Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Mama Shaka Curiga!


__ADS_3

...Kebahagiaan itu ternyata lebih nyata ketika bersamamu daripada dia. Setiap perlakuan dan semua tingkah laku akan menggambarkan seberapa pentingnya kamu untuknya. ...


...~Arshaka Karsha...


...****************...


Keesokan harinya, Shaka terbangun dengan menggeliatkan tubuhnya. Dia merasa kepalanya sedikit pusing karena mungkin terlalu banyak memikirkan hal-hal belakangan ini.


Pria itu mulai mengerjapkan matanya. Dia menatap ke samping dan tak melihat keberadaan istrinya itu. Spontan perlahan Shaka beranjak duduk. Dia menatap ke sekeliling dan ruang kamarnya sangat sepi.


Namun, satu hal yang membuat Shaka terkejut dengan mata terbelalak. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi yang menandakan dia benar-benar terlambat untuk bangun.


"Oh ****!" Umpatnya lalu segera bangun.


Shaka tentu tak memiliki banyak waktu. Ditambah pagi ini jam sembilan pagi dia memiliki jadwal meeting dengan klien barunya dan membuatnya benar-benar dalam situasi yang buruk


Shaka spontan segera pergi ke kamar mandi. Lebih baik dia merapikan dirinya dulu sebelum mengecek kemana keberadaan istrinya itu berada.


Shaka benar-benar dilanda kebingungan. Mandi dengan cepat dan segera berganti pakaian dengan terburu-buru. Pria itu bahkan memakai memakai celana dan bajunya dengan asal pakai sampai akhirnya ke bagian dasi.


Dia membawa dasi, sepatu dan tasnya keluar dari ruang ganti bersamaan dengan pintu kamarnya yang terbuka dan memperlihatkan istrinya yang berkeringat banyak dengan pakaian seksi khas olahraga.


"Hai, Mas. Sudah bangun?" sapa Dhira dengan mengusap wajahnya dengan handuk kecil.


Shaka bukanlah senang tapi nafasnya naik turun. Tatapan matanya seakan begitu mengandung kemarahan.


"Sudah bangun? Kau tau ini jam berapa, Dhira!" Seru Shaka dengan marah. "Ini jam delapan, Dhir. Jam delapan dan aku punya jadwal meeting penting!"


Shaka benar-benar mengeluarkan amarahnya. Dia menatap istrinya dengan tatapan tajam.


"Aku baru selesai olahraga dan kamu marah-marah sama aku?" Seru Dhira dengan menatap tak kalah bengis.


"Lebih penting olahraga daripada aku, Dhir? Begitu? Aku kerja buat kamu dan kamu!"


"Dan kamu apa, hah?" Seru Dhira menantang.


Dia ikut memasang badan. Menatap Shaka dengan tatapannya yang tak ada takut.


"Kamu apa, Mas? Apa?" Seru Dhira mengulang dengan tatapan yang juga tak kalah tajam.


"Kamu mementingkan dirimu sendiri!" Seru Shaka dengan pandangan yang benar-benar mengandung kekecewaan yang tinggi.

__ADS_1


"Aku mementingkan diriku sendiri?" Seru Dhira dengan menunjuk dirinya. "Kalau aku mentingin aku sendiri. Aku pasti bangunin kamu tadi pagi. Aku tau semalam kamu tidur larut malam. Mangkanya aku berniat bangunin kamu entar lagi, Mas. Biar kamu ada waktu istirahat. Tapi apa ini? Apa!"


Dhira benar-benar ikut meninggikan suaranya. Namun, sepertinya perdebatan ini tak akan selesai secepat itu.


"Alasan!" seru Shaka lalu mulai duduk di sofa yang ada di kamarnya dan segera memakai kaos kakinya.


"Alasan apa, Ka? Apa?"


"Sejak dulu kau memang egois. Kau hanya memikirkan urusanmu sendiri tanpa ingin tahu urusanku. Dan kau… tak pernah memprioritaskan aku, Dhir!"


"Seenaknya kau bilang begitu?" Seru Dhira dengan mulai naik pitam.


"Kau, Mas… "


"Diam, Dhira," Seru Shaka yang benar-benar kesal.


"Aku tak akan diam! Kau mengatakan itu tanpa tahu perasaanku, kan?"pekik Dhira dengan marah.


"Kau hanya bisa bahagia sendiri. Kau kurang apa sekarang. Kau akan memiliki anak dari Bia. Kau memiliki dua istri. Kau pasti akan mengatakan kau bahagia dengan Bia gitu."


