Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Bia VS Pria Perenggut Kehormatannya


__ADS_3

...Ketakutan itu muncul secara tiba-tiba dan membuatku sadar bahwa sepahit itu masa lalumu untukku. ...


...~JBlack...


...****************...


"Nggak… nggak!" Kata Bia lalu pergi dari sana dan mencoba berlari.


Bia benar-benar berjalan dengan cepat. Sesekali dia melihat ke belakang. Tubuhnya ketakutan, bayangan di masa lalu itu seakan memutar. Dia masih sangat ingat betul wajahnya, suaranya dan bagaimana mata itu menatapnya.


"Jangan… Jangan!"


"Bi!"


Ah pria itu mengikuti. Ya dia benar-benar mengikuti langkah kaki Bia. Sampai tanpa sadar, langkah kaki Bia membawanya ke arah belakang rumah sakit.


Bia hanya mencari celah dimana dia bisa berlari dan membuatnya ada disini.


"Berhentilah, Bi! Aku hanya ingin bicara denganmu. Sebentar sebentar saja!"


"Nggak! Aku nggak mau. Pergi kau! Pergi kau Semi!" Teriak Bia dengan suara yang bergetar.


Bia tak melihat apa yang dia pijaki. Apa yang bisa membuatnya menjauh dari pria itu. Dia lakukan. Tak pandang kanan kiri. Bia hanya ingin tak melihat pria itu. Dia benar-benar belum siap.


Bia belum siap dengan semuanya. Belum siap dengan pertemuan ini. Belum siap dengan semua yang pernah terjadi di antara mereka. Semua yang terjadi di masa lalu. Sakit hati, pelampiasan, kekecewaan semuanya berkumpul menjadi satu.


Ini sangat menyakitkan! Sangat sangat membuatnya hancur.


"Jangan kumohon!"


Sampai akhirnya saat Bia mulai melangkah melewati perbatasan lantai rumah sakit dan tanah. Tiba-tiba…


"Akhh!" Pekik Bia dengan ketakutan.


"Awas!" Teriak pria itu menarik lengan Bia dan menangkapnya.


Akhirnya mata itu kembali bertemu. Akhirnya pria itu memeluk pinggang Bia agar tak jatuh.


Sedangkan Bia, perempuan itu benar-benar merasa takut. Bahkan matanya ditutup saat kakinya terasa terpeleset. Dia sudah memikirkan untuk jatuh. Bahkan dia berpikir dirinya mungkin akan berguling. Namun, ternyata hal itu tak terjadi.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja, Bi?"


Deg.


Jantung Bia berdegup kencang. Aroma tubuh ini juga bukannya membuat hatinya berdesir melainkan dia mulai bergetar.


"Lepaskan aku!" Pinta Bia dengan lirih yang membuat pria itu membantu Bia berdiri lalu melepaskan rangkulannya.


Air mata Bia tanpa sadar menetes. Perempuan itu menghapus air matanya dan menatap ke yang lain. Dia tak mau menatap ke arah pria itu karena selalu mengingatkan bayangan dimana ketika dia meminta jangan diteruskan tapi dengan jahat pria itu meneruskan tingkah jahanamnya.


"Izinkan aku bicara padamu sebentar saja, Bi. Hanya sebentar setelah itu kau boleh pergi!" Kata pria itu dengan suara yang berat.


Bia tak menoleh. Dia menggenggam kedua tangannya berusaha menetralkan dirinya yang masih dipenuhi rasa takut pada orang disampingnya.


"Jika kau tak mau menatapku, boleh. Jika kau tak mau bicara juga, boleh. Tapi izinkan aku meminta waktuku sebentar disini. Dengarkan saja!" Pinta pria itu yang benar-benar menunjukkan suara penuh penyesalan.


Bia masih tetap pada posisinya. Dia berdiri sambil membelakangi tubuh pria itu. Ibu hamil itu hanya menyentuh tangannya di atas perutnya. Dengan mengusapnya dan mengucapkan kata maaf dalam hati.


Bia benar-benar menyesal hampir mencelakai anaknya sendiri. Bia benar-benar menyesal dan tak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu padanya dan anak yang dia kandung.


"Aku minta maaf atas kesalahanku dulu, Bi," Lirih pria itu dengan pelan. "Mungkin tak bisa dilupakan untuk kita tapi aku benar-benar menyesal."


