
...Hal yang menyakitkan kadang kita cari sendiri. Namun, obat terbaik adalah menjalaninya sampai akhir. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Tak terasa matahari mulai naik. Sepasang mata sejak tadi menatap ke arah pria yang tidur dengan memeluknya. Pria yang entah kenapa mulai memasuki pikirannya.
Mata pria yang biasanya tajam kini sedang terpejam. Mata yang menatapnya penuh benci kini terlihat seperti bayi kecil yang tidur dengan tenangnya.
Bia tersenyum kecil. Dia mengangkat tangannya dan mengusap sedikit rambut Shaka yang menutupi dahinya. Dia masih mengingat bagaimana Shaka memperlakukan dirinya dengan lembut. Meski dia tahu dan sadar jika pria itu menganggapnya sebagai Dhira bukan Bia.
Namun, biarkan dia bahagia walau sejenak. Bia tak berbohong. Shaka memang pria tampan. Wajahnya tegas dengan mata tajam. Jangan lupakan bibirnya yang seksi tapi mengalahkan bon cabe level 50 untuk pedasnya.
"Dhira… " Gumam Shaka dengan mata terpejam.
Bia menarik tangannya. Dia seakan diberikan tamparan oleh pria itu. Dalam keadaan tidur pun pria itu mengingat istrinya dengan baik. Mata Bia terpejam. Dia tak mau Shaka melihatnya bangun lebih dulu.
"Beruntung sekali Mbak Dhira. Memiliki pria yang benar-benar mencintainya dengan sempurna," Lirih Bia dalam hati dengan berusaha tetap tenang.
Shaka perlahan mengusap punggung sosok yang dia peluk. Namun, sesuatu membuat jantungnya seakan meloncat saat dia merasakan sesuatu yang berbeda.
Punggung Dhira sedikit lebih kecil dan sangat dia hafal. Namun, kenapa punggung yang saat ini dia pegang terasa lebih lebar dan lebih halus.
Akhirnya Shaka memberanikan diri membuka mata. Dia melihat siapa sosok yang ia peluk sejak tadi.
Jantungnya spontan terhenti dengan kuat. Tangannya berkeringat dingin saat matanya melihat sosok yang saat ini dia peluk. Matanya spontan menunduk. Dia semakin tak bisa berkata apapun lagi saat tubuh keduanya terlihat polos di dalam selimut tebal.
Shaka benar-benar marah. Matanya berkilat tajam. Nafasnya memburu dan dengan kasar dia bangkit dari tidurnya.
"Brengsek!" Umpat Shaka yang membuat gerakan itu mengakibatkan Bia akhirnya ikut membuka mata.
"Bagaimana bisa aku tidur denganmu, Hah?" Seru Shaka dengan berteriak.
"Mas Shaka. Ini masih pagi. Jangan… "
"Aku tak peduli," Sela Shaka dengan marah. "Bagaimana aku bisa tidur denganmu, hah?"
"****!" Umpat Shaka dengan begitu marahnya.
Dia turun dari ranjang. Meraih celana pendeknya dan menyugar rambutnya ke belakang.
"Kamu memang wanita murahan!" Seru Shaka dengan kasar.
__ADS_1
"Mas! Ini perjanjian kita. Apa kamu lupa?" Seru Bia sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Tapi aku juga punya perjanjian dengan istriku. Jika kamu tak hamil, maka perjanjian kita batal!" Seru Shaka dengan kilat mata yang benar-benar membentuk sebuah kebencian yang besar. "Tapi kamu… "
"Mengacaukan semuanya. Kamu rela aku tiduri! Wanita macam apa kamu, hah?" Seru Shaka menghina dengan menunjuk wajah Bia.
Tiba-tiba ingatannya ingat akan sesuatu. Ya dia ingat sebelum dirinya tak sadar. Dia meminum minuman yang dibuatkan oleh Bia.
"Kamu campur apa minuman aku?" Tanya Shaka naik ke atas ranjang dan menunjuk wajah Bia. "Katakan padaku!"
Shaka berteriak dengan hebat. Hal itu tentu membuat Bia ketakutan. Tangan wanita itu bergetar karena baru kali ini dia melihat seseorang marah dengan begitu besar kepadanya.
"Apa yang kami campurkan!"
"Aku tak mencampur apapun!"
"****. Kamu bohong?" Sela Shaka dengan nafasnya yang memburu. "Aku tak akan tidur dengan wanita lain dalam keadaan sadar!"
"Kamu yakin, Mas. Kamu gak tergoda dengan aku yang… "
Sebuah tamparan lalu mengenai wajah Bia hingga wajah perempuan itu berpaling dan tak melanjutkan perkataannya. Bia bisa merasakan panas di pipinya. Dia bisa merasakan sakit dan juga sesuatu basah di ujung bibirnya.
