Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Alasan Bia


__ADS_3

...Aku tahu apa posisiku disini tapi aku hanya takut jika terjadi sesuatu pada anakku, buah hatiku dengannya dan pria yang membuatku jatuh cinta berlipat-lipat ganda....


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Malam itu, malam dimana Bia yang belum tidur. Dirinya merasa perutnya sakit. Bia memegang perutnya yang terasa kram lalu mulai duduk.


Bia duduk di atas ranjang dengan tarikan nafas yang berat. Dia benar-benar merasa sakit dan tak nyaman sampai akhirnya dirinya ingin buang air kecil.


Akhirnya Bia tak mau menunda. Dia sudah sangat ingin dan membuatnya masuk ke dalam kamar mandi. Sampai akhirnya saat perempuan itu baru saja menurunkan ****** ***** miliknya. Mata Bia terbuka lebar.


Dia membelalak tak percaya saat melihat bercak darah disana.


"Darah!" Lirih Bia dengan tangan gemetaran.


Dia menelan ludahnya paksa. Wanita itu benar-benar takut bukan main. Bia tak mau menjadi alasan karena terjadi sesuatu anaknya sendiri.


"Kenapa denganku?" Gumamnya yang langsung berpegangan saat kakinya mulai lemah.


Pikiran buruk mulai berputar. Apalagi dia yang dokter sangat tahu apa maksud darah keluar ini. Dia tak mau dan tak mau menakuti karena hal itu.


"Akhh Bibi Mar!" Teriak Bia yang membuat dirinya lekas mencoba berjalan ke arah ranjang.


Belum sampai dia duduk. Bibi Mar datang dan langsung memeluk lengan istri tuannya itu.


"Ada apa, Non?"


"Astagfirullah!" Bibi Mar terbelalak tak percaya.


Apalagi saat dia melihat darah yang mengalir di kakinya membuatnya takut.


"Non!" Pekik Bibi Mar ketakutan.


"Bibi tolong antar aku, Bi. Please tolong aku!" Kata beberapa perempuan disana.


"Tapi… "


"Kumohon, Bi. Ayo!" Kata Bia setelah dia mendapatkan panggilan. "Aku ingin ke dokter, Bi. Aku hanya ingin melihat kondisi anakku."


***

__ADS_1


Di sebuah ruangan tempat pemeriksaan. Bia terus merasakan sakit. Dia dengan mandiri tentu menguatkan dirinya sendiri. Tak ada lagi teman di sampingnya. Bia bahkan tak memiliki siapapun kecuali Bibi Mar.


Tak ada yang tahu dan tak pernah tahu.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Bia dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Dimana suami, Anda?" tanya seorang dokter yang membuat Bia tak mengerti.


"Suami?" ulangnya dengan bingung.


"Ya. Saya ingin berbicara dengan suami anda. Ada banyak hal yang ingin kami bicarakan tentang kandungan Anda. Anda sedang stress berat dan membuat Anda sampai pendarahan. "


Jujur untuk ukuran hamil. Bia juga takut. Takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka. Namun, untuk urusan pikiran Bia mengakui akan hal itu. Akhir-akhir ini dia seperti kepikiran terus.


"Maksud Dokter apa? Memangnya saya sakit apa? Kenapa saya bisa pendarahan? Anak saya baik-baik saja kan dok?" tanyanya Bia dengan khawatir.


Wajah calon ibu itu ketakutan. Dia takut jika terjadi sesuatu dengannya. Dia takut jika kandungan mereka bermasalah.


Jujur gadis itu merasa dia tak mau kehilangan. Lalu darah yang keluar dari dalam dirinya tentu membuat Bia sudah overthinking. Bia juga mengingat jika dia jatuh terduduk. Meski tak kuat, Bia yakin karena hal itu dia pendarahan.


"lebih baik kita melakukan USG dulu untuk mengecek kondisi bayi. semoga dia mampu bertahan," kata Dokter dengan pelan.


Bia tak banyak bicara. Dia hanya mengangguk pasrah ketika ranjang miliknya di dorong. Ranjang miliknya ternyata di bawa ke sebuah ruangan USG.


Hingga pikirannya mulai memutar. Memutar dimana beberapa hari ini otaknya memang terus kepikiran Shaka. Dia bahkan sering telat makan karena menanyakan keberadaan Shaka yang tak kunjung datang .


Mengertilah mood ibu hamil ini sering naik turun. Terkadang dia sedang rindu dan ingin ketemu tapi sepertinya untuk ketemu saja terasa sulit.


