Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Pamit


__ADS_3

Penyesalan terbesar adalah ketika seseorang melepaskan sosok yang benar-benar mencintainya dengan begitu tulus.


~JBlack


***


Shaka benar-benar tak membuang waktu. Begitu dia mengetahui apa yang dia lihat di dalam mobil. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering dan mendapatkan panggilan dari seseorang yang selama ini dia minta.


Ya, Shaka yak bergerak sendiri. Dia tentu sudah melewatkan banyak hal. Dia menyimpan semuanya sendiri. Mencoba mencari tahu meski beberapa lama tak mendapatkan kabar dari orang itu.


"Kau darimana saja, hah? Aku menunggu kabarmu. Tapi kau… " Umpat Shaka sambil menjauh dari mobil yang telah membuatnya mengetahui semuanya.


"Maafkan aku!" Kata seseorang dari seberang dan membuat Shaka mengernyitkan alisnya.


"Kenapa dengan suaramu? Kau sedang dimana sekarang?"


Terdengar helaan nafas berat disana. Bahkan nada suara terputus seakan orang yang diseberang sana dengan kelelahan.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku bukannya menghilang selama ini atau melupakan apa yang kau minta. Tapi aku disekap!" Kata pria dari balik ponsel yang merupakan tangan kanan Shaka.


"Apa!"


"Ya. Kakak sialmu itu memergokiku saat aku membuntuti dia bersama istrimu itu!" Serunya yang membuat jantung Shaka berdegup kencang.

__ADS_1


Akhirnya pria itu menceritakan semuanya di panggilan tersambung tersebut. Apa yang dia tahu, apa yang dia temukan. Apa yang dia dapat. Semuanya diberikan pada Shaka.


Tentu saja Shaka terkejut. Ekspresi wajah marah, kesal, kecewa, dan sedih bercampur menjadi satu. Wajah memerah dengan tangan mencengkram ponsel yang ia pegang menandakan bahwa dirinya benar-benar marah.


"Jadi anak itu!"


"Ya. Dia bukan anakmu. Anak yang Dhira kandung adalah anak kakakmu, Ka. Anak Arthir!"


Akhhhhh.


Teriak Shaka berulang kali sambil memukul setir kemudi dengan kuat. Dia benar-benar marah dan kecewa pada dirinya. Apalagi saat perkataan dan ingatan dirinya tentang apa yang baru saja dia temui.


Membuat Shaka semakin menyesal. Pria itu tentu mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tak peduli akan pekerjaan yang dia punya. Tak peduli apapun tapi yang pasti saat ini. Dia hanya ingin bertemu dengan Bia.


"Maafkan aku, Bi. Maafkan aku sudah mengecewakanmu. Aku benar-benar menyesal!" Lirih Shaka dengan menangis sambil matanya menatap ke depan dan fokus mengemudi untuk menuju ke rumah sosok wanita yang pernah dia sakiti.


***


"Non Bia," Kata Bibi Mar terkejut saat dia baru saja membuka pintu rumah dan melihat sosok wanita yang sudah dianggap anak berdiri tepat di depannya.


Bia tersenyum. Dia perlahan masuk ke dalam rumah dengan diikuti Bara dan Almeera di belakangnya. Bibir Mar tentu terdiam dengan menunduk. Apalagi saat Almeera dan Bara meminta wanita yang sudah tak lagi muda itu duduk di sofa seberang mereka membuatnya tak berani mengangkat kepalanya.


"Tuan, Nyonya. Saya ingin minta maaf. Maafkan saya jika… "

__ADS_1


"Kami sudah memaafkanmu, Bi," Ujar Almeera dengan tersenyum. "Kami sangat mengerti bagaimana berada di posisimu."


Almeera mengatakan itu dengan tenang. Tak ada dendam di hati ibu empat anak itu. Almeera benar-benar sudah ikhlas dan menerima semuanya.


"Seharusnya kami ingin mengucapkan terima kasih," Lanjut Bara dengan suaranya yang seperti biasanya, tegas. "Terima kasih sudah menjaga putri kami sampai sekarang. Terima kasih sudah menganggapnya seperti anak sendiri."


"Kami benar-benar berutang budi padamu," Lanjut Bara yang membuat Bibi Mar meneteskan air mata.


"Tuan, Nyonya. Saya benar-benar sudah nyaman bekerja dengan Non Bia. Dia benar-benar tak membedakan saya, meski saya hanya pelayan."


Almeera dan Bara mengangguk. Dia sangat tahu apa yang dikatakan oleh wanita di depannya ini. Bagaimana Bia memperlakukan semua orang, bagaimana putrinya itu selalu menghormati orang yang lebih tua tanpa membedakan status sosial.


"Bi," Panggil Bia pelan dan bergerak pindah tempat duduk. "Bia titip rumah ini yah."


"Maksud, Nona Bia?"


Bia tersenyum. Dia meraih kedua tangan Bibi Mar dan di genggamnya.


"Tolong jaga rumah ini ya, Bi. Bia mau pergi sebentar."


"Pergi kemana, Non?" Tanya Bibi Mar dengan meneteskan air mata.


"Ke tempat dimana seharusnya Bia berada," Ujarnya sambil tersenyum. "Jadi tolong jaga rumah ini selama Bia gak ada ya, Bi. Bia akan kembali suatu saat nanti dan datang ke rumah ini."

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2