
...Terkadang ada masa saat kita ingin mengumpulkan banyak kenangan indah bersamanya sebelum kenyataan hadir bahwa selama ini semua itu hanya bersifat fana dan sementara. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Kebahagiaan yang terasa begitu nyata. Tawa ceria dan begitu lebar itu ternyata membuat pasangan suami istri siri itu saling menatap dengan lekat. Bahkan entah bagaimana caranya, Tiba-tiba keduanya sudah berada di dalam villa.
Dengan Bia dan Shaka saling berhadapan dan menatap lekat. Tatapan keduanya beradu pandang. Ya, wajah mereka juga tanpa diduga perlahan saling berdekatan.
Hidung mancung itu saling bersentuhan satu dengan yang lain. Saling mencoba mencari sesuatu dengan terus menyentuh kan hidung mereka dan sampai akhirnya, bibi Bia dan Shaka kembali saling bertemu.
Ya mereka kembali berciuman dengan begitu pelan. Baik Bia dan Shaka terlihat mulai mencari posisi yang enak. Bia dengan kedua tangan melingkar di leher Shaka dan mengusap rambut pria itu. Sedangkan Shaka, pria itu memegang pinggang Bia dan mendorong tubuh itu ke belakang sedikit demi sedikit.
Dengan sekali gerakan, Shaka mendorong tubuh Bia sampai jatuh terduduk di sofa. Namun, ajaibnya ciuman itu tak terlepas. Ya bibir keduanya saling menyesap satu dengan yang lain.
Bahkan entah siapa yang bergerak lebih dulu. Shaka berubah dengan menarik tubuh Bia dan duduk menyandar. Lalu Bia, perempuan itu duduk dipangkuan suaminya dengan meletakkan kedua kakinya di antara tubuh kanan dan kiri Shaka.
Ciuman itu tentu semakin panas. Semakin lama semakin menuntut. Bahkan mereka sudah saling menjelajah antara satu dengan yang lain.
Ya lebih tepatnya tangan Shaka mulai membuka satu per satu baju yang dipakai oleh Bia. Dia bahkan mulai melepaskan bagian penutup atas milik istri sirinya.
Lalu wajahnya berpindah. Ya, dia menelusuri leher sangat istri dan menghirup aroma tubuh Bia dengan begitu pelan. Shaka bahkan dengan sengaja menggigit leher Bia sampai wanita itu menjerit.
"Awwww!"
Bia sampai memejamkan matanya. Tangannya terus menekan bagian kepala Shaka agar semakin dekat dengan lehernya.
Sampai akhirnya tangan Shaka memeluk punggung Bia. Menempatkan kepalanya tepat di depan dua gunung yang begitu indah dan menarik.
Tatapan itu perlahan kembali bertemu. Ya, Shaka mendongak. Dia menatap kedua mata Bia yang berkabut akan gairah.
__ADS_1
"Boleh?" Tanyanya dengan pelan.
Bia seakan terhipnotis. Lebih tepatnya kedua mata mereka yang saling menatap itu seakan mengatakan bahwa tak ada kata lagi untuk mundur.
Tak ada kata lagi untuk menyerah. Semua sudah terjadi. Bahkan terjadi tanpa adanya obat untuk kesekian kalinya. Namun, untuk pertama kali. Shaka melakukan itu dengan memandang wajahnya, dengan mata terbuka dan dengan menatap kedua bola matanya.
Hal-hal yang tak pernah ia lakukan sekarang dia lakukan sendiri. Ya semua yang hanya dilakukan untuk Dhira sekarang entah kenapa dilakukan untuk Bia.
Shaka lekas membenamkan wajahnya di puncak dada Bia. Ya pria itu bermain disana dan membuat wanita yang memang sudah berbadan dua itu semakin bergerak tak tentu arah.
Shaka yang menyerangnya dengan berlipat lipat arah. Dari atas dan bawah, tangan Shaka bermain. Ya bibirnya dan tangannya tak tinggal diam. Shaka bahkan dengan tanpa diduga sudah menarik segitiga Bermuda milik Bia dan membuat tubuh wanita itu telah polos dengan begitu polosnya.
Terpaan angin pantai yang masuk ke ruang tamu membuat Shaka mulai menggendong tubuh Bia. Dia membawa tubuh istrinya itu masuk ke dalam kamar. Ya entah kenapa dia takut ada seseorang yang melihat mereka dari luar.
