Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Dhira Kembali


__ADS_3

...Ternyata kebersamaan ini hanyalah sementara tak bersifat nyata dan abadi. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Bia membuka matanya. Entah sudah berapa lama dirinya tertidur. Tangannya mengusap dan menepuk ranjang di sampingnya. Kosong tak ada siapapun. Mata Bia tentu spontan terbuka lebar. Dia menoleh ke samping dan benar saja. Tak ada suaminya disana.


Perempuan itu menatap jam dinding. Jarum jam menunjukan pukul lima sore. Bia spontan dengan perlahan menegakkan tubuhnya. Dia bangun lalu menurunkan kedua kakinya dengan pelan.


Ibu hamil itu tentu langsung keluar dari kamar. Dia mencari sosok suaminya dan akhirnya keningnya berkerut. Dia menatap sosok seorang perempuan yang memakai pakaian sederhana sedang berada di dapurnya.


"Siapa yah?" Tanya Bia dengan lembut.


Tak lama, perempuan itu berbalik.


"Non Bia sudah bangun?" Tanya perempuan itu yang baru kali ini Bia lihat dan temui.


Bia merasa asing. Ya jelas saja dia tak kenal oleh wanita di depannya ini.


"Sudah. Emm… "


"Kenalin saya Bibi Mar. Saya diminta Tuan Shaka untuk menjaga Non Bia," Kata Bibi Mar dengan sopan. "Maafkan saya ya, Non. Lancang mengobrak-abrik dapur, Non Bia."


Bia menggeleng. Dia tersenyum dengan perasaan lega saat tahu siapa wanita di depannya ini.


"Gak papa, Bi. Bibi boleh kok ngapain aja di dapur Bia," Ujar Bia dengan duduk di kursi meja makan.


"Non Bia mau apa?"


"Buatkan aku teh hijau boleh, Bi?" Tanya Bia dengan sopan.


Bibi Mar tertawa kecil. "Ini rumah, Non. Bibi juga pelayan Non Bia. Jadi No berhak minta apa saja."


Bia hanya cengegesan. Kemudian matanya beralih. Dia menatap sekeliling dan tak ada Shaka disana.


"Non nyariin Tuan Shaka?"


"Eh!" Bia menoleh.


Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal saat gerak geriknya ketahuan oleh orang lain.


"Emm itu, Bi… "


"Tuan Shaka tadi titip salam. Tolong bilang sama Non Bia kalau Tuan harus pulang. Tuan dapat telepon dadakan dari kantor dan gak bisa ditinggal," Ujar Bibi Mar yang entah kenapa membuat kedua sudut bibir Bia melengkung ke atas.


Dia menatap tak percaya. Dia tak percaya jika semua yang dia lakukan, dia dapatkan bukanlah mimpi. Apa yang terjadi dengannya dan Shaka semalam adalah nyata.


"Makasih banyak ya, Bi," Kata Bia dengan senyuman puas.

__ADS_1


"Sama-sama, Non!"


Akhirnya Bibi Mar melanjutkan membuat teh hijau. Dia juga bertanya tempat apa saja dan bahan dimana saja tempatnya pada Bia. Bia dengan begitu sopan dan pelan mengajari semuanya.


Memberitahu dan mengatakan apa yang diminta oleh Bibi padanya.


"Bibi sudah lama ikut Mbak Dhira?"


"Lebih tepatnya saya ikut Tuan Shaka, Non," Kata Bibi Mar membenarkan.


Kening Bia berkerut. Dia menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.


"Maksudnya gimana, Bi?"


"Saya adalah pelayan setia, Tuan Shaka. Sejak kecil Tuan Shaka bersama saya dan saya yang merawatnya," Kata Bibi Mar yang membuat mata Bia melebar tak percaya.


Dia menegakkan tubuhnya. Dia berusaha menetralkan degupan jantungnya dengan kabar mengejutkan ini.


"Jadi Bibi… "


"Bibi tau semuanya," Kata Bibi Mar lalu membawa teh hijau itu lalu meletakkan di atas meja.


"Bibi tau semuanya. Tuan Shaka menceritakan semuanya sama Bibi," Kata Bibi Mar dengan berdiri di dekat meja makan.


"Duduk, Bi. Duduk!" Kata Bia meminta.


Akhirnya dia wanita beda usia itu duduk saling berhadapan. Bibi Mar bisa menatap wajah Bia dengan puas.


"Bibi berpikir wanita mana yang bisa dengan ikhlas melakukan itu," Lanjutnya yang membuat senyuman Bia semakin getir.


