
...Kenyataan itu ternyata lebih sakit ketika kita mendengarnya sendiri. Namun, setidaknya itu lebih baik daripada harus dibohongi oleh sebuah perasaan....
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Jadi jangan pernah merasa sungkan atau takut untuk mengatakan kamu ingin sesuatu. Oke?" ujar Shaka penuh pengertian. "Karena masa-masa inilah, yang aku tunggu seumur hidupku, Bia."
Mata Bia berkaca-kaca. Dia tak menyangka Shaka akan mengatakan hal ini. Bahkan Shaka mau menepis rasa lelahnya demi anak-anaknya. Ketulusan dalam diri Shaka bisa Bia lihat. Bagaimana pria itu bereaksi, bagaimana jawaban suaminya itu. Semuanya terlihat sangat jelas.
"Iya, Mas. Aku bakalan bilang kalau aku ingin sesuatu sama kamu."
Bibir Shaka tersenyum. Dia mengangguk dan memberikan mengusap kepala Bia dengan pelan.
"Sekarang kita lanjut cari lagi yah!"
Akhirnya Shaka melanjutkan mengemudikan mobilnya. Mereka benar-benar tak ada rasa pasrah atau menyerah. Apalagi Shaka, pria itu terlihat begitu sangat antusias karena dia yakin apa yang dia cari pasti ada.
Perjalanan itu lumayan cepat. Jalanan yang sedikit lenggang dan juga rata membuat Shaka bisa menambah kecepatan mobil mereka. Sampai akhirnya mobil mereka mulai menepi di warung yang menjadi langganan Shaka sekarang.
Bia tersenyum. Dia lekas turun dengan semangat. Dirinya benar-benar yakin seyakin-yakinnya jika apa yang ia cari pasti ada.
Sedangkan Shaka yang melihat hanya mampu geleng-geleng kepalamu. Tingkah istrinya itu begitu menggemaskan untuknya.
Senyuman Bia langsung terlihat begitu sempurna saat dia melihat tusukan udang yang masih sangat lengkap. Bibirnya semakin menyunggingkan senyum tipis saat dia membayangkan akan makan makanan ini malam ini.
"Udang bakarnya 2 ya, Mas," Kata Shaka secara langsung.
"Terus apalagi, Mas?" Tanya pelayan itu dengan menatap Shaka yang masih melihat beberapa jejeran ikan yang diletakkan disana.
"Kamu mau minum apa, Bi?" Tanya Shaka secara langsung.
"Es jeruk!"
"Dibungkus apa dimakan disini?"
"Bi?" Tanya Shaka pada Bia.
Pria itu benar-benar bertanya apapun kepada istri sirinya itu. Tanpa Shaka sadari jika dia sudah bergantung dengan istri keduanya itu.
"Kamu duduklah dulu, Bi. Jangan berdiri terus. Kasihan anak kita!"
"Kamu gak boleh capek. Oke?"
Bia mengangguk lemah. Jujur perasaannya seperti ditampar oleh kenyataan pahit. Seakan mukanya diberikan bukti nyata bahwa cintanya tak berbalas.
__ADS_1
Bahwa cintanya itu hanya dimiliki dia seorang. Bahwa cintanya itu belum diketahui dan dirasakan oleh Shaka.
Hampir dua puluh menit menunggu. Akhirnya Shaka mulai menerima bungkusan pesanan mereka.
"Makasih ya, Mas," Kata Shaka dengan ramah.
"Sama-sama!"
"Ini!" Shaka memberikan kantong itu pada Bia.
Perasan ibu hamil yang naik turun itu mencoba menutupi semuanya. Bia menerima itu dan mulai mengikuti langkah kaki Shaka ke arah mobil.
"Terima kasih," Kata Bia saat dirinya sudah masuk dan duduk dengan tenang.
"Sama-sama," Jawab Shaka pada Bia.
Shaka lekas memutari mobil. Dia duduk dengan tenang di kursi kemudi lalu mulai menyalakannya.
Akhirnya misi ngidam kali ini berhasil. Shaka membawa mobil itu melaju dan kembali ke rumahnya.
...****************...
Yang namanya ngidam. Yang namanya ingin sejak tadi dan lapar tentu membuat ibu hamil satu ini mulai menikmati lalapan udang bakar yang sudah dia letakkan di atas piring.