Wanita itu meremat selimut yang menutupi tubuhnya. Dia bisa merasakan kemarahan Shaka yang tak main-main.
"Untuk kali ini aku menemukan wanita murahan sepertimu. Hanya demi uang, kamu rela melempar dirimu di atas ranjang pria lain, menikahinya hanya karena sebuah anak," Kata Shaka dengan ucapannya yang sangat amat pedas.
Dia lalu mendorong wajah Bia dan turun dari ranjang.
"Kamu adalah perempuan paling murahan dan rendah yang aku temui selama aku hidup!"
Setelah mengatakan itu Shaka lekas pergi dari sana. Meninggalkan Bia yang memejamkan matanya dengan nafas mulai berat.
Dia hendak marah. Dirinya hendak memukul dirinya sendiri. Namun, Bia berusaha menahannya. Bukankah semua ini sudah disepakati oleh keduanya. Namun, ternyata sakitnya seperti ini.
Hingga sekelebat bayangan masa lalu ibunya memutar. Bia menarik kedua kakinya. Menekuk dan memeluknya dengan erat.
"Maafin Bia, Bu. Apa sakitnya seperti ini dulu?" Gumam Bia dengan pelan.
Dia mencoba turun dari ranjang. Memegang selimut dan berdiri di depan cermin. Dia menatap pantulan dirinya. Menunjuk dirinya sendiri dengan tawa mengejek.
"Sejak kejadian itu. Kamu memang murahan. Kamu memang rendahan dan tak berarti untuk siapapun. Jadi untuk apa kamu menangis sekarang? Itu semua percuma untukmu!" Kata Bia dengan mata yang benar-benar tak menangis.
Dia benar-benar tak mengeluarkan air mata sedikitpun. Bia menatap dirinya dengan pandangan rendah.
__ADS_1
"Sampah!"
...****************...
Entah sudah berapa jam Shaka berada di kamar yang lain. Dia seakan mencari ketenangan. Sampai jam di dinding menunjukkan pukul sembilan. Shaka mulai keluar. Dia menatap ke arah pintu kamar, tempat dimana terjadi kejadian semalam.
Setelah itu dirinya meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja ruang tamu. Shaka duduk dan saat dirinya hendak menghubungi istrinya.
Ternyata Dhira menghubunginya lebih dulu.
"Dia memang istri terbaik," Kata Shaka dengan menggeser panggilan itu sampai tersambung.
"Selamat pagi, Sayang. Aku merindukanmu," Kata Shaka dengan pelan.
"Apa yang kamu lakukan pada Bia, Mas!" Pekik Dhira dengan marah.
Suara wanita itu terkesan berteriak. Ya sangat amat tercetak jelas jika Dhira marah.
"Apa yang kamu lakukan pada Bia , hah? Mulutmu telah menghinanya apa? Kenapa Bia membatalkan kesepakatan kita? Kenapa Bia bilang dia tak mau melanjutkan kesepakatan ini. Apa yang kamu lakukan padanya?" teriak Dhira dengan marah.
Jantung Shaka seakan berhenti berdetak. Dia menjauhkan ponsel itu dan melihat nama yang tertera lagi. Benar, disana panggilan dari istrinya. Istri yang sangat dia cintai.
"Dhira… "
"Aku tak mau mendengar penjelasan apapun, Mas. Kamu harus mencari Bia sekarang!" Kata Dhira final.
"Apa maksudmu. Apa kamu tak tahu. Dia… "
"Aku yang menyuruhnya, Mas. Aku yang meminta dia memasukkan obat di minumanmu agar semuanya segera terlaksana dan keinginan kita tercapai. Dia melakukan apa yang aku minta, Mas. Itu kemauan aku. Bukan Bia! Karena aku tahu kamu pasti mencoba mencari cara lain untuk menggagalkan semuanya," Ucap Dhira dengan suara bergetar.
"Apa kamu seyakin itu ingin cerai denganku?"
"Apa yang kamu katakan, Dhir! Pikiran macam apa itu?"
"Lalu untuk apa kamu menghina Bia sampai dia pergi, Mas?" Sahut Dhira dengan menangis.
Shaka terdiam. Dia benar-benar merasa sakit mendengar tangisan Dhira.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf," Kata Shaka menyesal.
"Kamu harus mencari Bia kemanapun. Kamu harus membujuknya agar dia mau datang lagi dengan kesepakatan kita. Jalan kita udah lebar, Mas. Tinggal sedikit lagi keinginan Mama dan Kakek terwujud. Tolong, Mas. Tolong untuk kali ini berubah. Demi pernikahan kita juga!"
~Bersambung
__ADS_1
Duh ya Tuhan, emang aku ngetik pakek emosi sih ini. Kesel, gedeg campur jadi satu.