Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Menikahlah Denganku!


__ADS_3

...Pengalaman di masa lalu. Apa yang menimpa dirinya di masa dulu dan sekarang. Semuanya akan menjadi sebuah pengalaman dan pelajaran yang terbaik untuk menjadi sosok yang lebih baik. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


"Sakit yang mamamu rasakan bukan karma, Sem. Tapi Tuhan sedang membersihkan dosa yang dibuat mamamu selama hidup. Jangan berpikir karma seseorang yang kamu buat terjadi pada orang disekitarmu. Itu tak mungkin," Kata Bia dengan bijak.


Semua menoleh ke samping. Dia menatap ke arah Bia yang menatapnya dengan lekat.


"Mungkin aku tak bisa melupakan semua yang terjadi tapi tak sedikitpun aku hendak mendoakanmu jelek, hal itu tak pernah terlintas dalam otakku, Sem!"


Apa yang Bia katakan memang benar. Di memang benci pada Semi. Perempuan itu bahkan sangat tak mau bertemu dan mengenal Semi lagi. Seakan semua yang terjadi padanya benar-benar menyakitkan hatinya dan dirinya.


"Kamu adalah wanita yang baik, Bi. Aku malu padamu," Kata Semi dengan pelan.


Dia menatap ke samping. Menatap hamparan taman rumah sakit dengan pandangan suram. Dia benar-benar menyesali semuanya.


"Aku memang baik tapi tak selamanya hal baik membuat mereka menerimaku yang sudah rusak!"


Telak.


Perkataan kecil yang menusuk hati Semi. Pria itu menatap ke arah Bia yang menatap ke depan dengan pandangan kosong.


Dia sangat tahu maksud yang dikatakan Bia. Perempuan seperti sebuah kaca. Sekali dia rusak, tak akan pernah bisa kembali seperti semula. Dia tak akan bisa diobati, direkatkan agar kembali seperti awal pertama.


Ketika dia jatuh dan hancur, maka dia akan rusak selamanya. Memang bisa diobati tapi akan banyak retakan yang terlihat disana.


"Bi… "


"Aku hanya mendeskripsikan diriku, Sem," Kata Bia dengan jujur. "Aku tak menyindirmu?"


Tak ada perkataan apapun. Keduanya saling diam seakan saling menikmati heningnya taman dengan segarnya angin yang menerpa wajah mereka.


Keduanya benar-benar seakan saling memikirkan apa yang terjadi di antara keduanya. Masa lalu, masa depan dan masa sekarang.


"Menikahlah denganku, Bi!" Kata Semi tiba-tiba yang membuat jantung Bia berdegup kencang.


Bukan jatuh cinta. Bukan perasaan berdebar. Melainkan kaget bercampur terkejut yang sangat amat besar.

__ADS_1


"Menikahlah denganku. Aku benar-benar menunggumu selama ini. Aku mencarimu dan ingin bertemu denganmu, Bi. Tapi, setelah kejadian itu, kakakmu dan keluargamu benar-benar menyembunyikanmu dengan baik dan keluargaku juga membawaku pergi dari rumah itu," Kata Semi dengan pandangan menyesal.


"Sem… " Lirih Bia dengan pandangan tak percaya.


"Aku serius, Bi. Bukan ingin tanggung jawab karena masalah itu. Tapi aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu setelah kejadian itu. Wajahmu tak bisa kulupakan bahkan…"


"Cukup!" Kata Bia menyela dengan cepat.


Dia tak mau semakin mendengar semuanya. Dia tak mau mendengar lelucon macam gila seperti ini. Saat ini, Bia adalah status istri orang. Meski menikah siri. Namun, dalam agama semuanya tetap sama dan Bia sangat memegang hal itu.


"Kenapa, Bi? Kau masih sendiri bukan? Aku ingin menikah denganmu. Aku serius!" Kata Semi tak mau kalah.


Bia terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia benar-benar masih terkejut. Terkejut dengan apa yang dilakukan pria di sampingnya ini.


"Plis, Bi. Terimalah lamaranku. Aku benar-benar mencintaimu. Berikan aku waktu menebus semuanya, Bi. Menebus semuanya," Pinta Semu memohon.


