Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Kabar Buruk


__ADS_3

...Ternyata kehadiran seorang ibu dengan mendengar suaranya saja sudah membuat hati seorang anak menjadi tenang....


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Bia menatap ponsel di tangannya dengan ragu. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hatinya tak tenang, matanya tak mengantuk. Dia benar-benar berada di titik terendahnya sekarang.


Bia butuh sandaran. Dia butuh suara ibunya. Suara yang selalu membuatnya tenang. Suara yang sejak dulu membuatnya selalu menjadi anak kecil dan bertingkah dengan apa adanya.


Suara sang pemilik hatinya. Sosok wanita yang melahirkannya, wanita yang mendidiknya menjadi wanita seperti sekarang. Wanita yang berhasil membuatnya menjadi Bia yang seperti ini.


Wanita yang rela mengorbankan kebahagiaannya. Wanita yang rela bertahan di tengah rasa sakit hanya demi anak-anaknya.


"Ibu," Lirih Bia dengan meletakkan ponsel itu di sampingnya dan setelah itu menutup kedua wajahnya dengan tangan.


Bia menangis terisak. Dia merindukan ibunya. Namun, dirinya belum siap jika ibunya tahu tentangnya.


Sampai akhirnya suara seringan ponsel membuatnya terkejut. Bia mengangkat kepalanya lalu segera menoleh ke samping ke tempat dimana ponselnya berada.


"Ibu," Pekik Bia dengan jantung berdebar.


Bia spontan mengangkat ponselnya itu. Dia menatap panggilan dari ibunya. Bia yakin ibunya tahu tentang perasaan dirinya malam ini. Bia yakin mamanya merasakan keresahan hatinya malam ini.


"Tenang, Bi. Tenang," Kata Bia lalu menunduk dan mengusap perutnya. "Perutmu masih kecil. Ibu tak akan melihatnya bukan?"


Akhirnya Bia menenangkan dirinya. Dia merapikan dirinya, duduk dengan tenang lalu mulai menggeser layar itu agar panggilan mereka tersambung.


"Assalamu'alaikum," Sapa Bia dengan menampilkan senyuman lebar saat wajah ibunya terlihat disana.


"Wa'alaikumussalam, Putri Ibu," Jawab Almeera dengan bahagia.

__ADS_1


Bia menatap wajah ibunya. Wajah yang sudah menua tapi tak berubah sedikitpun. Wajah yang selalu menampilkan senyuman teduh, wajah yang selalu membuatnya tenang dan begitu hangat serta bahagia.


"Kenapa menangis?" Tanya Almeera terkejut saat melihat mata anaknya mulai mengeluarkan air mata.


Ah Bia benar-benar sensitif. Kehamilannya yang sekarang benar-benar membuatnya mudah menangis dan menjadi wanita yang cengeng.


"Bia rindu, Ibu," Kata Bia dengan menghapus air matanya.


Almeera tersenyum. Dia membuat gerakan mengusap di kamera ponselnya dan membuat Bia tersenyum.


"Ibu juga rindu, Mbak Bia," Kata Almeera yang semakin membuat Bia tersenyum pedih.


"Dimana Ayah, Bu?"


"Apa kamu merindukan Ayah?" Tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul di samping Almeera saat kamera itu di geser.


Bia terkejut. Namun, sedetik kemudian bibirnya tersenyum bahagia. Dia menatap ke arah ibu dan ayahnya dengan bahagia.


Bara tertawa. Namun, mata pria itu berkaca-kaca. Ekspresi wajah Bara tak bisa berbohong.


"Ayah juga rindu, Mbak Bia," Lirih nya yang membuat suasana tiba-tiba penuh haru.


"Ayah jangan menangis," Pinta Bia memohon.


"Mbak Bia juga. Jangan menangis!" Kata Bara tak mau kalah.


Almeera tersenyum dengan air mata mengalir. Dia melingkarkan tangannya di bahu suaminya dan mengusapnya.


"Ayah dan Ibu sehat-sehat yah. Jangan banyak pikiran," Kata Bia mengingatkan.


Almeera mengacungkan jempolnya. Dia benar-benar menurut pada putrinya itu.

__ADS_1


"Oh iya. Ibu kenapa menelfon Bia tadi?"


Ya Bia hampir melupakan sesuatu. Dirinya yang terlalu mellow melupakan ibunya kenapa menelfonnya dulu. Bia yakin ada sesuatu yang ingin Almeera katakan padanya.


Ibunya selalu seperti itu. Ibunya selalu menelfon jika ada sesuatu yang penting.


"Ah iya. Ibu hampir lupa!" Kata Almeera dengan tersenyum.


Bara juga menghapus air matanya. Dua orang tua yang tak lagi muda itu saling tatap. Seakan memberikan kode yang membuat Bia penasaran.


"Ada apa, Bu, Ayah? Jangan bikin Bia penasaran!" Kata Bia dengan sedikit mengancam.


Almeera dan Bara tertawa. Dia menatap putrinya dengan penuh cinta.


"Hayo tebak? Apa coba?"


"Bia gak tau. Bia gak bisa nebak!"


"Ya. Gak lucu ah!" Kata Bara pura-pura marah.


"Ayah dapat job kerja besar? Perusahaan nambah? Atau… "


"Bukan!" Kata Bara dengan menggeleng.


"Lalu apa?" Tanya Bia dengan tak sabaran.


"Ibu dan Ayah besok akan ke Indonesia. Ibu akan datang ke rumahmu dan mengunjungimu, Nak. Tiketnya sudah ada dan kita berangkat terbang kesana besok pagi!"


~Bersambung


Hayo gimana kalau Mbak Meera sama Mas Bara dateng yah. Kira-kira kebongkar atau nggak?

__ADS_1


__ADS_2