
Percayalah jika hati sudah dipenuhi akan kebencian maka melihat apa yang dia inginkan tercapai, hatinya akan merasa sangat bahagia melihat lawannya jatuh.
~JBlack
***
Wajah Dhira benar-benar bahagia sepanjang hari. Dirinya bahkan sampai mimpi indah melewati malam yang panjang. Dia benar-benar merasa kebahagiaan yang hakiki adalah masa sekarang.
Masa dimana dia berhasil menyingkirkan Bia dari kehidupan mereka. Masa dimana dia berhasil membuat hubungan Shaka dan Bia berakhir.
Bukan hanya rasa bahagia saja yang Dhira rasakan. Melainkan rasa syukur karena apa yang ingin dia lakukan terwujud dengan cepat. Apa yang dia inginkan, ternyata tuhan benar-benar berada di pihaknya.
"Mas," Rengek Dhira dengan pelan pada saat Shaka yang baru saja turun ke lantai bawah.
"Iya?" Sahut Shaka dengan wajahnya yang sedikit pucat.
Dhira bisa melihat kedua bola mata suaminya itu menghitam. Hal itu menandakan jika suaminya tak tidur dengan tenang. Bahkan Dhira yakin jika suaminya itu tak tidur semalaman.
"Kamu jadi ke kota sebelah untuk mengecek kerjaan, Sayang?" Tanya Dhira dengan manja.
Perempuan dengan perut yang sedikit membuncit itu bergelayut manja di tangan Shaka. Dhira bahkan menyandarkan kepalanya di lengan atas suaminya.
"Jadi. Aku harus berangkat pagi ini," Sahut Shaka dengan pelan.
"Aku boleh ikut nggak, Mas? Aku gak mau sendirian. Aku mau sama kamu," Ujar Dhira merengek dengan serius.
__ADS_1
Dhira berulang kali menarik narik tangan Shaka. Mencoba menunggu jawaban pria itu agar mengizinkan dirinya ikut. Entah kenapa hari ini, dia sedang menginginkan untuk bertemu seseorang.
Ya seseorang yang sudah beberapa hari ini tak ia temui. Seseorang yang sangat ingin dia temui.
"Aku akan bersama Kak Arthir, Dhira. Aku akan mengecek bersamanya," Sahut Shaka sambil mencoba melepaskan tangan istrinya dari lengannya lalu meraih roti yang sudah diberi selai rasa coklat di atas meja.
"Tapi, Mas. Aku mau ikut. Aku mau nemenin kamu. Aku gak mau sendirian disini," Rengek Dhira dengan memasang wajah yang benar-benar penuh kesedihan.
"Dhira!"
"Mas!" Pekik Dhira yang tak mau mengalah.
"Jangan merengek seperti anak kecil, Dhira. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu!" Sela Shaka dengan tegas.
Shaka frustasi. Entah kenapa jujur dia tak bersemangat untuk berdebat sekarang. Dia benar-benar merasa kehilangan.
Bayangan wajah Bia sejak semalam terus terbayang di wajahnya. Bayangan dimana dia yang dengan tega mengatakan kata talak di saat kehamilan istrinya itu membesar.
Dia berpikir, dirinya benar-benar menjadi pria paling brengsek. Pria gila yang mengatakan kata cerai disaat wanita yang ia cinta tengah berjuang dengan kehamilan anak mereka.
Namun, apa yang dia lihat. Apa yang menjadi bukti di depan matanya membuat perasaan pria itu kecewa. Jujur dia benar-benar cemburu. Cemburu melihat bagaimana temannya itu berduaan saja dengan istrinya.
Siapa yang akan tahu. Jika wanita dan pria satu ruangan tanpa seorang pun tak akan melakukan apapun.
"Biarkan istrimu ikut, Shaka!" Kata Arthir yang tiba-tiba datang dengan memakai baju rapi membalut tubuhnya.
__ADS_1
Suara itu tentu membuat Shaka spontan menoleh. Dia menatap kehadiran kakaknya dengan pandangan cuek dan penuh diam. Entah kenapa saat ini dirinya malas berbicara dengan siapapun.
Bahkan dirinya bangun saja bisa dipastikan jika bukan karena pekerjaan maka dia akan memilih untuk diam di dalam rumah.
"Tapi, Kak. Pekerjaan kita lama dan Dhira hanya bisa beristirahat di villa. Kita disana untuk bekerja bukan liburan!" Kata Shaka dengan tegas.
"Tapi lihatlah istrimu itu! Apa kamu tega, meninggalkan dia dirumah sendirian, disaat dia sedang hamil?"
Entah kenapa perkataan Arthir membuat Shaka terdiam cukup lama. Dia menatap istrinya yang benar-benar sedang menunggu jawabannya.
"Plis, Sayang. Yah? " Bujuk Dhira yang benar-benar sangat ingin ikut.
Akhirnya Shaka mengalah. Apalagi saat melihat wajah istrinya yang memohon padanya membuat dirinya tak mampu menolak sedikitpun.
"Oke kamu ikut!" Kata Shaka yang langsung membuat Dhira melebarkan senyumannya.
Wajahnya benar-benar terlihat bahagia. Apalagi saat matanya menatap ke samping. Menatap ke arah pasangan yang sangat dia cintai.
Mata ibu hamil itu mengedip dengan manja dan dibalas cium jauh dari pria yang tak tahu malu itu.
"Mas bener kan?" Tanya Dhira memperjelas.
"Iya. Gantilah baju dan minta pelayanan membantu untuk membereskan pakaian yang akan kamu bawa."
~Bersambung
__ADS_1