Bia terlihat mulai pusing. Dia menunduk sambil mengatur nafasnya yang mulai sesak. Dia benar-benar tau jika Semi tak bercanda.


Dari suara pria itu. Tatapan mata pria itu dan semua yang dia lakukan sekarang berbeda dengan masa lalu.


Tak ada Semi yang kasar. Tak ada Semi yang jahat. Saat ini yang ada di sampingnya, pria yang duduk tepat di sebelahnya. Pria dengan segala hal yang berbeda adalah pria yang merenggut masa depannya.


"Aku sudah menikah, Sem!"


"Ya. Aku sudah menikah, Sem," Kata Bia dengan lirih.


Wanita itu tak mau memberikan harapan palsu. Wanita itu tak mau memberikan apa yang selama ini tak ia rasakan. Dia tak mencintai Semi. Bahkan tak menaruh harapan cinta apapun.


"Gak mungkin!"


"Kenapa gak mungkin!"


"Kata-katamu tadi?"


"Hanya sebuah motivasi," Ujar Bia dengan mencoba menahan semuanya.


"Aku tak percaya. Aku yakin kau bohong, Bi. Kau masih sendiri. Kau… "


"Aku juga sedang hamil. Aku hamil anakku dan anak suamiku!"

__ADS_1


Wajah Semi memucat. Pria itu menunduk dan menatap ke arah perut Bia yang ada dibalik bajunya Semi seakan mampu melihat semuanya.


Melihat perut itu dengan mata batinnya!


"Aku tak percaya!"


"Aku tak butuh kau percaya atau nggak, Sem!" Kata Bia dengan marah. "Yang pasti, aku sudah menikah dan sedang hamil."


Semi terlihat marah. Dia mengepalkan tangannya. Namun, sebisa mungkin pria itu menahan amarahnya.


Semi mencoba mengatur nafasnya. Dia berusaha menjadi tenang. Pria itu tak mau membuat Bia takut kepadanya. Semi tak mau membuat Bia tak nyaman dengannya.


"Aku akan pulang!" Pamit Bia dengan beranjak berdiri.


Semi ikut beranjak berdiri. Dia menatap Bia yang juga berhadapan dengannya.


"Aku pulang. Kamu segera kembali ke kamar mamamu, Sem. Aku titip salam!" Kata Bia lalu mulai berbalik.


Saat Bia mulai melangkah beberapa langkah. Tiba-tiba suara Semu membuat langkah kakinya berhenti.


"Aku akan menunggumu, Bi. Aku akan disini untuk menunggumu. Datanglah ke padaku jika kau butuh bantuan. Aku akan siap membantumu!"


Air mata Bia menetes mengingat itu. Kepalanya memutar ke kejadian tadi. Ingatannya seakan begitu menyimpan perkataan Semi kepadanya.


Bia mencoba mengatur nafasnya. Dia tak boleh stress seperti ini. Dia harus ingat anak yang dia kandung. Dia tak boleh egois dan membuat Bia perlahan beranjak berdiri.


Bia berpegangan di pintu. Setelah itu Bia lekas berjalan dengan pelan menuju pintu penghubung antara kamarnya dan taman. Meski lantai satu, semua kamarnya dia berikan balkon agar bisa santai dan menikmati indahnya taman yang ia rangkai dan ia buat sendiri.


"Apa aku pantas?" Gumam Bia dalam hati.


Pria itu menatap ke depan. Dia mengangkat tangannya dan mengusap perutnya yang masih rata.


"Setelah anak ini lahir. Saat itulah kontrak ini selesai. Aku akan pergi yang jauh dan meninggalkan anak ini dengan Mas Shaka dan Mbak Dhira," Lirih Bia dengan membayangkan hal itu.


"Lalu bagaimana kehidupanku?" Kata Bia pada dirinya sendiri.


Matanya menatap ke depan. Dia mencoba menatap hijaunya dedaunan. Segarnya angin di kamarnya dan juga suara kicau burung yang terbang di pohon-pohon di dekat rumahnya.


"Apa Semi benar-benar menerimaku nanti? Apa aku menerima lamarannya, demi menutupi semua ini dari Ibu dan Ayah?"

__ADS_1


~Bersambung


Hua Semi gercep juga. Terima aja deh, Bi! Biar babang Shaka makin ngereog hahaha


__ADS_2