Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Ide Gila Dhira


__ADS_3

...Dibalik sebuah masalah yang kita lakukan ada sebuah alasan kuat yang mendorong kita untuk melakukannya. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Sebuah notifikasi pesan terdengar dan membuat Bia melirik ke arah ponselnya. Matanya menatap ke arah jarum jam yang menggantung di dinding. Jam sembilan malam tapi Mas Shaka tak terlihat.


Bia menghembuskan nafasnya yang berat. Dia mengambil benda pipih itu dan menggeser layar kuncinya.


Dhira : jangan lupa pakai obat yang sudah aku siapkan, Bi. Lakukan itu malam ini. Aku ingin hasilnya segera datang dan kami bisa memeluk bayi mungil itu.


Hati Bia tersentil. Namun, mau bagaimana lagi. Bukankah ini sudah perjanjian yang ia lakukan. Perhatian Bia spontan terarah pada suara pintu yang terbuka.


Perempuan itu lekas keluar dari kamar dan melihat sosok Shaka yang baru muncul dari pintu villa.


"Mas Shaka darimana? Kenapa hujan-hujanan begini?" Kata Bia dengan khawatir.


"Apa pedulimu?" Seru Shaka dengan kesal.


"Jelas aku peduli. Kalau Mas Shaka sakit. Siapa juga yang repot? Bia kan?" Sindir Bia lalu berlari ke arah dapur dengan begitu tenangnya.


Sedangkan Shaka hanya mengepalkan tangannya. Dia benar-benar marah dengan tingkah gadis itu.


"Apa kamu tak memiliki baju lagi, hah? Kenapa kamu memakai baju itu?" Seru Shaka yang suaranya terdengar oleh Bia.


Bia datang dengan handuk di tangannya. Dia lekas menarik tangan Shaka dan memintanya duduk di sofa.


"Gak ada. Semua baju yang ada disini adalah baju pilihan Mbak Dhira. Koper dan lainnya disiapkan oleh istrimu, Mas. Jadi kalau mau protes. Ya protes ke Mbak Dhira!" Sindir Bia dengan melirik ke arah Shaka yang menatapnya penuh benci. "Diem. Aku mau ngeringin rambut kamu!"


"Gak perlu!" Seru Shaka sambil berdiri. "Jangan pernah… "


"Menyentuhku dan memegangku. Bukankah begitu?" Seru Bia mengulang perkataan Shaka.


Bia memutar matanya malas. Dia meletakkan handuk di pangkuan Shaka dengan pelan.


"Keringkan rambutmu jika tak mau sakit. Aku akan membuatkanmu teh hangat, Mas!" Kata Bia dan pergi dari sana.


Shaka terlihat marah. Dia menatap handuk yang ada di pangkuannya dengan nafasnya yang memburu. Jujur dirinya benar-benar ingin pulang.

__ADS_1


Bayangan dimana dia tadi mendapatkan panggilan dari sang istri dan Dhira mengatakan rindu. Rasanya dia ingin terbang ke Indonesia. Namun, mau bagaimana lagi. Sekarang dia harus melakukan semuanya.


Melakukan apa yang tak pernah ada dalam bayangannya tapi Shaka tak siap! Ya dia tak siap.


"Meski kamu telanjang di depanku. Aku tak akan tertarik padamu!" Seru Shaka dengan matanya yang berkilat marah.


"Cintaku hanya untuk Dhira. Hanya untuk dia dan tak ada wanita lain!"


...****************...


Di dapur.


Bia menatap sesuatu yang dibawakan oleh Dhira padanya. Nafasnya berhembus dengan berat. Hal yang tak pernah dia lakukan kini harus dia coba. Hal yang diluar keinginannya.


Namun, Dhira memaksa. Ya mau tak mau. Semuanya harus terjadi malam ini.


"Maaf, Mas. Bia melakukan ini agar semuanya cepat selesai," Kata Bia sambil memasukkan sesuatu ke dalam gelas teh hangat itu.


Setelahnya dia mengaduk teh itu lalu menyimpan obat itu ke tempat yang aman. Dirinya menghembuskan nafas berat. Tangannya berkeringat dingin.


Perlahan Bia mulai membawa teh itu ke ruang tamu. Tempat dimana Shaka terlihat hendak beranjak pergi.


"Bukan urusan kamu!" Sahut Shaka dengan ketus.


"Bukan urusan aku tapi kalau terjadi sesuatu sama kamu. Itu urusan aku juga, Mas!" Sindir Bia yang membuat Shaka membalikkan tubuhnya.


