Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Pilih salah satunya!


__ADS_3

Mungkin kenyataan pahit yang lain adalah ketika sosok yang kamu cintai begitu dalam tak bisa melihatmu dengan cinta yang besar. Menyakitkan memang tapi disembunyikan adalah hal paling baik dari segalanya.


~Bia Quinsa Altafunisha


...****************...


Shaka menatap mata yang kini mulai terpejam dengan pelan. Hembusan nafas yang begitu tenang itu entah kenapa membuat sedikit kekhawatiran dalam dirinya terangkat.


Jujur ada perasaan takut dan kacau dalam dirinya. Ada perasaan menyesal dan sedih. Dia hampir saja terlambat datang. Dia hampir saja kehilangan anaknya.


Namun, bagaimanapun dalam kondisi ini. Di tetap menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan keadaan yang membuatnya sulit. Keadaan yang membuatnya tak tahu harus berada dimana.


Jiwa dan raganya hanya satu. Dia ingin menemani sosok yang terbaring dengan lemah di atas ranjang pasien ini. Namun, disisi lain dia tak mungkin meninggalkan sosok wanita yang mengatakan hamil anaknya juga berada di rumah.


"Jika kau tak sanggup, maka pilihlah salah satunya, Ka!" Celetuk seorang perempuan dengan memakai kemeja putih baru saja masuk dan berjalan mendekati ranjang Bia.


Shaka, pria yang sejak tadi diam sambil memegang tangan Bia dan menatap wajah damai itu mulai menoleh.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Ikuti kata hatimu sendiri. Jika kau tak sanggup, maka pilihlah salah satu dari mereka!"


"Kau gila?" Kata Shaka dengan dahi berkerut.


"Kau dan istrimu yang gila!" Kata dokter itu sambil menyuntikkan obat di infus Bia dengan pelan. "Kau menyeret wanita baik dan berdosa dalam permainan kalian."


"Lihat dia!" Kata dokter perempuan yang selama ini merawat Bia. "Demi anakmu dan Dhira. Dia berani datang kesini sendirian. Selalu check up sendiri. Merawat calon anak kalian dengan begitu sempurna."


"Dia yang tak tahu apapun harus terseret dalam masalah kalian. Dia yang ada di kondisi buruk, harus ada suami di sampingnya. Namun, Bia bisa melewati semuanya sendiri."


"Apa perjuangannya selama ini masih kau ingin renggut dengan mengambil anaknya?"


"Lepaskan Bia, Ka! Biarkan dia bahagia dengan hidupnya. Biarkan dia membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang. Aku yakin dia akan lebih bahagia hidup berdua dengan anaknya tanpamu disisinya!"


Ada yang seperti tersayat tapi bukan dengan pisau. Ada yang begitu sesak dan menyakitkan. Mata Shaka menoleh ke arah ranjang.


Mata yang selalu menatap dengan dingin. Mata yang begitu tegas di hadapan semua orang kini terlihat berkaca-kaca.


"Jadi kau menyuruhku untuk pergi dari Bia?" Lirih Shaka dengan suaranya yang berat.

__ADS_1


"Ya. Tinggalkan dia! Jangan beri dia beban lagi. Aku tau dia begini karena kebanyakan pikiran dan stress!" Lirih teman Dhira itu yang mulai menyayangi Bia.


Ya bagaimanapun posisi dia yang hanya dokter. Posisi dia yang merupakan sahabat dan teman Dhira. Tak membuat dia melakukan semuanya dengan Dhira.


Dia memiliki perasaan. Dia seorang dokter dan melihat semua perjuangan Bia membuatnya marah besar pada teman dan suami temannya.


"Ceraikan Bia, Ka! Jika kau tak bisa adil dan memilih salah satunya. Jangan sakiti hati Bia karena kau sudah menyakiti sebagian dirinya."


Setelah mengatakan itu, perempuan dengan kemeja putih berbalik. Dia memukul pundak Shaka dan membuat tatapan mata keduanya saling beradu.


"Aku yakin kau mengerti maksudku dan aku tau kau bisa mengambil keputusan yang tepat! Jangan ragu untuk melangkah! Aku tau perasaanmu mulai berubah bukan," Lirihnya lalu segera meninggalkan Shaka sendirian.


Matanya kembali menatap ke arah Bia dengan perasaan dan keyakinan yang campur aduk. Namun, entah kenapa perkataan teman istrinya itu membuat secercah harapan dari segala keraguan dalam dirinya mulai menipis.


Shaka mulai tahu apa yang diinginkan. Shaka mulai yakin dengan apa yang dia pilih.


"Aku terlalu menjadi beban bagimu, Bi. Maafkan aku! Aku akan segera menyelesaikan semuanya!"


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2