Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Kegilaan Dhira


__ADS_3

...Mungkin jika dulu, kabar ini adalah kabar yang sangat dinanti olehku. Namun, sekarang entah kenapa mendengar kabar itu, ada sesuatu yang mengusik perasaanku....


...~Arshaka Karsha...


...****************...


"Mas!" Panggil Dhira saat keduanya sudah di rumah.


Shaka yang sejak tadi diam di dalam mobil. Hanya memiliki oleh sekilas lalu hendak berjalan menuju kamarnya. Namun, Dhira yang masih terbawa emosi akhirnya menarik tangan suaminya itu.


"Aku mau bicara sama kamu, Mas!"


"Besok kita bicara. Aku capek, Dhir!" Kata Shaka yang semakin memancing emosi Dhira.


Wanita itu sudah tak sabar sejak di rumah Bia. Dia sudah kepanasan bak cacing panas dengan adegan suami serta adik madunya. Lalu sekarang, ditambah tingkah Shaka yang semakin membuat kedua tangan Dhira mengepal kuat.


"Kalau Bia, kamu bisa. Coba kalau aku! Aku mau bicara sesuatu sama kamu. Penting! Tapi… " Seru Dhira yang mulai marah dan mampu membuat langkah kaki Shaka berhenti. "Kamu gak bisa ngasih waktu buat aku, Mas? Kamu udah egois? Kamu udah gak adil! Mana janji kamu!"


Dhira benar-benar marah. Dia berteriak dengan kencang. Suaranya bahkan membuat beberapa pelayan yang saat itu masih berkelebat di dapur langsung pergi dari sana.


"Jangan pernah membawa Bia disini!"


"Kenapa, Mas? Kenapa?" Seru Dhira dengan kilat marah di matanya. "Kenapa dia tak bisa kita bawa kesini? Apa kamu sudah mencintai Bia, iya? Apa kamu lupa dengan janji kamu?"


Dhira menunjuk Shaka dengan tajam. Wanita itu benar-benar mulai murka.


"Ingat, Mas! Dia hanya ibu pengganti. Dia hanya istri pengganti karena dulu aku gak bisa hamil!" Seru Dhira dengan penuh penekanan dan membuat Shaka menatap bola mata Dhira dengan lekat. "Jangan lupakan tujuan menikah dengan Bia, Mas! Itu rencanaku. Itu aku yang meminta karena paksaan Mama!"

__ADS_1


"Aku tau!" Balas Shaka yang membuat Dhira semakin memajukan tubuhnya.


"Lalu? Kenapa kau semakin dekat dengannya? Apa kau ingin membuatku sadar jika kau ingin membuangku, Mas? Apa kau ingin mengatakan bahwa kau sudah mencintai Bia dan akan meninggalkanku. Iya?"


Dhira murka. Wajahnya memerah menandakan bahwa emosi telah menguasainya. Ya, wanita itu benar-benar tak tahan dengan tingkah keduanya.


"Ingat, Mas! Aku tak pernah mau berbagi dengan apa yang aku punya. Aku bisa mencelakai Bia. Kalau kamu berpaling dariku!"


"Dhira!" Seru Shaka yang pada akhirnya bersuara keras.


Ini yang dia takutkan. Selama ini Shaka tak pernah melakukan hal gila, egois atau marah pada Dhira. Bukan karena dia tak tegas. Melainkan dia masih melek cintai Dhira tapi sikap Dhira juga berbahaya.


Sejak mereka pacaran. Dhira sangat amat posesif. Shaka masih ingat bagaimana dulu Dhira melabrak adik tingkat mereka karena hanya memberikan kado kecil untuk Shaka.


Dari sana Shaka belajar banyak hal. Dari sana Shaka berusaha untuk tak melawan jika rasa posesif istrinya itu muncul.


"Dhira!" Panggil Shaka pelan dengan berusaha menurunkan egonya. "Maaf!"


"Aku tak suka dengan suaramu yang membentakku, Mas! Itu menyakitkan!"


Dhira menunduk. Dia merubah ekspresinya dengan cepat dan membuat Shaka menjadi iba. Dia mengangguk dan pria itu perlahan memeluk istrinya.


"Maafkan aku. Okey? Jangan pernah melakukan apapun pada Bia karena aku hanya mencintaimu!"


Dhira mendongak. Dia menatap wajah Shaka yang juga menatapnya.


"Kamu serius, Mas?"

__ADS_1


"Tentu. Aku hanya mencintaimu. Jadi jangan pernah celakai Bia karena dugaanku padaku itu salah!"


Dhira mengangguk. Dia memeluk suaminya dengan erat. Jangan lupakan, senyuman smirk di bibirnya muncul saat melihat suaminya benar-benar tunduk padanya.


"Ini adalah kesempatan yang tepat!" Gumam Dhira dalam hati lalu perlahan menarik tangan Shaka dan meletakkan di atas perutnya.


"Ehh!" Shaka terkejut.


Dia menatap mata Dhira dengan pelan.


"Sepertinya Tuhan mendengar doa kita, Mas," Kata Dhira yang membuat Shaka mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"


"Disini!" Kata Dhira sambil meletakkan tangan Shaka di atas perutnya.


Jantung pria itu berdebat kencang. Entah kenapa perasaan Shaka tak enak. Dia mulai merasa sadar akan sesuatu. Dia sadar jika pasti ada sesuatu yang membuat suasana semakin kacau.


"Ada anak kita, Mas."


"Apa!" Kata Shaka terkejut bahkan sampai mundur beberapa langkah.


Wajah pria itu tegang. Bahkan mata Shaka sampai terbelalak tak percaya.


"Iya, Mas. Aku hamil. Aku hamil anak kita, Mas!"


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2