Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

...Percayalah terkadang ada perasaan iri ketika melihat keluarga bahagia. Ada perasaan ingin memiliki seperti keadaan itu tapi perlu sadar diri bahwa itu tak akan pernah terjadi. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Saat kedua kaki Bia baru saja mulai menuruni tangga. Suara tangisan khas anak-anak terdengar dan membuat perempuan itu berjalan lebih cepat dengan berpegangan tangga. Dia sangat mengenal suara itu. Suara anak kecil yang merupakan keponakan lucunya.


Suara yang selalu membuatnya tenang, bahagia dan membuatnya merasa seperti memiliki anak sendiri. Dia lekas memutar kepalanya. Mencoba mencari tahu dimana suara tangisan itu muncul dan terdengar.


"Kakak," Panggil Bia saat dia berjalan ke arah pintu rumah utama kakaknya.


Tentu panggilan itu membuat Abraham menoleh. Dia menatap adiknya dan tersenyum.


"Sudah bangun?"


Bia mengangguk. Dia berjalan mendekat lalu memegang tangan anak laki-laki yang usianya sudah berumur 6 tahun tersebut.


"Hai, Boy. Kenapa menangis?" Tanya Bia sambil menurunkan tubuhnya hingga sejajar dengan anak kecil yang tengah mengusap air mata di kedua matanya.


"Aku mau Mama, Tante," Katanya dengan suara khas anak kecil yang serak serak basah.


"Kalau mau Mama, kenapa menangis?" Tanya Bia dengan pelan dan merapikan rambut keponakannya dengan penuh sayang.


"Mama gak ada dirumah," Katanya dengan sesenggukan yang membuat Bia melirik ke arah kakaknya.


"Aufa sedang jalan-jalan pagi, Bi. Dia sudah trimester akhir dan dokter menyarankan agar dia banyak jalan," Kata Abraham menjelaskan.


Bia mengangguk. Dia menatap ke arah keponakan lucunya itu dan tersenyum.


"Gimana kalau sekarang ponakan tante yang tampan ini main sama Tante aja? Gimana?" Tawar Bia dengan menaikkan alisnya.


Mata yang semula suram itu perlahan mulai mengedipkan matanya berulang kali. Bocah kecil itu menatap ke arah Bia yang masih mengulurkan tangan padanya.


"Kita beli es krim, Tante. Di ujung jalan saja!' pintanya menunjuk ke arah kedai es krim yang ada di ujung jalan perumahan rumah kakaknya.


Bia tersenyum. Idenya berhasil. Dia sangat tahu jika keponakannya ini adalah sebelas dua belas dengan dirinya. Sangat suka es krim dan cake yang menjadi legenda keluarga mereka.


Makanan dan minuman yang tak pernah tertinggal dari mereka. Entah di Indonesia, entah di New York. Cupcake dan Es Krim tetap favorit keluarga Bia dan Abraham.


"Oke. Ayok!"


"Bi, biar Kakak aja yah. Kamu… "


Bia menegakkan tubuhnya. Dia tersenyum saat melihat kedua mata kakaknya terlihat khawatir untuknya.


"Bia bakalan pelan-pelan, Kak."


"Tapi Boy sekarang lincah banget, Dek. Dia aktif banget," Kata Abraham menunjuk putranya yang sudah memasuki sekolah TK B tersebut. "Kakak takut dia menyusahkanmu nanti."


Bia menggeleng. "Dia gak pernah menyusahkan Bia."

__ADS_1


"Tapi, Dek… "


"Percaya sama Bia. Bia pasti bisa jagain Boy. Oke?"


Akhirnya meski berat. Meski Abraham terkesan tak ikhlas karena dia khawatir akan keaktifan putranya.


Dia takut membuat adiknya kelelahan. Apalagi dalam keadaan hamil seperti ini. Membuat Abraham khawatir jika putranya akan menyusahkan adiknya itu.


"Kalau ada apa-apa hubungi Kakak yah. Ingat! Jangan egois. Kamu hamil sekarang," Ujar Abraham sambil mengecilkan suaranya saat di kalimat hamil.


"Iya, Kak. Siap," Kata Bia lalu menarik tangan keponakannya agar berdiri di sampingnya.


"Kita berangkat dulu ya, Kak."


"Abang gak boleh nyusahin Ante Bia yah," Kata Abraham memperingati anaknya.


"Iya, Papa."


...****************...


"Tante kapan dateng?" Kata anak laki-laki yang berjalan di samping Bia sambil memegang tangannya.


Bia tersenyum. Dia menunduk dan menatap ke arah keponakannya yang menunggu jawabannya.


"Semalam. Tante datang saat kamu sudah tidur," Kata Bia menjawab dengan mengusap kepala putra pertama Abraham.


