Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Kelakuan Laknat


__ADS_3

Jika kamu memulai sesuatu dari sebuah ketidakjujuran maka percayalah suara saat nanti ketidakjujuran itu akan membuatmu hancur.


~JBlack


***


Akhirnya Shaka, Dhira dan Arthir berangkat dengan menggunakan satu mobil. Dengan menggunakan saran dari Arthir, Shaka mau untuk bergantian mengemudi mobilnya dengan sang kakak.


Bagaimanapun ketiganya tentu satu arah dan satu tempat. Jadi dengan menggunakan satu kendaraan saja sudah cukup untuk mereka. Apalagi pekerjaan dia dan Arthir sama. Jadi hal itu tentu memudahkan keduanya dalam bekerja.


"Mas, bisa mampir beli cemilan dulu, nggak? Anak kita laper banget," Ucap Dhira dengan manja sambil memajukan kepalanya.


Shaka yang saat itu duduk di samping kemudi dengan Arthir yang menyetir tentu lekas menoleh.


"Kamu mau beli apa?" Tanya Shaka dengan pelan.


"Aku mau roti. Beli di minimarket aja boleh," Ucap Dhira dengan cepat.


Shaka akhirnya mengangguk. Dia mengalihkan tatapannya dan menatap ke arah kakaknya yang sedang fokus mengemudi.


"Berhenti jika ada minimarket, Kak!" Pintanya yang langsung mendapatkan acungan jempol dari Arthir.


Setelah mengatakan itu, Shaka kembali menyandarkan punggungnya. Dia menatap ke arah jendela mobil dengan mata terpejam. Jujur pikirannya saat ini hanya tertuju pada satu orang.

__ADS_1


Bia.


Bia.


Bia.


Dan Bia saja.


Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Ada sesuatu yang mengatakan bahwa dia tak mau ada di posisi sekarang. Dia tak mau semua ini terjadi seperti ini.


Hingga tanpa Shaka sadari. Jika dia manusia yang ada di dekatnya ini. Terlihat mulai bergenggaman tangan. Ya, Arthir mengemudi dengan satu tangan dan tangan yang lain dia letakkan ke belakang dengan mata yang terus mencuri lihat ke arah Shaka.


Pria dengan wanita yang tak tahu malu itu saling menggoda melalui sentuhan tangan. Bahkan Dhira dengan sengaja memajukan tubuhnya sedikit agar dirinya bisa lebih dekat dengan Arthir.


"Ka!" Panggil Arthir dengan pelan.


Shaka tentu langsung membuka matanya. Apalagi dia memang tak tidur. Dirinya benar-benar tak bisa memejamkan matanya sejenak.


"Biar aku saja yang turun, Kak," Kata Shaka dengan melepaskan sabuk pengaman. "Kak Arthir mau titip apa?"


Shaka benar-benar merasa gerah di dalam mobil. Otaknya yang penuh akan Bia membuatnya ingin menghirup udara segar.


"Aku kopi, Ka."

__ADS_1


"Kalau kamu, Dhira? Mau apa selain roti?" Tanya Shaka dengan bersiap hendak turun.


"Aku mau roti sama air putih aja."


Akhirnya Shaka lekas keluar dari dalam mobil. Pria itu berjalan dengan langkah gontai dan mampu dilihat dari dalam mobil oleh dua pasangan yang kembali berdekatan dengan Dhira memajukan wajahnya.


"Aku merindukanmu, Sayang," Kata Arthir sambil meraup bibir Dhira dengan begitu cepat.


Dua manusia laknat itu saling berciuman. Arthir benar-benar menyambut ciuman itu dengan begitu panasnya.


"Akhh!" Lirih Dhira saat Arthir menggigit lidahnya.


"Jangan meninggalkan bekas. Nanti… "


Arthir tak membiarkan Dhira melanjutkan perkataannya. Keduanya terus berciuman dengan panas. Bahkan tangan Arthir sudah bergerak kemana-mana.


"Sayang. Aku… "


Wajah Arthir sudah ada di leher Dhira. Dia benar-benar menyesap leher itu dengan begitu panasnya.


"Jangan meninggalkan bekas, Arthir. Ada Shaka yang bisa melihatnya nanti!" Seru Dhira mengancam agar kekasihnya itu ingat.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2