Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Saksi Bisu Ruang Tamu


__ADS_3

...Terkadang apa yang tak pernah ada dalam bayangan mampu terjadi tanpa disengaja. Perasaan itu tumbuh tanpa diduga dan tanpa dirasakan di antara keduanya. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Entah kenapa ucapan Shak mampu membuat jantung Bia seakan hendak berhenti berdetak. Dia bisa melihat kabur gairah disana. Kabut cinta yang selama ini keduanya rasakan ketika saling berbagi kenikmatan.


Kebersamaan mereka yang intens. Bia yang menurut dan juga kenangan mereka di Singapura membuat hubungan keduanya tanpa sadar semakin dekat dan intens.


"Aku tak mungkin memperkosamu dalam keadaan tidur, Bi," Lirih Shaka sambil mengusap kedua sisi wajah Bia dengan tangannya.


Pandangan keduanya beradu pandang. Jujur baik Shaka maupun Bia benar-benar saling berlomba jantungnya.


Degup jantung itu seakan saling sama-sama merasakan. Hingga tanpa diduga, tanpa kata, Shaka dan Bia saling mendekat. Keduanya langsung menerkam bibir mereka untuk saling berciuman. Baik suami dan istri itu tak ada yang mengalah.


Bia memegang kedua sisi wajah Shaka agar semakin mendekat. Sedangkan Shaka, pria itu menekan tengkuk istrinya hingga ciuman mereka mulai menuntut.


Tubuh keduanya yang terasa tak nyaman membuat Bia perlahan bergerak dari atas tubuh Shaka. Ibu hamil itu mengangkat tubuhnya dan ajaib ciuman itu tak dilepas oleh Shaka.


Ya keduanya akhirnya mampu berdiri dari sofa. Tangan Shaka bahkan sampai melingkar di pinggang Bia saat tubuh keduanya yang tak mau saling berjauhan


Sepertinya pagi ini benar-benar akan menjadi pagi yang panas. Sepertinya dua manusia ini benar-benar saling membutuhkan dan menghangatkan satu dengan yang lain.


Kebersamaan, perhatian Bia, kasih sayang ibu hamil itu membuat perasaan Shaka yang semula kaku mulai mengendur.


Bia mendorong tubuh Shaka sampai menempel di dinding. Entah sejak kapan kaki mereka saling melangkah. Mencoba mencari tempat atau situasi yang nyaman untuk keduanya.


Ahh sepertinya keduanya akan melakukan itu disini. Di ruang tamu yang begitu nyaman dan luas.

__ADS_1


Ciuman itu semakin menuntut. Saliva keduanya sudah belepotan. Baik Shaka dan Bia mereka semakin menggila. Tak membiarkan bibir mereka terlepas hanya untuk mengisi pasokan oksigen. Hingga saat mereka sudah tak kuat, bibir mereka dilepas dengan tidak ikhlas.


Kabut gairah sudah memenuhi keduanya. Nafas mereka terengah-engah tak memberi jeda lagi, mereka kembali memagut merenggut indahnya bibir keduanya dengan tangan mulai menari ke sana kemari.


Saat Bia merasakan sebuah genggaman kuat di area bukitnya. Perempuan itu melepaskan pagutannya. Dia menggigit bibirnya karena takut akan membuatnya mengeluarkan suara desah yang sangat indah.


"Maafkan aku, Bi! Aku meminta hakku pagi ini. Apa boleh," bisik Shaka lalu menyerukan kepalanya di leher sang istri.


Jujur Shaka benar-benar masih menghargai seorang Bia. Perasaan ibu hamil satu ini begitu hangat. Dia tak percaya disaat Shaka yang sudah sangat amat bernafsu ternyata masih memikirkan dirinya.


Memikirkan apa dia bersedia memberikan haknya. Apakah Bia bersedia melayaninya. Apakah Bia bersedia melakukan itu pagi ini.


Hal kecil inilah yang semakin membuat Bia tanpa sadar semakin mencintai Shaka. Hal kecil inilah yang membuat hidup Bia ternyata masih berarti untuk orang lain.


