
...Percayalah terkadang perubahan sikap seseorang tak akan pernah kita tahu kapan dan bagaimana dia berubah menjadi seperti ini. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Belum," Jawab Bia dengan pelan yang membuat dia bisa mendengar helaan nafas kasar dari seberang telepon. "Hanya kakak laki-laki ku yang tau dan istrinya. Selain itu, aku merahasiakan semuanya."
Shaka menyugar rambutnya ke belakang. Bia mampu melihat ekspresi wajah suaminya itu yang terlihat kecewa.
"Aku tak mungkin mengatakan semuanya. Orang tuaku tetaplah kebanggaanku. Aku tak mau membuat mereka kecewa padaku dan tahu jika aku menikah karena… "
Bia menjeda. Dia mendongak dengan menahan air mata yang rasanya ingin keluar. Perempuan itu tak mau menangis karena dia yakin ketika dia menangis, anak yang ada dalam kandungannya akan ikut menangis juga.
Dia tak mau membuat dirinya semakin tertekan. Bia berusaha untuk tetap tenang dan nyaman meski posisi dia benar-benar membuatnya kacau sekarang.
"Aku tau, Bi. Tapi kehamilan kamu… " Kata Shaka terjeda dengan menunjuk Bia di layar ponselnya. "Kehamilan kamu gak bakal kecil terus. Dia akan membesar dan itu akan membuat semua orang tahu."
"Aku tau!" Kata Bia menjawab. "Tapi aku belum siap untuk mengatakannya sekarang. Berikan aku waktu untuk mengaku atau aku akan mencari cara untuk menyembunyikannya sampai anak ini lahir."
Akhirnya Shaka tak mengatakan apapun lagi. Pria itu mampu melihat wajah Bia yang tertekan dari layar ponselnya.
Dia tak mau membuat istri keduanya itu banyak pikiran, stress atau memikirkan hal-hal yang seharusnya tak boleh mengganggunya.
"Cepatlah pulang," Kata Shaka dengan nada memohon yang membuat Bia kembali menatap ke layar ponselnya.
Bia menatap lekat kedua bola mata itu. Dia menganggukkan kepalanya pertanda mengiyakan permintaan suaminya itu.
"Aku akan pulang kerumah setelah bekerja besok."
Akhirnya panggilan itu berakhir. Bia meletakkan ponselnya lagi di atas ranjang lalu menarik nafasnya begitu dalam.
Ah rasanya semuanha sulit untuk dia jalani sendirian. Melakukan semuanya sendiri, memetik hasil yang dia buat karena menyembunyikan semuanya.
Ini bukan hal mudah. Ini bukan hal yang indah untuk dia lalui. Namun, semuanya sudah terjadi. Dia tak menyalahkan waktu, tak menyalahkan keputusannya.
Bia adalah orang yang berpegang teguh pada apa yang dia lakukan. Jika dia memulai, maka dia akan menyelesaikan semuanya sampai selesai. Bahkan dia akan menghadapi semua yang akan terjadi karena keputusan yang dia ambil.
...****************...
Seperti seusai janji Bara. Pagi ini, pria dengan rambut yang memiliki uban putih itu tentu mengantar putri kesayangannya bekerja. Dia mengemudikan mobilnya sendiri dengan semangat. Apalagi ketika melihat putrinya yang baru saja keluar dari kamar dengan gamis berwarna hitam dan jilbab hitam terlihat semakin sehat membuatnya merasa bahagia.
"Sudah siap?" Tanya Bara yang berdiri di samping mobilnya.
"Sudah, Ayah."
__ADS_1
"Gak ada yang ketinggalan?" Tanya Bara yang membuat Bia tersenyum.
Hal ini bukan yang pertama kalinya pria itu lakukan. Pertanyaan seperti ini selalu dia dapatkan ketika Bara mengantar dia sekolah. Dia akan menanyakan banyak hal sebelum masuk ke dalam mobil.
"Gak ada, Ayah. Semuanya sudah siap."
"Baiklah, Putri Ayah. Sekarang waktunya kamu masuk ke dalam mobil," Kata Bara dengan bersikap seperti pelayan setia dan membukakan mobil untuk Bia.
Bia terkekeh pelan. Namun, dia juga menundukkan tubuhnya sedikit sebagai rasa hormat.
"Terima kasih. Putri Ayah akan masuk!"
Bia dan Bara sama-sama terkekeh. Pagi yang begitu hangat tentu terasa oleh keduanya.
Suasana yang sudah lama tak pernah mereka rasakan. Suasana pagi yang selalu mereka rindukan kini mampu keduanya rasakan lagi.
