
...Terkadang cinta yang sedang tumbuh mampu membuat mereka lupa akan keadaan sekitar. Membuat mereka hampir tak sadar diri dengan apa yang mereka rasakan kali ini....
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Hari libur adalah hari yang sangat dinantikan oleh semua orang. Mereka bisa berkumpul dan menghabiskan waktunya dengan orang-orang yang terkasih. Salah satunya seperti keluarga Shaka dan Dhira ini. Kali ini, mereka akan pergi ke salah satu jalan pusat kota untuk mengikuti kegiatan mingguan warga yaitu car free day.
Kegiatan itu sudah merupakan hal lumrah bagi penduduk disana. Tempat dimana selalu menjadi tempat CFD an dan terkenal disana. Kegiatan ini tentu banyak sekali manfaatnya. Selain untuk olahraga, bisa untuk jalan sehat sepanjang jalan, ada kuliner dan berbagai stand jualan aneka produk menarik juga. Benar-benar sangat amat lengkap sekali di sana.
Akhirnya mereka mulai menaiki mobil yang dikemudikan oleh Shaka sendiri. Dhira juga ikut serta karena paksaan suaminya. Dia rasanya sangat malas tapi entah kenapa sesuatu dalam dirinya yang membuatnya bisa ada disini.
Mulanya gadis itu menolak. Namun, saat Shaka mengatakan jika jalan-jalan baik untuk keadaan tubuh dan kondisi mereka, akhirnya Dhira langsung mau. Untuk kesehatan dirinya, untuk pengobatan yang tengah dijalani tentu membuat keduanya segera berangkat.
Keinginan Shaka yang mengatakan mungkin dia masih bisa hamil. Harapan Shaka yang masih ingin punya anak dari istrinya membuat Dhira mau.
"Sayang disana panas gak?" Tanya Dhira yang membenarkan topinya.
Jujur penampilan Dhira memikat kedua mata Shaka. Akhh sepertinya pria bucin akut satu ini hampir tak terselamatkan. Jatuh cintanya semakin luas sehingga membuatnya sampai didetik ini.
"Di sana panas, Sayang. Pasti itu!" Kata Shaka yang sudah biasa dateng ke acara beginian. "Tapi banyak stand kok. Jadi gak bakal panas banget."
"Rame, gak?"
Jujur Dhira tak suka keramaian. Dia tak suka berada di keadaan seperti ini. Tapi tak mau membuat siapapun marah, akhirnya dia bisa ada disini.
"Banget. Banyak muda mudi terus belum ada banyak pedagang makanan juga."
"Wah!" Mata Dhira berbinar.
Mendengar kata makanan saja sudah bisa memancing selera Dhira makan. Wanita itu merasa lapar lagi karena masalah ini. Dia benar-benar sangat menginginkan jajanan khas Indonesia.
Dhira sudah lama tak makan makanan seperti ini dan tentu membuatnya rindu.
"Nanti kita beli ya, Mas? Nanti kita cari sesuatu!"
"Iya, Sayang. Tapi kita harus jalan-jalan dulu. Oke?"
"Oke."
Akhirnya perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit itu mulai berakhir. Dari arah parkiran, bisa dilihat banyaknya pedagang makanan yang sudah standby disana.
Dari makanan basah, kering. Minuman hangat dan dingin semua tersedia disana. Macam-macamnya saja sangat banyak. Hingga hal itu membuat Dhira berulang kali menelan ludahnya sendiri.
__ADS_1
"Ayo! Jangan lihatin makanan mulu. Ntar kamu gendut loh!" goda Shaka sambil menggandeng tangan istrinya itu.
"Ih. Gak bakal gendut!" seru Dhira memukul lengan abangnya.
Mereka kini mulai berjalan bersama. Shaka dan Dhira ada di bagian belakang orang-orang yang ada di depannya. Keduanya hanya ingin menghabiskan waktu dengan quality time. Keduanya juga harus jalan dengan keadaan tenang dan nyaman.
Dari semua pasangan bicara. Semua orang muda mudi yang berjalan disana. Pasangan Shaka dan Dhira terlihat paling heboh.
"Mas!" Panggil Dhira yang membuat Shaka menoleh.
"Ya?"
"Apa kamu sering jalan-jalan begini?" Tanya Dhira yang penasaran.