"Tante kesini sendirian? Gak sama Om Ala?"


Bia tertawa kecil. Dia sangat tahu jika putra pertama kakaknya itu sangat menyukai adik kembarnya.


"Om Ala masih di New Yok?" Ujarnya dengn begitu penasaran.


Ya, anak pertama Abraham ini, meski usianya sudah enam tahun tapi dia masih cadel di hurup R.


"Iya. Om Ala ada di New York."


"Sama Kakek sama Nenek?"


"Iya, Sayang," Jawab Bia dengan gemas.


Dia mulai menegakkan wajahnya. Menatap ke samping kanan kiri saat dia menyadari bahwa keduanya sudah hampir mencari ke pinggir jalan.


Mata anak pertama Abraham begitu cerah. Saat kedai es krim kesukaan dia sudah di depan mata.


"Ayo, Tante. Ayo!" Kata anak itu sambil melompat-lompat.


Bia menggelengkan kepalanya. Dia sangat merasa gemas dan ingin mentoel pipi berisi anak kakaknya itu karena tingkahnya yang terlalu lucu untuknya.


"Kita harus menyebrang dulu, oke? Jadi jangan banyak bergerak kalau ingin makan es krim."


Berhasil.

__ADS_1


Anak itu menurut. Putra pertama Abraham akhirnya berhenti melompat dan berdiri di samping Bia dengan tenang. Dengan pelan keduanya segera berjalan menyebrangi jalan dengan hati-hati lalu akhirnya sampai di seberang.


"Yeyyy!" Pekik anak itu dengan bertepuk tangan.


Anak pertama Abraham itu segera melompat bahagia. Dia juga berjalan lebih dulu untuk mencapai kedai dan membuat Bia menggelengkan kepalanya.


"Sangat mirip denganku dulu ketika sampai di kedai es krim. Bahagia sampai laki-laki karena udah gak sabaran," Kata Bia menertawakan dirinya sendiri ketika mengingat bagaimana dia dulunya.


"Boy, tungguin, Tante?" Pekik Bia saat anak kakaknya itu sudah berlari kecil.


Bia mempercepat langkahnya. Dia menatap langkah kaki keponakannya itu. Sampai akhirnya sebuah insiden terjadi dengan tak terduga.


Saat keponakannya berjalan dengan cepat dan tanpa melihat sekitarnya. Akhirnya pria kecil yang selalu dipanggil Boy oleh Bia itu menabrak seorang perempuan paruh baya dengan pakaian mewah yang membuat es krim di tangannya terjatuh.


"Boy," Pekik Bia dengan jantung yang berdebar.


Dia memegang tubuh keponakannya. Menatap ke seluruh tubuhnya sampai kakinya.


"Kamu gak papa, kan?"


Boy yang terlihat terkejut dengan ulahnya juga mengangguk. Namun, tak lama dia menunjuk ke arah lantai yang ada di samping mereka.


"Boy jatuhin es klim," Kata anak pertama Abraham menunjuk cup es krim yang berantakan.


Bia terkejut. Dia menegakkan tubuhnya dan menangkup kedua tangan di depan dada.


"Maafin keponakan saya, Tante. Dia… "


"Gakpapa, Nak. Gakpapa," Sahut seorang wanita yang suaranya sangat lembut dan membuat Bia mendongakkan wajahnya. "Anak ini pasti udah gak sabar makan es krim yah?"


Anak Abraham yang semula ketakutan perlahan mengangguk.


"Gimana kalau Nenek traktir makan es krim. Mau?"


"Eh tapi… "


"Jangan menolak ajakan Tante. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena sudah menjatuhkan es krim Tante. Bagaimana?"


Bia yang semula tak enak hati akhirnya mengangguk. Dia juga tak mungkin menolak karena terlalu tak enak dengan insiden yang tak terduga antara keponakannya dan wanita yang umurnya hampir sama dengan ibunya itu.


"Nama kamu siapa?" Tanya perempuan itu saat Bia selesai membawa es krim yang baru untuk keponakannya.


"Namaku Bia, Tante," Kata Bia dengan sopan.


"Ini… "


"Anak kakakku. Ayo, Boy. Salim," Kata Bia yang membuat Boy melambaikan tangannya dan mencium punggung tangan wanita itu.


"Hai, Nenek. Nenek bisa panggil aku Boy karena aku suka Boiboiboi," Ujarnya yang membuat wanita itu tertawa lucu.


"Nama Tante, Viona. Kalian bisa panggil Tante Vio dan Nenek Vio."

__ADS_1


~Bersambung


Yang kemarin nebak mama Shaka ketemu Bia. Akhh kalian bisa nebak alurnya. Gimana Gimana hahaha. Gimana kalau Mama Shaka kenal Bia dulu?


__ADS_2