"Kamu pulang jam berapa, Nak?" Tanya Bara saat kendaraan mereka mulai membelah kota Jakarta.
"Aku pulang jam lima sore, Ayah."
"Langsung pulang ke rumah?"
Bia mengangguk. "Aku takut ada panggilan operasi, Ayah. Jadi aku akan tinggal di rumah dan pulang ke rumah Ayah ketika libur. Oke?"
Bara mengangguk. Dia menoleh sekilas ke arah putrinya dan mengelus kepalanya.
Bia menoleh ke arah ayahnya. Matanya berkaca-kaca mendengar ucapan ayahnya.
Salut?
Satu hal yang membuat dirinya bangga. Satu kata yang berhasil membuat Bia sadar bahwa yang dia lakukan ternyata dipandang oleh ayahnya.
"Siap, Ayah!"
"Jangan terlalu diforsir Oke! Ayah tak mau kamu sakit!"
"Siap, Ayahku paling Bia sayang. Bia akan mendengar semua nasihat ayah!"
Akhirnya perjalanan itu perlahan berakhir. Bara berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran. Pria itu dengan cekatan juga membantu membukakan pintu untuk putrinya yang membuat Bia sadar jika ayahnya sangat mencintainya.
"Bekerja yang rajin. Lakukan pekerjaan dengan ikhlas. Ayah yakin apa yang kamu lakukan, akan menjadi berkah untuk kamu dan orang lain," Kata Bara dengan bijak yang membuat Bia mengangguk.
"Iya, Ayah. Bia kerja dulu yah!"
Bia mulai mencium punggung tangan ayahnya. Bersamaan dengan teman kerjanya yang datang didekatnya.
__ADS_1
"Bia," Panggilnya yang membuat Bis menoleh.
"Hai, Ret!" Sahut Bia pada temen kerjanya yang mungkin ya tak terlalu dekat memang.
"Oh ini… "
"Ini Ayahku," Kata Bia menjawab dan membuat Reta menangkup kedua tangannya di depan dada sebagai tanda hormat.
"Om pulang kesini?"
"Iya," Sahut Bara mengangguk.
"Bukannya Bia kemarin pu… "
"Ret ayo masuk! Ini udah mau jam mulai!" Ajak Bia yang mulai tahu pembicara temannya itu.
"Ayah, Bia berangkat dulu yah. Hati-hati di jalan. Assalamu'alaikum!" Sapa Bia lalu menarik tangan Reta agar berjalan bersamanya.
Dia tak mungkin membiarkan temannya itu mengatakan apa yang ingin dia katakan. Jika Reta sampai mengatakan, dia yakin akan menimbulkan kecurigaan. Bia sangat tahu bagaimana ayah dan ibunya.
Saat keduanya curiga. Maka Bia pastikan Ayah dan Ibunya akan mencari tahu demi kebaikannya. Bara adalah tipikal ayah posesif, yang menjadi tanda bahwa dia tak mau anaknya dalam posisi bahaya.
Dia selalu berusaha membuat anak-anaknya dalam posisi yang nyaman, tenang dan bahagia. Dia tak mau membuat anaknya dalam kondisi yang sulit. Hingga saat satu masalah mereka hadapi, Bara akan berusaha membantu sesuai dengan permintaan anak-anaknya.
"Kamu kenapa sih, Bi? Ini masih jam setengah tujuh. Belum waktunya masuk!" Kata Reta dengan mengerutkan keningnya.
"Maksud aku, Ayahku. Ayahku pasti akan ke kantor menemui kakakku. Jadi jangan bicara lama-lama dengan Ayahku!"
"Pelit banget sih! Bicara sama ayah kamu yang pembisnis hebat itu luar biasa, Bi. Bahkan aku pengen foto bareng Ayahmu. Berita suksesnya keluarga kamu itu tersebar di majalah juga."
Bia menggelengkan kepalanya. Dia heran dengan perkataan temannya itu.
"Jika ibuku tau! Kamu bakalan dipenggal!"
Reta bergidik ngeri. Dia menatap temannya itu dengan merinding.
"Ibumu bahaya juga yah. Posesif banget!"
"Jelas! Namanya aja cinta," Kata Bia dengan menahan tawa karena berhasil membuat temannya percaya dan lupa dengan apa yang hendak dia katakan.
~Bersambung
Nah kan nah kan. Udah mau keceplosan. Ini makin kesini makin mulai memasuki masalah.
Maaf kemarin aku gak update ya. dari sore aku udah ketiduran dulu. beberapa hari ini memang aku sering tidur sore karena emang udah capek sama kerjaan di real life. jadi semoga kalian memaklumi.
__ADS_1
do'ain ya, bisa update bab lagi per hari