"Bibi awalnya tak percaya. Tapi saat melihat Non Bia. Bibi jadi percaya bahwa masih ada orang baik di dunia ini," Kata Bibi Mar yang membuat perasaan Bia campur aduk.


"Bia melakukan itu demi uang, Bi," Kata Bia yang membuat Bibi Mar menggeleng.


"Bibi gak percaya. Non Bia seorang dokter. Gak mungkin Non Bia se sengsara itu. Bibi yakin ada alasan lain dibalik semua ini.


Bia terlihat menelan ludahnya dengan paksa. Tapi dia berusaha bersikap tenang.


"Bibi gak tau apa alasan Non Bia. Tapi Bibi senang, Tuan menikah lagi dengan wanita baik-baik seperti Non Bia."


Bia menunduk. Air matanya menetes saat telinganya mendengar kata baik.


Dia wanita baik? Baik macam mana menurutnya.


Dia sudah menjadi sampah. Tak baik dan tak suci lagi. Dirinya hanya dipandang sebelah mata oleh pria yang akan tahu masa lalunya.


"Non!" Kata Bibi Mar yang membuat Bia terkejut.


"Iya, Bi?"

__ADS_1


"Bibi izin belajar denah dapur Non Bia dulu yah," Pamit Bibi Mar yang membuat Bia tersenyum.


"Baik, Bi. Bibi tenangkan dan buat nyaman yah. Bia gak bakal ngasih peraturan apapun."


...****************...


Waktu tak terasa sudah menjelang malam. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Seorang pria baru saja datang dan menginjakkan kakinya di teras rumahnya. Langkah kakinya terasa berat dengan memutar kepalanya yang terasa sakit.


Shaka, pria itu mendorong pintu rumahnya. Dia melonggarkan dasinya yang terasa erat. Tubuhnya lelah tapi entah kenapa bibirnya tersenyum dengan lega.


Saat bayangan wajah istrinya. Saat bayangan wajah Bia memutar di kepalanya. Sampai akhirnya sebuah panggilan suara yang sangat dia kenal membuatnya mendongak.


"Sayang," Pekik Shaka dengan terkejut. "Kamu pulang?"


Dhira terlihat berlari dari dalam. Lalu dia memeluk Shaka dengan erat.


"Kamu udah gak marah sama aku? Kamu udah gak marah beneran kan?"


Kepala Dhira menggeleng. Dia memeluk suaminya dengan sangat erat.


"Nggak, Mas. Aku benar-benar udah maafin kamu."


Shaka melepaskan pelukannya. Dia menangkup kedua sisi wajah Dhira. Mencium bibir itu dengan mesra yang membuat Dhira mulai membalas kecupan itu.


"Aku bahagia, Sayang. Akhirnya kamu gak marah. Maafin aku yah? Maafin aku yang udah bikin kamu kecewa sama aku," Kata Shaka dengan pandangan yang benar-benar menunjukkan penyesalan.


Dhira mengangguk. Dia menatap kedua mata itu dengan lekat.


"Kamu beneran gak suka kan sama Bia kan, Mas?"


Shaka menggeleng. Dia mengusap sisi wajah istrinya dengan pelan.


"Bia terlalu polos, Sayang. Aku menyayangi dia karena anak kita. Bia tak boleh banyak pikiran. Ingat kata temanmu! Dia harus terus hahagia," Kata Shaka yang membuat Dhira menatap suaminya dengan lekat.


"Kamu beneran kan. Gak boong?"


Shaka mengangguk. "Aku serius, Sayang."


"Aku percaya sama kamu, Mas!" Kata Dhira yang membuat Shaka mengangguk.


"Aku juga percaya sama kamu, Sayang," Kata Shaka dengan tulus.


"Kalau kamu beneran sayang sama aku. Jangan dekat dengan Bia! Jangan ke rumahnya selain bersamaku. Jangan angkat telepon darinya kecuali aku. Oke?"


Shaka mengangguk. Dia mengatakan itu tanpa pikir panjang lagi. Bagaimanapun cintanya pada Dhira lebih besar. Cintanya pada istri pertamanya itu lebih besar dan utama untuknya.


"Aku akan patuh pada semua apa yang kamu minta, Sayang. Tapi yang pasti, kamu jangan pernah marah lagi dan pergi!"


~Bersambung

__ADS_1


Hiya kan mulai ngeselin lagi kan. Ih pen tak pites deh kamu mas Shaka.


__ADS_2