"Kami mohon yang terlalu stress. Jangan memikirkan apa yang tak penting dalam diri Anda. Berikan kebahagiaan pada anak yang Anda kandung. Dia adalah anugerah dari Tuhan dan tak semua wanita bisa merasakannya."


Bia mematung tak percaya. Bahkan dia berpikir jika apa yang dia lakukan. Apa yang ia lakukan disini sebagai bentuk penyesalan. Dia menjadi sangat amat menyesal. Menyesal karena kelakuannya, anaknya yang harus menebusnya.


"Aku akan memberikan obat penguat yah. Janin Anda benar-benar mengikuti perkembangan buku tapi Anda harus menjaganya ini agar darahnya tak semakin keluar."


"Baik, Dok," sahut Bia dengan pelan lalu dirinya menatap ke arah perutnya.


"Semoga kamu selamat, Nak. Meski hadirmu harus dipisahkan oleh ibu nanti dan hidupmu diinginkan oleh mereka berdua."


Bia hanya mengangguk. Dia pasrah saat perutnya mulai diberikan gel oleh perawat. Perlahan, Bia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh perutnya. Lalu tak lama sebuah alat digerakkan di atas sana.


Dokter mulai menatap ke layar yang ada di tangannya. Dia menggerakkan tangan kanannya yang ada di atas perut Bia dengan tangan kiri menekan tombol yang ada di alat di depannya.

__ADS_1


"Mbak bisa lihat, disana," kata dokter menunjuk sebuah titik kecil . "Itu anak anda. Sudah besar kan?"


Jantung Bia berpacu cepat. Matanya menatap setitik kehidupan yang ada dalam dirinya. Sebuah keajaiban yang Allah berikan kepadanya.


"Jadi…" tanya Bia dengan air mata mengalir dan bingung.


"Anak mbak masih bisa selamat. Anak mbak sangat kuat, " kata Dokter lalu mulai menjauhkan alat itu dari perutnya. "Lain kali Anda harus lebih hati-hati. Di luar sana banyak calon ibu yang ingin segera hamil dan merasakan sosok kecil dalam perutnya tapi belum dianugerahi."


"Lalu Anda, yang diberikan kepercayaan oleh Tuhan. Jagalah dengan baik!"


Jantung Bia mencelos. Perkataan itu seakan menampar kenyataan dirinya. Kenyataan dimana dia hampir kehilangan anak itu. Kenyataan dimana anaknya lahir sebentar lagi


"Anda harus banyak istirahat. Jangan terlalu kecapekan dan melakukan hal berat," nasehat dokter untuk kesekian kalinya.


"Iya, Dokter."


Akhirnya Bia mengucapkan terima kasih. Dia juga dibantu naik kursi roda menuju mobilnya oleh Bibi Mar.


Dua orang itu mulai masuk ke dalam mobil dengan supir yang membasahi keduanya.


Bia hanya bisa menurut. Apalagi ketika menyangkut sosok yang mulai tumbuh di dalam perutnya.


"Sekali lagi, terima kasih, Bibi Mar. Sudah menemani Bia disini."


"Sama-sama."


"Ternyata aku yang takut kehilangan anak kita semalam. Kamu asyik berdua dengan Mbak Dhira, Mas!" Kata Bia dengan perasaan yang sakit saat menatap dua orang itu yang terlihat bahagia.


Ibu hamil satu ini terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia mengangkat tangannya dan mengusap perutnya yang sedikit menyembul. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.


Dia hampir kehilangan jantung hatinya. Dia hampir kehilangan anak yang dia kandung. Anak yang menjadi kebanggaan dan harapan Dhira dan Shaka.


"Kamu benar-benar jahat, Mas. Jahat!" Lirih Bia lalu segera berjalan meninggalkan area CFD tersebut.


Dia memegang perutnya dan berjalan dengan pelan. Perempuan itu bahkan sambil menahan air matanya yang ingin marah. Wanita itu mengusapnya dengan pelan dan merasakan sedikit kram walau tak sesakit semalam.


"Aku tak mau terjadi hal buruk seperti ini, Tuhan. Aku tak mau anakku pergi meninggalkanku. Berikan aku dan anakku sedikit harapan baik!"


"Aku hanya ingin mengandungnya, melahirkannya lalu setelah itu aku akan memberikan apa Mbak Dhira dan Mas Shaka. Aku tak mau sakit hati terus, aku akan mengalami sakit hati itu lalu perlahan mulai tidur dengan nyaman."


~Bersambung.

__ADS_1


yang kemarin bilang Mbak Bia suka ganggu. baca dulu dih. gue yakinn kalian pandai bahasa begini.


__ADS_2