"Aku mencarimu kemanapun. Bahkan ke rumah kakakmu tapi kosong. Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian itu meski tak bisa mengembalikan semuanya seperti awal."


"Untuk apa kau mengatakan itu jika tak bisa kembali seperti awal? Semuanya sudah hancur setelah kau memaksa semuanya," Lirih Bia menyahut dengan pundak bergetar dan air mata yang menetes.


Perempuan itu memegang perutnya dengan kepala menunduk. Dia benar-benar ingin berteriak di depan pria itu. Dia ingin berteriak mengatakan semua yang dia katakan percuma! Karena tak bisa mengembalikan apapun lagi.


Kebahagiaan dirinya, mahkotanya, bahagianya di masa lalu dan masa depannya. Semuanya telah hancur lebur karena masa itu. Masa dimana hal masa depan yang indah mulai hancur.


"Karena aku merasa semua kesalahanku padamu kini dirasakan oleh mamaku," Lirihnya yang membuat kepala Bia terangkat. "Mamaku divonis kanker stadium akhir."


Deg.


Jantung Bia mencelos. Bahkan wanita itu sampai menahan napas. Tanpa sadar rasa takut yang tadinya memenuhi hatinya mulai beralih dengan rasa simpati.


Bahkan tanpa sadar tubuh Bia memutar dan menatap ke arah pria yang menunduk sambil mengusap air matanya.


"Mamaku divonis terkena kanker payudara sekitar enam bulan yang lalu. Saat itu aku baru tau, Mamaku punya penyakit itu."

__ADS_1


"Melihatnya kesakitan. Membuatku ingat padamu dan akhirnya aku mencarimu untuk meminta maaf dengan tulus."


"Aku pria berdosa, Bi. Tapi aku hanya ingin bertanggung jawab. Aku ingin bertanggung jawab atas apa yang pernah aku lakukan padamu."


Air mata Bia benar-benar mengalir dengan deras. Dia menatap Pria itu yang mulai menurunkan tubuhnya. Menumpu tubuhnya dengan berlutut lalu tanpa sadar perlahan Semi hendak mencium kaki Bia tapi Bia lekas menahannya.


"Jangan! Jangan!" Kata Bia dengan memegang kedua pundaknya dan membuat wajah pria itu terangkat.


Akhirnya mata keduanya bertemu. Mata yang selama ini tak pernah bertatapan setelah kejadian itu kini bisa saling tatap lagi.


Bia bisa melihat penyesalan yang besar dimana. Mata yang bengkak dan menghitam menandakan pria itu tak istirahat dengan banyak dan banyak menangis.


"Jangan bersujud padaku. Aku bukan Tuhan, Sem!"


"Tapi karena aku, kau menderita, Bi. Kau… "


"Aku susah berusaha melupakan semuanya. Aku juga sudah memaafkanmu. Semuanya sudah terjadi dan tak bisa dirubah," Kata Bia dengan menggeleng


"Aku cuma ingin meminta maaf, Bi. Maafkan aku, aku menyesal!"


Bia menatap ke sekeliling. Untuk jam segini area taman belakang masih sepi hanya ada mereka berdua.


"Bangunlah. Mari kita duduk dan berbicara!" Ajak Bia pada akhirnya.


Bia tak mungkin terus-terusan membiarkan Semi berlutut padanya. Dia tak mau semua orang tahu akan apa yang terjadi di antara mereka.


Akhirnya disinilah mereka berdua. Duduk di taman dengan berdampingan. Suara daun yang bergerak dan semilir angin menjadi suasana penuh ketenangan di antara keduanya.


"Lalu bagaimana keadaan mamamu?" Tanya Bia memulai pembicaraan.


"Dokter mengatakan bahwa penyakit mamaku sudah tak bisa disembuhkan. Mamaku… "


"Aku tau," Sela Bia yang mengerti apa yang dirasakan dan ketakutan yang pria itu alami.


"Sakit yang mamamu rasakan bukan karma, Sem. Tapi Tuhan sedang membersihkan dosa yang dibuat mamamu selama hidup. Jangan berpikir karma seseorang yang kamu buat terjadi pada orang disekitarmu. Itu tak mungkin," Kata Bia dengan bijak.


~Bersambung


Nulis bab ini sambil nangis hehe. Bagus juga sambil usap tisu huhu.

__ADS_1


Maaf semalam mau update lagi aku keluar setelah pulang kerja. Jadinya baru bisa up sekarang.


__ADS_2