"Ini teh hangat. Diminum biar kamu gak kedinginan, Mas. Aku mau tidur!" Pamit Bia lalu meletakkan teh hanitu di atas meja.


Setelahnya dia pergi dari sana. Dia masuk ke dalam kamar dan duduk di ranjang dengan pelan. Nafasnya tak beraturan. Dirinya menatap ke arah pintu yang tertutup.


"Sebentar lagi kamu bakalan dateng padaku, Mas. Kamu akan datang sendiri karena obat itu. Maafin aku," Kata Bia perlahan sambil merebahkan dirinya dan mulai memejamkan matanya dengan pelan.


Sedangkan di ruang tamu. Benar yang dikatakan oleh Bia.


Shaka mulai merasakan sesuatu dalam dirinya. Dia merasakan tubuhnya mulai panas. Sesuatu dalam dirinya naik dengan cepat.


Pria itu mulai membuka kaosnya yang basah karena hujan. Dia melempar kaos itu di lantai dan berjalan ke arah kamar mandi yang ada di luar.


Dia membasahi rambutnya karena gerah. Namun, tak berhasil. Dia malah merasakan sesuatu dalam dirinya mulai tegang. Berdiri tegak dan membuat Shaka tanpa sadar teringat akan istrinya.

__ADS_1


Perlahan dia keluar dari kamar mandi. Berjalan ke arah kamar dimana Bia berada. Dia membuka pintu itu dan melihat seorang perempuan tertidur dengan tenang.


Dalam bayangannya, wajah Dhira memutar. Dia perlahan mendekat dan menarik tubuh itu agar berbalik padanya.


"Sayang," Panggil Shaka dengan pandangannya seperti melihat wajah Dhira.


Bia tak siap saat Shaka mulai menyerangnya. Ya pria itu naik ke atas tubuhnya dan mencium bibirnya dengan rakus. Hal itu tentu membuat Bia kesulitan bernafas.


Dia mendorong tubuh Shaka sampai ciuman itu terlepas. Bia menarik nafasnya dengan cepat. Dadanya kembang kempis berusaha menghirup udara itu agar memasuki paru-parunya.


"Maafkan aku, Sayang. Maaf," Kata Shaka dengan mengusap wajah Bia begitu lembut.


Dalam pandangan Shaka. Saat ini perempuan yang ada dibawahnya ini adalah Dhira. Wanita yang sangat dia cintai. Wanita yang merupakan istri pertamanya ah lebih tepatnya istri yang hanya dia akui.


"Maaf, Sayang. Aku terlalu bersemangat. Aku akan melakukannya lebih lembut," Kata Shaka lalu mulai mendekatkan wajahnya lagi.


Pria itu mulai mencium bibir Bia dengan lembut. Menyesapnya dengan pelan dan membuat Bia mulai terbuai. Bayangan itu kembali muncul. Dia memegang pinggang Shaka saat kenangan itu berputar dalam pikirannya.


Namun, sepertinya Shaka lebih ahli. Dia memainkan tangannya dan bergerak menggoda hingga membuat Bia tenang. Kedua tangan wanita itu juga sudah melilit di leher Shaka. Menarik pria itu agar ciuman mereka lebih dalam.


"Mmm," Gumam Bia saat Shaka mulai bermain dengan area dadanya.


Ya pria itu melakukannya dengan lembut. Bahkan saat membuka baju Bia, mencium dan mengecupi seluruh tubuhnya. Tingkah laku Shaka sangat amat tenang dan begitu memujanya.


Namun, saat pria itu mulai memasuki tubuh Bia. Hal tak terduga terjadi. Saat tubuh mereka saling bergerak. Tiba-tiba…


"Dhira… " Gumam Shaka dengan memacu tubuhnya..


Bia terdiam. Telinga itu mendengar. Mendengar setiap nama yang keluar dari bibir Shaka. Nama yang membuatnya sedikit tersentil dan sadar diri.


"Mmm Dhira, Sayang!"


Shaka langsung mencium bibir Bia dan bersamaan dengan dirinya yang mulai sampai puncak dan mengeluarkan di dalam milik istrinya yang ia yakini adalah Dhira.


Pria itu mencium bibir Bia dengan lembut dan menjauhkan wajahnya dengan pelan.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu, Dhira."


~Bersambung

__ADS_1


Inget yah, ini masih bab awal. Belum kelihatan alurnya nanti. Nebak mah boleh tapi jan terlalu juga yaww.


__ADS_2