menangkup kedua sisi wajah suaminya yang terlihat khawatir.


"Mas tenang. Bukannya Mas Shaka yang bilang kalau Bia, perempuan baik-baik?" Kata Dhira mengulang kata-kata Shaka dengan nada seperti menyindir.


Shaka mendongak. Dia membalas tatapan istrinya dengan lekat.


"Mas berangkat yah!"


"Dhira ikut!" Seru Dhira dengan semangat. "Dhira mau jagain Mas Shaka. Takut sesuatu entar tiba-tiba ada disana. Jadi Dhira bisa jagain Mas Shaka!"


"Tapi, Dhira… " Kata Shaka yang mulai tak nyaman.


Akhh dia kesana terburu-buru sekarang. Apalagi setelah mendengar perkataan Dhira tentang Semi dan Bia. Hatinya memanas. Rasa cemburu itu tentu mulai membalut hatinya.


"Ya, Mas. Kalau Dhira gak boleh ikut. Dhira gak mau makan!"


Ancaman ini. Ancaman ini membuat Shaka tak bisa berkutik.


"Baiklah. Ayo! Tapi kamu pakai jaket dulu karena cuaca di luar dingin. Oke?"

__ADS_1


"Oke, Mas!"


~Bersambung


__ADS_2