Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Disindir


__ADS_3

...Lambat laun satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan yang lain. Hal itu akan terus berjalan jika kita mengawalinya dengan hal yang tak benar. ...


...~JBlack...


...****************...


Shaka terlihat tegang. Dia menatap mamanya yang juga sedang menatapnya balik. Wajah pria itu terlihat begitu frustasi. Dia juga memikirkan apa yang mamanya katakan barusan.


Shaka menunduk. Dia tahu semua ini akan terjadi. Lambat laun kebohongan dia akan ketahuan jika dimulai dengan hal yang tak benar.


Namun, mengatakan kejujuran di depan mamanya juga tak mungkin. Dia yakin mamanya akan semakin membenci Dhira, membuat hubungan mereka dipisah dengan paksa dan mamanya pasti akan menikahkannya dengan wanita lain.


Entah apa yang dilakukan istrinya. Namun, Shaka juga merasa bingung. Sejak berkenalan dengan Dhira. Mamanya itu sudah menunjukkan sikap tak suka. Mamanya juga sebenarnya tak setuju dengan pernikahan mereka tapi karena Shaka memaksa dan mengancam. Membuat mama dan keluarganya menerima.


"Shaka tak menyembunyikan apapun, Ma," Kata Shaka dengan serius.


"Mama tau," Jawab Mama Shaka dengan mengangguk.


Perempuan yang tak lagi muda itu perlahan menoleh ke arah dinding. Dia melihat jam dinding untuk mengecek waktu.


"Kamu mau berangkat ke kantor, Nak?" Tanya Mama Viola dengan begitu perhatian.


"Iya, Ma," Sahut Shaka dengan beranjak berdiri.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang yang menandakan dia pasti terlambat datang ke kantor.


"Shaka harus berangkat sekarang, Ma. Gakpapa, 'kan, Shaka tinggal?"


Mama Viola mengangguk. Dia lekas berdiri dan mengantar putranya itu ke depan rumah.


"Maafin Shaka ya, Ma. Shaka gak bisa nemenin Mama. Shaka ada meeting dan gak bisa ditinggal," Ujar Shaka dengan penyesalan di wajahnya.


"Gakpapa, Nak. Berangkatlah! Mama hanya mampir sebentar. Ntar lagu Mama juga pulang," Kata Mama Viola yang membuat Shaka mengangguk.


Dia lekas mencium tangan mamanya lalu masuk ke dalam mobil. Setelah itu, pria tampan dengan pakaian yang setengah acak mulai mengemudikan mobilnya keluar dari rumah.


Hal itu membuat Mama Viola geleng-geleng kepala. Anaknya yang terkenal rapi dan selalu wangi itu terlihat begitu berbeda kali ini.


"Istrimu memang benar-benar tak berguna, Shaka!"


Akhirnya Mama Viola kembali masuk ke kamarnya. Dia juga lekas naik ke atas. Ke lantai keduanya atau lebih tepatnya menemui menantunya itu.

__ADS_1


Dia mengetuk pintu berulang kali dengan tak sabaran. Entah kenapa Mama Viona benar-benar terlihat marah dan emosi.


"Sebentar!" Pekik Dhira dari dalam kamar yang terdengar.


"Siapa sih? Sa…" Suara Dhira perlahan seperti tertelan bumi saat dia melihat siapa yang berdiri di balik pintu kamarnya.


Dia memegang handuknya dan membuka sedikit pintunya lebih lebar. Dhira memang hanya memunculkan wajahnya saja karena dia memang baru selesai mandi.


"Mama," Lirih Dhira dengan pelan dan mata terbelalak tak percaya.


"Terkejut?"


Dhira terlihat tersenyum kaki. Kepalanya mengangguk karena dia benar-benar terkejut dengan kehadiran mama mertuanya.


"Iya, Ma. Sedikit," Kata Dhira dengan tawa paksa di bibirnya.


"Segeralah turun dan temani Mama sarapan!" Kata Mama Viola yang langsung pergi dan meninggalkan Dhira yang masih menatap punggungnya dari balik pintu kamar.


***


"Sialan!" Umpat Dhira dengan marah dan menutup pintu kamarnya.


"Untung saja, aku membelinya sebelum menunggu Mas Shaka. Kalau sampai iya, bisa bubar rencanaku," Ujar Dhira sambil meraih bantal kecil yang bisa diletakkan di perutnya untuk memberikan kesan bulat sedikit.


Dhira lekas melakukan semuanya. Memakai bantal itu sambil memakai baju yang lebar. Dia tak mungkin memakai pakaian yang super seksi atau semua rencananya akan terbongkar.


