
Terbukti apa yang kita tahu setelah melakukan semuanya adalah penyesalan yang sangat amat mendalam untuk dirasakan.
~JBlack
***
"Shaka benar-benar brengsek! Bisa-bisanya dia langsung pergi untuk bekerja tanpa istirahat," Omel Dhira dengan tangan mengaduk minuman yang ada di dalam gelas.
Dia benar-benar kesal bukan main. Berniat mengajak suaminya jalan, mencari kesenangan dan menikmati hasil dari semua rencananya. Ternyata gagal total!
Suaminya itu baru saja berangkat dan dia ditinggal sendiri di villa besar ini. Namun, tanpa sepengetahuan Dhira. Terlihat seorang pria baru saja datang dan mengendap mendekatinya.
"Sayang," Bisik pria itu sambil memeluk Dhira dari belakang.
Tentu saja perempuan yang tengah hamil itu terkejut bukan main. Dia benar-benar hampir saja menyenggol gelas yang dia pegang karena sangking kagetnya.
"Arthir!" Seru Dhira dengan menghela nafas. "Kamu ngagetin banget sih!"
Dhira memutar matanya malas. Dia meletakkan sendok itu di atas pantry dapur lalu dirinya berbalik dan berhadapan dengan kekasihnya itu.
"Kenapa kamu disini? Bukannya Mas Shaka berangkat kerja yah?" Seru Dhira dengan mengerutkan keningnya.
Arthir dengan tenangnya melingkarkan tangannya di pinggang Dhira. Menarik tubuh wanita itu agar lebih dekat dengannya lalu mencuri sebuah ciuman dari bibirnya.
__ADS_1
Ciuman itu perlahan hanya sebuah kecupan tapi semakin lama, ternyata ciuman itu berubah panas.
"Arthir!" Seru Dhira mencoba mendorong kekasihnya itu. "Jelasin dulu! Ngapain kamu disini? Kenapa kamu gak ikut Mas Shaka bekerja?"
Dhira benar-benar heran dengan kekasihnya itu. Arthir sangat amat tenang dengan urusan pekerjaan. Ya, pria itu selalu menganggap enteng semuanya.
Tak pernah ada pembahasan berat dengan Arthir. Namun, pria itu juga memiliki tempramental yang tinggi.
"Aku pulang karena pamit pada Shaka kepalaku sakit," Kata Arthir menjelaskan. "Toh Shaka benar-benar gila kerja. Kita sepakat untuk bekerja mulai besok, lalu kenapa dia mulai sekarang?"
Arthir mengomel. Dia benar-benar memilki dendam pribadi dengan adiknya itu. Dirinya yang selalu dibandingkan dengan Shaka, membuat lambat lain perasaan dirinya mulai membenci adiknya.
"Kamu nakal yah," Seru Dhira dengan tersenyum licik.
Perlahan tangan Arthir mulai mengusap paha Dhira. Wanita yang saat itu tengah memakai daster selutut itu lambat laun tentu terangkat dan menampakkan pahanya yang mulus.
"Arthir jangan aneh-aneh. Jangan melakukan disini! Ini… "
Terlambat.
Ahhh bibir Arthir sudah mencium bibir Dhira lebih dulu. Pria itu benar-benar menciumnya dengan panas. Sepertinya Arthir sudah tak tahan lagi untuk menahannya.
Bayangkan saja, dari mobil saat berangkat tadi dia harus melihat tubuh kekasihnya yang memakai dress pendek itu menampilkan perutnya yang mulai membuncit membuatnya bergairah. Ahh penampilan Dhira yang seperti itu membuatnya ingin segera menyerang kekasihnya.
__ADS_1
Namun, karena ada Shaka di antara mereka. Karena ada Shaka yang menghalangi. Membuat dirinya harus menahan sebaik mungkin.
"Sayang!" Pekik Dhira saat Arthir sudah membuka bagian depan dasternya dan mulai bertingkah bak bayi kehausan.
Tingkah keduanya ini benar-benar menjijikkan. Mereka bahkan melakukan hal yang tidak pantas di depan ruangan seperti ini.
Namun, percayalah, apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Jika kita memulai semuanya dengan hal jahat, maka hal jahat itulah yang menjadi bumerang.
Jika kita memulai semuanya dengan hal yang tan pantas. Maka hal yang tak pantas itu akan menjadi bumerang besar untuk mereka.
Dan benar saja, sekarang…
Pyarrr!
Bunyi pecahan kaca itu membuat Arthir yang saat itu sedang menyesap gundukan Dhira tentu langsung melepaskannya. Begitupun dengan ibu hamil itu. Dia yang sedang menikmati spontan terkejut dan mencari asal suara.
Deg.
Jantung keduanya berdegup kencang saat matanya menatap ke ujung ruangan dan disana. Terlihat Shaka tengah berdiri dengan nafas berat dan dada kembang kempis serta wajahnya yang memerah menahan amarah.
"Mas Shaka, aku bisa jelasin semuanya… "
~Bersambung
__ADS_1