"Kau bilang aku egois karena ingin bersama Bia begitu. Kau ingin bilang Bia lebih baik dari aku. Kau akan meninggalkanku begitu?" Seru Dhira dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Aku tau itu, Mas. Aku sudah menebak ini akan terjadi. Kau akan mencari celahku. Kau akan mencari kesalahanku agar bisa meninggalkanku dan bersama Bia. Begitu kan?"


"Licik kamu, Mas. Aku tau taktikmu. Aku tau, aku memang tak berguna. Bahkan sekarang, kau sudah memperlihatkan semuanya," Lirih Dhira dengan menghapus air matanya.


"Dhir… "


Shaka tetaplah Shaka. Setinggi apapun amarahnya. Semarah apapun dirinya, jika melihat air mata Dhira menangis deras di depan matanya. Dia tak akan sanggup.


Shaka tak akan pernah bisa melihat istrinya menangis seperti ini. Shaka tak akan mampu melihatnya.


"Bukan begitu, Sayang. Aku… "


"Aku tau kamu, Mas. Aku tau!" Seru Dhira yang mulai berjalan ke arah kamar ganti.


Shaka mengikuti dari belakang tapi Dhira lekas menutupnya dan mengunci pintu ruang ganti.


"Buka, Sayang. Sayang, buka pintunya!" Kata Shaka mengetuk pintu berulang kali.


"Pergi! Pergi!" Teriak Dhira dari dalam sambil memukul pintu ruang ganti.

__ADS_1


Shaka mengacak rambutnya sendiri. Dia benar-benar terlihat frustasi. Frustasi karena permasalahan ini benar-benar berakhir dengan perdebatan panjang lagi.


"Sayang. Maafkan aku. Aku… "


Tak ada jawaban apapun. Yang ada hanya suara tangisan dari bibir Dhira. Hal itu semakin membuat Shaka mengepalkan kedua tangannya. Lagi-lagi dia marah pada dirinya sendiri.


Dia marah karena membuat hubungan mereka semakin runyam. Shaka juga sangat menyadari keadaan keduanya saat ini sering sekali di puncak emosi.


Mereka berdua benar-benar semakin berada di titik terjauh. Keduanya sering kali marah dan berakhir tak bicara.


"Pergi, Mas. Pergi? Aku tak mau melihatmu!" Pinta Dhira dari dalam yang membuat Shaka menyugar rambutnya ke belakang.


Dia akhirnya berjalan menjauh tapi matanya terus menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Sepertinya mood Shaka akan berlanjut buruk. Dia benar-benar berada di titik yang membuatnya sama-sama ingin marah, emosi, kecewa dan menyesal.


Sampai akhirnya Shaka keluar dari dalam kamar dan bertepatan dia terdiam menghentikan langkah kakinya saat melihat sepasang kaki berdiri di depannya dan membuat kepalanya mendongak.


"Mama," Lirih Shaka terkejut dengan kehadiran Mamanya.


***


"Ada apa, Shaka?" Tanya Mama Shaka menatap anaknya yang terlihat berantakan. "Kamu mau berangkat kerja tapi lihat penampilan kamu."


Shaka menatap dirinya sendiri. Dia terlihat frustasi. Menarik nafasnya begitu dalam lalu mengangkat kepalanya.


"Kalian berantem lagi?" Tanya Mama Shaka dengan pandangan keibuan.


"Iya, Ma," Jawab Shaka jujur.


"Kamu masih ingat, 'kan? Kalau istri kamu hamil?" Kata Mama Shaka yang spontan membuat Shaka menatap mamanya. "Kamu tau kata dokter, 'kan? Ibu hamil tak boleh stress."


"Apa kamu lupa atau… "


Shaka seperti tertampar akan kenyataan. Dia mengedipkan mata berulang kali dengan nafas tertahan. Dirinya hampir lupa dengan kebohongan yang mereka lakukan.


Dia hampir lupa dengan ide istrinya itu dan membuat mamanya terlihat. Ah lebih tepatnya membuat dia harus berbohong pada mamanya.


"Kita cuma berantem sebentar, Ma. Nanti Shaka bakalan minta maaf."


"Jangan sampai terjadi sesuatu sama kandungan istrimu, Shaka. Atau ya lanjutkan saja tingkah kalian seperti ini jika ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Mama."


~Bersambung

__ADS_1


lalala kalau Mama Shaka tau, gimana ya??? mendekati konflik besar sih lalala.


Mau up lagi gak?


__ADS_2