
...Aku bukanlah wanita yang hanya bisa diam setelah melihat keburukannya. Aku tak mungkin menyerahkan anak yang begitu gak berdosa pada seseorang yang mungkin entah bisa menjaganya atau tidak. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Dhira!" Kata Shaka melerai.
Dia tak akan membiarkan sesuatu terjadi di antara keduanya. Ya, Shaka mulai menyadari satu hal jika dia sangat peduli pada Bia. Dia tak mau Dhira melakukan hal buruk pada istri keduanya itu.
Shaka tak mau hal nekat dilakukan oleh Dhira pada Bia dan membuatnya harus berusaha bertahan di samping Dhira. Dia tak boleh egois, keselamatan anak dan istrinya Bia itu sangat terancam jika dia gegabah.
"Cukup! Jangan saling bertengkar. Ingat! Kalian berdua sedang hamil dan jangan buat anakku tertekan di dalam sana!" Lanjut Shaka yang membuat Bia menarik nafasnya begitu dalam.
Perempuan itu benar-benar berusaha untuk tenang. Dia tak boleh terbawa oleh arus. Bia harus bermain cantik. Dia tak boleh ikutan panas seperti Dhira.
Wanita itu licik. Dhira bermain sangat rapi dan membuat Bia harus mengikuti cara wanita itu menyelesaikan masalah ini.
"Bagaimanapun anak itu anakku dan Mas Shaka, Bi! Jangan lupa! Kamu menikah dengan Mas Shaka untuk memberikan anak itu kepada kami! Aku ingatkan kau sekali lagi! Kau ada disini, untuk hamil dan memberikan kami berdua keturunan!"
__ADS_1
Dhira mengatakan itu dengan lumayan keras. Hingga beberapa orang di sekitar mereka melihat ke arah mereka. Hal itu tentu membuat Bia berusaha lagi dan lagi menahan amarahnya.
Rasanya wanita di depannya ini apa tak memiliki kaca. Menurut Bia, Dhira seharusnya berkaca pada dirinya sendiri daripada harus mendekte orang lain.
"Aku tau, Mbak. Bahkan aku ingat jika aku disini! Dinikahi oleh Mas Shaka untuk memberikan kalian berdua anak. Tapi… " Jeda Bia dan menunjuk perut Dhira dengan telunjuknya. "Dalam perjanjian tak ada kejadian seperti sekarang. Mbak Dhira hamil bersamaan denganku."
"Itu sama saja! Dia tetap menjadi milikku!" Kata Dhira yang membuat Bia mengangkat salah satu kakinya dan menatap ke arah Shaka.
"Mas Shaka boleh Bia minta tolong?"
"Tentu. Apa, Bi?"
Shaka yang memang sudah menaruh rasa pada Bia mengangguk. Dia lekas beranjak berdiri dan meninggalkan dua wanita yang tenang bersitegang itu.
Sebenarnya ini adalah cara khusus Bia untuk bisa bicara berdua. Wanita itu benar-benar sangat ingin berbicara face to face dengan Dhira sekarang
Agar wanita itu tau! Jika Bia memiliki kartu Asnya.
"Mbak Dhira yakin ingin anak ini juga?" Tanya Bia setelah Shaka berjalan ke arah meja penjual.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Dhira dengan emosi yang benar-benar dipermainkan.
"Mbak Dhira yakin bisa mengurus dua bayi kecil di tambah satu bayi besar yang sangat manja?"
Dhira melipat kedua tangannya di depan dada. Dia membusungkan dadanya begitu sombong dan angkuh.
"Meski tiga atau empat bayi aku sanggup! Jangan meremehkanku, Bia!"
"Aku tak meremehkan, Mbak Dhira!" Kata Bia dengan melipat kedua tangannya didepan dada sambil melirik ke arah Shaka yang masih menunggu. "Aku bahkan sangat mengerti, mengurus dua lelaki saja, Mbak Dhira sanggup!"
"Oh aku keceplosan?" Kata Bia menutup mulutnya.
"Kau, Bi!"
"Benar, 'kan?" Kata Bia dengan senyuman mengejek. "Mengurus adik kakak yang begitu manja padamu saja. Kau bisa, Mbak? Apalagi dua bayi, bukan?"
~Bersambung
Bibirnya Mbak Bia makin tajem nih. Mau update lagi gak?
__ADS_1