"Untung aku beli sesuai ukuran yang pas. Kecil sampai besar semuanya ada," Kata Dhira dengan berdiri di depan cermin sambil melihat perutnya yang membuncit sedikit.


Wanita ini benar-benar memiliki seribu satu cara agar semua yang dia inginkan tercapai. Apa yang Dhira inginkan harus diraih tanpa memikirkan apapun jalannya.


"Aku harus segera keluar sebelum Mama lampir itu berteriak," Kata Dhira dengan segera keluar dari kamar menggunakan sandal kamar yang flat dan tak ada hak sedikitpun.


Dia berjalan dengan pelan. Menuruni tangga sambil melihat kemana Mama mertuanya itu berada.


"Bawa apa dia!" Gumam Dhira dalam hati saat lirik tempat dimana Mama mertuanya berada.


"Mama ngapain? Biarkan Bibi yang mengaturnya, Ma," Kata Dhira yang baru saja tiba di meja makan.


Mama Viona menoleh. Dia menatap menantunya dari atas sampai bawah. Hingga matanya kembali lagi menatap perut Dhira yang mulai terlihat membuncit.


"Kandungan kamu gimana, Dhira? Sehat kan?"

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat, Ma. Dokter bilang semuanya bagus," Jawab Dhira dengan begitu percaya dirinya.


"Duduklah. Mama bawain kamu makanan dari rumah," Ujar Mama Viona yang menata makanan yang dia masak sendiri dan dibawa ke rumah putranya.


"Mama masak sendiri, Ma?" Tanya Dhira yang mencium aroma masakan mertuanya itu.


Sejak dulu Dhira tau jika Mama mertuanya ini pandai memasak. Mama mertuanya ini jago akan hal perihal makanan dan kue. Hal itulah yang membuat keluarga dan di rumah keluarga suaminya selalu menunggu masakan Mama mertuanya sendiri.


"Iya. Mama masak buat kamu sama Shaka. Tapi Shaka keburu berangkat ke kantor," Kata Mama Vio sambil mengambilkan nasi dan diberikan pada menantunya.


"Lain kali kalau masih pagi, jangan berantem terus. Inget kamu hamil, Dhira. Kamu juga harus belajar masak. Suami kamu gak bakal kamu suruh makan di luar terus kan?"


Dhira terdiam. Nafasnya menjadi berat. Dia juga mencengkram sendok dan garpu yang ia pegang lebih kuat.


Hal inilah yang tak ia suka. Mama mertuanya selalu menasehatinya dengan banyak hal.


"Mama gak maksa kamu buat bisa masak. Shaka juga tapi Mama kasihan lihat suami kamu makan diluar. Setidaknya berikan dia hadiah dengan masakan kamu," Kata Mama Shaka menambahi.


Dhira mengangguk. Dia mulai menatap makananya yang menurutnya tak lagi membuatnya berselera.


"Iya, Ma. Dhira akan belajar," Jawab Dhira dengan malas.


Dhira mulai memakan makanan itu. Mama Vio masih diam. Dia melirik ke arah menantunya yang mulai memakan makananya dengan tenang.


"Kamu gak ngerasain mual selama kehamilan ini, Dhira?"


Dhira menggeleng. Wajahnya terlihat biasa saja dan tenang. "Nggak, Ma. Dhira baik-baik aja kok. Kayaknya anak Dhira dan Mas Shaka ngerti kalau papanya sibuk kerja."


"Shaka sangat sibuk bekerja karena dia butuh cari uang yang banyak. Buat persiapan kelahiran kamu," Kata Mama Vio dengan sedikit menekankan pada kalimat terakhir. "Belum belanjaan kamu dan semua kebutuhan rumah tangga."


Dhira masih diam. Namun, Mama Shaka melirik menantunya yang benar-benar tak merasa disindir sedikitpun.


"Kamu boleh belanja tapi kamu juga harus menabung, Dhira. Buat persiapan nanti kalau ada sesuatu hal yang tak disangka. Kamu harus menyiapkan hal-hal yang terjadi tanpa. Bisa kita cegah. Jangan memikirkan enaknya sekarang terus. Kamu paham?"


Dhira mengepalkan salah satu tangannya yang baru saja dia letakkan di bawah meja. Dia benar-benar merasa telinganya panas dengan semua ceramah yang dia dengarkan.


"Mama lampir ini benar-benar cerewet. Sialan banget sih!"


~Bersambung


Kalau jadi Mama Shaka sebenarnya ada benernya, bukan mengatur menantu tapi kadang kalau ada menantu yang gak sadar ya diingetin hihi. Apalagi modelan Dhira yang hmm pen gue cubit.

__ADS_1


__ADS_2