Bia meletakkan dan merapikan semua yang mereka belikan lalu mulai menyantapnya.
Akhirnya wanita itu mulai menyuapi mulutnya lagi dengan makanan itu sampai rasa pedas mulai terasa di lidahnya. Matanya terpejam menikmati enaknya rasa gurih dan panas di lidahnya itu sangat amat terlihat jelas.
"Bagaimana?" Tanya Shaka yang membuat mata Bia terbuka.
Bia terkejut. Namun, sedetik kemudian dia mengangguk.
"Ini enak banget. Banget banget banget. Aku suka!" Kata Bia sambil menggigit udang bakar itu lagi dengan begitu antusias.
Shaka tersenyum. Dia menarik kursi di depan istrinya lalu duduk. Setelah itu dia tak lupa membuka plastik berisi es itu yang barusan dibeli lalu menuangnya ke dalam gelas.
"Makanlah pelan-pelan, Bia. Aku tak mungkin memintanya," Kata Shaka dengan niat menggoda.
Bia mencomot makanan itu lagi. Dia menganggukkan kepalanya melihat Shaka yang dengan sabar menunggunya makan.
Entah kenapa lalapan yang biasa ia makan ini, ternyata ada yang lebih enak lagi. Pilihan suaminya benar-benar tak bisa diragukan lagi. Dari rasa, aroma dan penampilan sangat menggugah selera.
"Akkk!" Kata Bia meminta Shaka membuka mulut.
"Gak perlu, Bia. Kamu makan aja," Ujar Shaka yang entah kenapa tak mau menggoda Bia.
__ADS_1
Dia senang saat melihat istri sirinya yang begitu antusias sangat makan. Entah kenapa Bia terlihat begitu mood baik ketika makan seperti ini.
"Aku ingin menyuapimu," Cicit Bia dengan bibir memberengut.
Shaka kelabakan. Dia lekas memajukan wajahnya dan membuka mulut saat melihat wajah istrinya sedih.
"Kemari, Bia. Suapin aku!"
Wajah yang mulanya muram kini terlihat berbinar. Bia mulai menyuapi Shaka dan dirinya bergantian. Keduanya benar-benar sangat amat terlihat sama-sama klop ketika makan-makanan enak dengan begitu semangat.
"Enak banget kan, Mas?" Kata Bia sambil mengusapnya. "Enak banget lah."
Shaka tersenyum. Dia mengusap kepala Bia yang sudah tak memakai kerudung lagi.
"Ada yang ingin kamu makan lagi?" Tanya Shaka dengan pelan.
Kepala Bia menggeleng. "Aku ingin tidur, Mas. Aku mengantuk!"
Shaka tersenyum. Dia lekas beranjak berdiri dan berjalan mendekati istri sirinya itu.
"Ayo kubantu, Bi. Aku takut kamu tiba-tiba merem," Sindir Shaka yang membuat Bia tak terima.
"Enak aja. Aku tidur ya liat tempat, Mas. Masak iya di lantai begini aku tidur?" Kata. Bia balas menyindir.
Bia lekas berjalan lebih dulu dengan bibir cemberut. Hal itu bukannya membuat orangnya marah malah membuat Shaka tertawa dengan receh.
Namun, sebelum dia sampai di kamarnya. Bia ingat sesuatu.
"Kenapa, Bi?" Tanya Shaka dengan jantung yang berdebar.
"Aku mau… "
Cup.
Jantung Shaka seakan berhenti berdetak. Ya dia merasa jantungnya tak karuan. Dia terkejut dan tak percaya ketika kecupan itu mendarat di bibirnya.
"Terima kasih sudah mengantarku membeli udang bakar, Mas. Selamat malam dan selamat tidur."
~Bersambung
Akhh woy boleh teriak gak sih. Ohh Mbak Bia otw duluan. Huaa maju duluan Mbak Bia. Harusnya gitu sih Mbak. Maju aja dulu, toh sama suami sendiri.
Bukan sama suami orang Mbak bi. semangat trobos Mbak. aku yakin hati Mas Shaka bakalan luluh entar lagi.
Hati mas Shaka bakalan kepelet sama kamu. mas Shaka bakalan langsung jatuh cinta ini mah. janji gak bakal makin terbia-bia. bakalan makin Bia, Bia oh Bia oh Bia ini mah.
__ADS_1
selamat datang dunia bucin mas Shaka.