Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Talak!


__ADS_3

Terkadang Tuhan akan menunjukkan semuanya ketika kau sudah berada di ujung akhir dari perjalananmu.


~JBlack


***


Setelah berbelanja apa yang sudah dia butuhkan. Kini saatnya Shaka memberikan belanjaan ke kasir. Sambil menunggu kasir mengecek belanjaan dirinya. Shaka tentu langsung merogoh saku celananya. Berniat mengambil dompet miliknya.


Namun, Shaka tak mendapatkannya. Ya dia tak menemukan dompet miliknya di seluruh celana ataupun saku jaketnya.


Hingga tiba-tiba ingatannya kembali ke dalam mobil. Saat dirinya mengambil ponsel miliknya. Dompet yang ada di saku celananya ikut dia keluarkan dan dia letakkan di dashboard mobil.


"Mbak, tolong scan ini dulu ya. Saya mau ambil dompet sebentar," Pamit Shaka dengan wajah tak enak hati karena lupa dompetnya tak ia bawa.


"Iya," Sahut Kasir dengan mengangguk lalu membiarkan Shaka segera keluar dari minimarket itu dan berjalan ke arah mobil.


Entah kenapa semakin dekat dengan mobil, jantung Shaka berdegup kencang. Dia yang memakai sepatu sport membuat langkah kakinya tak terdengar. Semakin dekat, Shaka semakin bisa melihat isi mobil dari jendela mobil.


Apalagi saat ini, Shaka membawa mobil yang jendelanya tak hitam. Maka dari jauh pun, dia mampu melihat keadaan di dalam.


Semakin langkah kakinya dekat, Shaka semakin curiga.. Ahh curiga dengan apa yang dia lihat. Bahkan dirinya masih berusaha tetap tenang. Jantungnya tentu berdegup kencang.


Sangat amat kencang dan dia takut jika apa yang dia lihat dan ada di otaknya benar-benar terjadi. Maka dari itu, Shaka memilih bergerak ke samping. Bersembunyi di balik mobil yang parkir di samping mobilnya dan bergerak ke belakang.


Dia berusaha menarik nafasnya dengan dalam. Menatap kedua telapak tangannya yang berkeringat dingin.


"Jangan sampai apa yang kulihat hari ini, benar terjadi Tuhan. Aku benar-benar akan membenci takdir semacam ini," Lirih Shaka masih berusaha percaya dengan apa yang ada dalam dirinya.


Dia lekas berjalan ke belakang mobilnya. Mencoba melihat dari celah jendela mobil untuk melihat lebih jelasnya.


Dan akhirnya…

__ADS_1


Duarrrr.


Bak bom atom yang benar-benar membuatnya hampir saja terjatuh. Disana istrinya, istri yang sangat dia cintai, istri yang selalu dituruti kemauannya ternyata tak lebih ubahnya wanita yang paling menorehkan luka di hatinya.


Hingga hal itulah yang membuat Shaka melakukan ini. Ya dia ingin memancing keduanya agar mampu memergokinya. Hingga tibalah masa itu.


Masa dimana dia tahu semaunya.


"Mas," Panggil Dhira lagi sambil merapikan bajunya dan turun dari pantry dapur.


"Ka. Kakak… "


"Cukup!" Kata Shaka dengan memajukan tangannya dan meminta keduanya menghentikan ocehan lagi.


"Biarkan aku yang bicara sekarang," Kata Shaka dengan tatapan mata yang benar-benar menunjukkan bahwa dia kecewa.


Ya dia tentu merasa terkhianati. Dia merasa sakit yang tak bisa dijabarkan.


Shaka bergerak lebih dekat. Dia berjalan ke arah istrinya yang berdiri dengan dada kembang kempis. Shaka hanya mampu tersenyum dengan pedih.


Ya bukan senyuman bahagia. Bukan senyuman yang murni untuk kebahagiaan. Melainkan senyuman yang mengandung kepedihan. Senyuman yang benar-benar mengandung bagaimana seseorang kecewa begitu mendalam.


"Dhir," Panggil Shaka sambil mengangkat tangannya dan merapikan baju istrinya itu. "Jangan lakukan ini lagi yah."


Shaka mengatakan itu dengan pelan. Dia bahkan mengusap kepala Dhira dengan lembut setelah baju wanita yang masih menjadi istrinya itu sudah dia rapikan.


"Jika kamu merasa tak nyaman bersamaku atau kamu sudah bosan. Katakan! Jangan pernah bermain seperti ini lagi," Kata Shaka dengan serius tapi bibirnya masih bisa memberikan senyuman.


"Mas. Aku… "


"Aku tau ini salahku," Jawab Shaka menyela. "Maaf jika selama menjadi suami, aku banyak kurangnya. Maaf jika aku tak bisa melakukan apa yang kamu mau. Tapi… "

__ADS_1


"Sekarang, aku berharap kamu bahagia dengan pilihan kamu."


"Mas. Aku… "


"Jangan mengatakan apapun lagi. Ini saja sudah cukup membuatku sakit," Jawab Shaka dengan pelan dan benar-benar tak mengizinkan Dhira mengatakan apapun. "Setelah anak ini lahir, aku akan mengurus surat perceraian kita yah. Aku akan membebaskan kamu dari pria buruk sepertiku!"


Shaka mengatakan itu dengan tenang. Dia memberikan sentuhan terakhir yaitu mengusap rambut istrinya sekali lagi sebelum dirinya berjalan dan mendekat ke arah kakaknya.


"Ka… "


"Tolong jaga Dhira untukku ya, Kak. Aku tau ini sudah menjadi pilihan kalian. Aku yakin kamu bisa membahagiakan Dhira."


"Ka… Aku!"


"Jangan katakan apapun. Aku akan mengurus semuanya dan yah… "


Shaka berjalan menjauh. Dirinya menatap pasangan di depannya ini dengan pandangan yang benar-benar tak ada kebahagiaan apapun.


"Aku akan membawa masalah ini ke hukum. Aku akan mengurus semuanya dan yah, jangan datang lagi ke kehidupanku! dan kau, Kak Arthir."


Shaka menunjuk kakaknya itu. Dia menatap pria dengan wajah yang tak memiliki kemiripan dengannya sedikitpun.


"Tak perlu datang ke perusahaan lagi. Aku akan mengatakan pada orang tua kita. Jika aku bisa mengurus perusahaan sendiri tanpa bantuan siapapun!"


Setelah mengatakan itu. Shaka lekas berbalik. Dirinya mengambi kunci mobil dan hendak pergi.


"Kamu mau kemana, Mas! Nggak! Aku gak mau cerai sama kamu!" Teriak Dhira dengan histeris.


Shaka menghentikan langkahnya. Dia lekas berbalik dan menatap ke arah Dhira dengan lekat.


"Aku akan mengejar wanita yang aku cintai. Wanita yang benar-benar mengandung darah dagingku. Wanita yang begitu mencintaiku melebihi dirinya sendiri. Ya, dia Bia. Biaku tersayang."

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2