Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Bia Melawan!


__ADS_3

...Percayalah seorang ibu hamil adalah orang paling sensitif yang mampu mengambil sesuatu dengan perasaan dan menyakiti dirinya. ...


...~JBlack...


...***...


Teriakan itu perlahan membuat Shaka dan Bia menoleh. Kedua orang itu seperti ketahuan dan membuat wajah keduanya begitu tegang.


"Apa yang kalian lakukan?" Seru Dhira dengan mendekat dan membuat Shaka perlahan melepaskan tangannya dari tubuh Bia. "Apa yang kalian lakukan?"


"Kami tak melakukan apapun, Sayang," Kata Shaka dengan cepat dan segera mendekati Dhira.


Perempuan itu terlihat sudah menahan amarah. wajahnya memerah yang membuat Shaka tak mau semakin terjadi sesuatu dengan Bia. Shaka tahu bagaimana Dhira. Dia akan melakukan apapun jika miliknya diusik.


"Jangan berbohong padaku, Mas!" Seru Dhira melepas tangan Shaka lalu mendekati Bia.


Saat tangan wanita itu hendak menampar Bia. Tangan Bia spontan menahan dan membalas tatapan Dhira.


"Jangan pernah melewati batasmu, Mbak!" Seru Bia dengan amarah yang tertahan. "Aku tak pernah melakukan kekerasan padamu dan aku ada disini… "


Bia menahan ucapannya. Dia menghempaskan tangan Dhira dengan pelan. "Itu karena dirimu."


Bia mengatakan itu dengan tatapan tajam yang menusuk. Entah kenapa setelah tahu kebenarannya, dia menjadi wanita yang tak mau respect lagi pada Dhira.


Ya, menurutnya apa yang dilakukan Dhira benar-benar menjijikkan. Apa yang telah dilakukan Dhira dan kakak Shaka. Apa yang dilakukan keduanya di tempat sushi itu benar-benar membuat Bia tahu seberapa dekat dua orang pengkhianat itu.


"Beraninya kau!"


"Untuk urusan anakku dan memukul. Aku tak akan tinggal diam, Mbak!" Kata Bia dengan menunjuk wajah Dhira. "Jangan lupakan, dalam agama posisi kota sama. Sama-sama istri Mas Shaka."

__ADS_1


"Kau, wanita murahan!"


Bia tersenyum licik. Dia mendekatkan wajahnya tepat di dekat wajah Dhira.


"Kau juga sama murahannya, Mbak. Berani mengencani kakak iparku sendiri."


Deg.


Jantung Dhira mencelos. Dia bahkan sampai menatap Bia yang mengatakan itu dengan tenang. Wajah wanita itu begitu tegang saat dia melihat Bia berjalan meninggalkannya dengan begitu cepatnya.


Dhira merasa kesusahan bernafas. Ah bahkan menelan ludahnya sendiri dia begitu sulit. Entah kenapa perkataan yang dikatakan oleh adik madunya itu membuatnya takut.


Apa semua hal yang disembunyikan, Bia tahu?


Apa hubungannya dengan Arthir diketahui oleh adik madunya.


Jika itu terjadi dan benar adanya. Dia dalam kesulitan. Ya, perempuan itu dalam keadaan yang tak baik.


"Lihat, Mas! Bia sudah berani mengancamku. Dia bahkan berani mengatakan posisinya denganku sama!"


"Sayang, sudah!" Kata Shaka lalu mendekat dan merapikan rambut Dhira.


Dia benar-benar tak tahu harus bagaimana. Rasanya dia ingin menyusul Bia. Istri keduanya itu dalam keadaan tak baik. Apalagi ditambah Bia sedang hamil dan membuat Shaka khawatir.


Namun, keberadaan Dhira disini. Keberadaan istri pertamanya membuat Shaka tak bisa menyusul Bia. Dia tak mau Dhira semakin ganas. Dia tak mau Dhira menyakiti Bia karena rasa cemburunya.


"Tapi, Mas!"


"Sudah, Dhira!" Seru Shaka dengan memanggil nama Dhira secara langsung. "Jika kau masih ingin bertengkar. Aku akan mengantarmu pulang!"

__ADS_1


Dhira mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar marah dan tak terima dengan perkataan Shaka. Dalam artian, suaminya itu membela Bia. Namun, bukan itu yang menjadi masalah untuk Dhira.


Saat ini Bia adalah ancamannya. Ucapan wanita itu tak main-main dan membuatnya harus berhati-hati.


"Mas!" Panggil Dhira pelan saat Shaka melangkah menuju sofa yang ada di ruang tamu.


Dhira mengikuti langkah kaki pria itu. Duduk di samping Shaka dan melingkarkan tangannya di lengan Shaka.


"Ayo kita pulang, Mas!" Ajak Dhira yang membuat Shaka menoleh.


"Ini sudah malam. Lebih baik kita menginap!"


"Nggak!" Seru Dhira secara langsung. "Aku ada sesuatu untuk kamu, Mas. Aku ada kejutan kecil."


Shaka menatap kedua bola mata Dhira. Ada harapan disana dan membuat pria itu dengan setengah tidak rela akhirnya mengangguk.


Pasangan suami istri itu akhirnya mulai berpamitan pada Bibi Mar. Ya dengan berat hati, Shaka mau tak mau menitipkan salamnya pada pengasuhnya itu.


"Salamkan pada Bia ya, Bi. Besok pagi aku akan kesini," Kata Shaka yang membuat Bibi Mar menatap anak asuhnya itu kasihan.


"Baik, Tuan!"


Akhirnya Shaka mulai masuk ke dalam mobil. Pria itu menyusul istrinya yang sudah duduk dulu di dalam kendaraan.


Tanpa keduanya tahu. Tanpa Shaka lihat. Jika sebenarnya ada Bia yang tengah melihat kepergian keduanya dari balkon kamarnya di samping rumah. Wanita itu menatap kepergian mobil yang dikendarai Shaka mulai meninggalkan halaman rumahnya.


"Untuk kali ini dan seterusnya. Aku akan melawan. Aku juga akan membongkar semuanya di hadapan Mas Shaka!"


~Bersambung

__ADS_1


duh Mbak Bia mulai garang nih. Akhh aku suka banget


__ADS_2