"Aww!" Pekik Bia saat Shaka melemparnya ke atas ranjang.
Tatapan wajah mereka saling beradu pandang. Mata Shaka bahkan menelusuri tubuh Bia yang telah terbuka tanpa penghalang di atas ranjang.
"Mas!" Lirih Bia dengan mencoba menutupi dua gunungnya dengan kedua tangan.
Shaka lekas merangkak naik. Dia lekas berada di atas tubuh istrinya itu. Ciuman mereka bahkan kembali bertemu dan saling menutup.
Tangan Bia juga tak tinggal diam. Dia membuka baju yang dipakai oleh Shaka. Membuat tangannya bisa dengan bebas menyentuh dada bidang Shaka. Menyentuh perut kotak-kotak yang terasa dan terlihat sangat amat seksi.
Dia mengusap secara pelan yang semakin membuat sesuatu dalam diri Shaka menaik. Ah rasa ingin semakin menyelami Bia semakin besar.
Dan tanpa diduga. Shaka memutar tubuh istrinya itu. Ya dia menjauh sedikit dan memposisikan tubuh Bia agar membelakanginya. Dia menarik sedikit pantat Bia sampai akhirnya Shaka bisa melihat dua bongkahan bulat bagian tubuh istrinya itu yang sangat amat seksi.
"Tahan dan jangan sampai jatuh!" Kata Shaka berisik bersamaan dengan dirinya yang menurunkan pengaman segitiga miliknya.
Jantung Bia berdegup kencang. Ya jujur dirinya merasa deg degan sekarang. Tangannya berkeringat dingin. Namun, sesuatu dalam dirinya mulai panas.
__ADS_1
Dia mulai tak sabaran. Bahkan matanya kini terpejam saat milik Shaka mulai mengusap miliknya.
"Jangan sampai lepas atau aku akan menghukummu," Bisik Shaka dan bersamaan dengan milik pria itu mulai masuk ke dalam milik Bia.
"Bi!" Teriak Shaka tanpa diduga.
Mata Bia terbuka. Ya, wanita itu terkejut bukan main. Untuk pertama kalinya. Untuk yang pertama dalam hubungan mereka. Untuk pertama kali sepanjang mereka melakukan hubungan suami istri.
Akhirnya Shaka memanggil namanya sendiri. Akhirnya Shaka dengan kesadaran dirinya, tanpa obat memanggil namanya saya berhubungan badan.
Tubuh keduanya saling memacu. Ya, Shaka bahkan sampai memegang dua pinggul istrinya itu. Mencengkramnya dengan erat sambil saling menumbuk begitu dalam.
Keduanya benar-benar melakukan itu dengan begitu sadar. Baik Shaka maupun Bia, melakukan itu atas dasar suka sama suka.
"Mas!" Pekik Bia saat Shaka memegang lehernya.
Memutarnya sedikit untuk mencium bibirnya dan menyesal dengan begitu panas. Hal itu semakin membuat tubuh keduanya panas dingin. Bahkan Shaka semakin memacu tubuhnya dengan begitu cepat dan panas.
Entah kenapa ada sesuatu yang berbeda dari diri Shaka. Ya dia merasa ada sesuatu yang membuatnya senang kali ini.
"Awwww, Mas!"
Bia menjerit tatkala Shaka memutar tubuhnya tanpa melepas penyatuan mereka. Kini Bia ada tepat di bawah Shaka dengan pandangan mereka yang bertemu.
Tatapan mata itu saling memandang satu dengan yang lain. Wajah mereka saling berdekatan dan tanpa diduga Shaka menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Membentuk senyuman yang begitu indah dan menebar ke dalam diri Bia yang membuatnya ikut tersenyum.
"Aku hampir sampai, Bi," Bisik Shaka yang membuat dia semakin cepat memacu tubuhnya.
Tubuh Bia terlonjak lonjak. Namun, tak ada yang mau berhenti. Sampai akhirnya keduanya sama-sama menjerit dengan keras. Memanggil nama mereka dengan begitu lirih tapi masih bisa didengar sampai tubuh Shaka jatuh tepat di atas tubuh Bia dengan nafas tak beraturan.
"Terima kasih, Bi. Terima kasih."
__ADS_1
~Bersambung
Hiyaa akhirnya yakan Mas Shaka to the bucin bener ini mah. Akhh gue yang ngetik tremor woy lah.