Bia mencengkram kepala sang suami. Mengusap rambutnya saat bibir Shaka menyesap lehernya dan ia yakini meninggalkan bekas kemerahan di sana. Hingga tak lama, tubuh mereka memutar. Sosok Shaka menunduk. Dia mulai menjelajahi area bukit dengan diikuti bibir yang saling berlomba bak layaknya seorang bayi.


"Mas!" pekik Bia pelan dengan menatap suaminya yang panas.


Shaka melanjutkan aksinya. Pria itu menyejajarkan kepalanya dengan lembah basah dan wangi menggoda. Dia membuka lipatan itu hingga jarinya mulai menusuk dan membuat Bia menjerit indah.


Shaka mulai menggerakkan jemari tersebut. Membiarkan istrinya memohon untuk dimasuki hingga sampai tubuh wanita itu menegang dan mengeluarkan cairan kenikmatan miliknya.


"Jawab dulu pertanyaanku, Bi. Apa boleh?" Tanya Shaka lagi yang membuat Bia menatap Shaka dengan pelan.


Tatapan wanita itu sudah satu. Rasa nafsunya sudah memenuhi pikiran ibu hamil satu ini. Bia benar-benar dibuat gila oleh Shaka pagi ini.


"Aku mau, Mas. Aku juga ikhlas memberikan hak untukmu pagi ini," Lirih Bia pelan yang membuat senyuman Shaka begitu terlihat pagi ini.


Dibalik semua hal yang terjadi. Dibalik semua hal yang tak tahu akan berakhir menjadi apa. Bia hanya ingin menciptakan kenangan indah di antara keduanya. Dia ingin memberikan dan mewujudkan kenangan yang tak akan pernah keduanya lupakan.

__ADS_1


Mungkin terdengar sedikit egois. Namun, Bia mulai memikirkan dirinya. Setidaknya sampai dirinya melahirkan ia akan mencoba menjadi Bia yang menumpuk kenangan dengan pria yang memenuhi isi hatinya.


Dia akan mencoba memberikan yang terbaik untuk Shaka. Dia akan mencoba memberikan apa yang pria itu inginkan darinya.


Sedangkan Shaka itu seakan mendapatkan kejutan indah. Pria itu seakan mendapatkan angin segar mendengar jawaban dari istri sirinya itu. Sebuah kalimat yang sangat amat dinanti oleh Shaka.


Kalimat yang membuatnya memiliki lampu hijau. Kalimat yang membuat dirinya berhasil mendapatkan izin dari istrinya itu untuk menggaulinya.


"Apa kamu sudah siap, Bi?" bisik Shaka yang sudah beranjak berdiri.


Bia menatap sayu sang suami. Apalagi ketika Shaka mulai memegang salah satu kaki Bia dan meletakkannya di pinggang. Kemudian dengan pasti, calon ayah itu mulai memasukkan senjata miliknya hingga masuk dengan sempurna di lembah sempit yang sangat membuatnya candu.


Mata Shaka terpejam saat miliknya diremas dengan kuat. Hingga akhirnya pria itu tak dapat menahan lagi. Shaka mulai menggerakkan tubuh miliknya hingga membuat mereka saling menatap penuh cinta.


Peluh mulai membasahi tubuh keduanya. Bahkan Bia sampai melingkarkan tangannya di leher sang suami lalu memagut bibir itu lagi.


Mereka berpacu semakin cepat. Mencoba mencapai gols indah di bagian puncak akhir. Bibir mereka saling mengeluh diiringi suara teriakan kenikmatan saat milik Shaka dan milik Bia mulai menyemburkan cairan yang akan menghasilkan bibit unggul di antara keduanya.


Kedua bibir mereka saling tersenyum. Shaka dan Bia saling menatap dengan membiarkan bagian bawah mereka masih menyatu. Rasa puas dengan tatapan penuh gairah membara itu terlihat di mata keduanya.


Pagi yang indah. Ruang tamu yang menjadi saksi kunci. Perasaan hangat yang tanpa keduanya sadari semakin membuat mereka tak bisa terlepas antara satu dengan yang lain.


"Terima kasih, Bi. Terima kasih sudah melayaniku dengan baik dan memberikan hakku dengan sempurna, Sayang."


~Bersambung


Hua jantungku. aku yang nulis aku yang baper. gak salah kan mas, manggil Bia sayang?


kepalanya lagi gak kepentok kan?

__ADS_1


__ADS_2