Tangan keduanya benar-benar saling bertaut. Dhira melingkarkan tangannya di lengan suaminya dengan sayang.
"Ya. Aku sering kesini. Kamu ingat ketika cari aku pagi-pagi di rumah. Gak ada? Ya aku kesini tiap minggu!" Kata Shaka dengan pelan yang membuat Dhira mengangguk.
Perempuan itu tahu apa yang prianya itu katakan. Dhira sangat tahu juga kebiasaan suaminya selain workaholic adalah olahraga.
"Terus kalau kamu kesini sendirian. Berarti kamu liatin cewek dong?"
Shaka terkekeh. Entah kenapa istrinya sekarang semakin lucu. Menurutnya hal yang membuat Dhira cemburu rasanya selalu ingin dia lakukan.
Rasa kesal dan juga nada suara ngambek Dhira selalu menjadi hal candu untuk Shaka.
Wanita itu sudah tak sabar untuk mencicipi. Rasanya dia ingin segera membeli segala hal. .
Akhirnya Shaka mengikuti langkah kaki istrinya. Ia tak menolak apapun yang diminta Dhira, istri kesayangannya itu.
"Aku mau itu!" tunjuknya pada sebuah penjual sosis bakar yang ada di sana.
"Boleh. Mau berapa, Sayang?"
"Satu aja!"
"Yakin cuma satu doang? Nanti kalau kamu kurang, gimana?"
"Iya Sayang. Satu aja beneran!"
Pasangan suami istri itu akhirnya berpindah lagi. Tangan Dhira tentu sambil memegang tusuk sosis dan mulai memakannya.
"Emm ini enak banget, Mas. Banget banget!" Kata Dhira dengan begitu menikmati.
__ADS_1
"Serius? Masak sih?"
Dhira mengangguk. Lalu dengan pelan, dia menyodorkan sosis miliknya dan mendekatkan di bibir suaminya itu.
"Ayo buka mulut!"
"Nggak, Sayang!" Tolak Shaka menggeleng.
"Ayo!" Akhirnya Shaka menerima suapan itu.
Di menikmati makanan yang dimakan oleh saudaranya dengan perasaan tenang dan bahagia.
"Eh mau kemana?" tanya Dhira menahan tangan Shaka yang memegang tangannya.
"Kita beli makanan dulu yang lain. Aku ingin makan makanan yang disana," sela Shaka tak mau ditolak.
"Tapi, Mas."
"Jangan menolak permintaanku, Sayang. Aku ingin makan makanan itu. Yah?"
Shaka menatap penuh harap. Hal itu tentu membuat Dhira tak mampu menolaknya.
"Ayo!"
Akhirnya Shaka menarik istrinya ke sebuah stand makanan. Dia mulai memesan satu makanan ke kedai yang menjual nasi disana. Dengan sabar pasangan suami istri itu saling menunggu dengan mata menatap Dhira yang asyik membawa sosisnya.
Semua tingkah laku yang dilakukan oleh Dhira tak luput dari pandangan Abraham. Pria itu terus menatap ke arah istrinya dengan lekat. Dia hanya bahagia sekaligus bersyukur melihat suaminya menikmati kebersamaan mereka kali ini.
"Kita makan dimana, Sayang?"
"Kita makan di mobil aja gimana?" Tawar Shaka pada Dhira.
"Tentu, Sayang. Ayo!"
Akhirnya keduanya mulai berjalan bersama. Mereka saling berjalan dengan berbincang bersama. Tawa bahagia tercetak jelas di sana.
Senyuman yang amat bahagia sangat tergambar jelas di sana. Tanpa keduanya sadari. Jika ada wanita yang memakai pakaian tertutup itu berbalik dan bersembunyi di balik sebuah pohon yang ada disana.
Senyuman penuh luka dengan air mata menetes tanpa bisa dicegah.
"Ternyata kamu disini, Mas. Tanpa peduli aku dan tak membaca pesan singkatku. Aku hampir kehilangannya!"
~Bersambung
__ADS_1
Hayoo sebenarnya ada apa sih? apa alasan bia telepon kemarin?
banyak yang salah faham loh sama bia. bilang udah tau dirumah istri tua, telfon aja. keknya dibab sebelumnya bia cuma tau shaka tidur sama dia dan shaka kayak berantem sama Dhira hehe.