
...Terlihat menyakitkan memang. Namun, kenangan masih itu masih terlihat jelas dan tergamnar baik dalam pikiranku....
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Ayo kita periksa, Bi! Aku sudah membuat janji dengan Dokter Kandungan," ajak Dhira dengan bahagia.
Ketiganya telah selesai makan bersama. Ya, Dhira benar-benar memanjakan Bia dengan baik. Wanita itu memesan makanan yang sehat dan memberikan pada Bia untuk dimakannya.
Bia mengangguk setuju. Dia tak bisa melakukan apapun. Dirinya juga tak bisa menolak. Ini adalah kehamilan pertamanya, periksa pertamanya yang dilakukan bersama pasangan suami istri yang berjalan lebih dulu di depannya.
Bia tersenyum kecil saat matanya menatap bagaimana Dhira dan Shaka seakan memiliki dunianya sendiri.
"Silahkan masuk, Sayang," Kata Shaka sambil membukakan pintu mobil.
Dhira tersenyum. Dia mengusap rahang Shaka sebelum masuk ke dalam mobil. Tanpa kata pria itu memutari mobil dan juga masuk mulai masuk melalui pintu kemudi.
"Mas, Bia…" Kata Dhira yang ingat.
"Ah iya. Aku… "
"Gapapa, Mas. Aku bisa buka sendiri kok," Sahut Bia dengan mulai duduk dengan tenang dan memberikan senyuman manis.
Dhira menatap ke belakang. Dia meraih tangan Bia dan menggenggamnya.
"Maaf ya, Bi."
Bia menggeleng. Dia membalas genggaman tangan Dhira dan tersenyum.
"Aku gapapa, Mbak. Aku baik-baik saja."
"Pakai sabuk pengamanmu, Sayang. Kita berangkat!"
Akhirnya Dhira, Bia dan Shaka segera meluncur ke rumah sakit dimana wanita itu sudah mendaftarkan adik madunya. Hari ini Dhira benar-benar menyiapkan semuanya sendiri masalah dokter.
Bagaimanapun yang utama untuknya adalah anak yang dikandung Bia. Bagaimanapun yang terpenting untuk Dhira adalah bertemu dan melihat kondisi anak yang ada di perut Bia.
Dia ingin segera mengetahui bagaimana bentuk malaikat kecilnya. Maklum, wajar anak pertama yang sangat dinantikan. Anak pertama yang begitu dinanti oleh dirinya dan Shaka akan segera hadir.
"Aku udah gak sabar, Sayang. Aku pengen tahu sebesar apa Shaka kecil disini," kata Dhira yang memulai pembicaraan sambil menatap ke belakang sebentar.
"Aku juga. Aku ingin melihat seberapa besar anak kita, Sayang," Sahut Shaka pada Dhira.
__ADS_1
"Percayalah! Shaka kecil mungkin sebesar biji jagung," Kata Dhira sambil membuat bentuk tangan seperti lingkaran sangat amat kecil.
"Dia sehat?" Tanya Shaka pada Dhira.
Dhira mengangguk. Di meraih tangan kiri suaminya yang bebas dan menciumnya.
"Anak kita pasti sehat, Sayang. Apalagi Bia berjanji akan menjaganya. "Iya, 'kan, Bi?"
"Iya, Mbak. Aku akan menjaganya dengan baik. Sampai anak ini lahir ke dunia!"
Pria itu benar-benar sangat bahagia. Tak ada yang mampu menutupi rasa bahagia itu dari wajah pasangan suami istri yang terlihat begitu mesra.
Tangan yang saling bertaut, Shaka yang sengaja mengemudi dengan satu tangan agar bisa bermesraan. Semua itu tentu dilihat dan dipandang oleh Bia.
Oleh kedua matanya sendiri. Oleh mata Bia sendiri.
"Kalau kamu nyetirnya pelan gini. Kapan kita sampai?" Seru Dhira sambil menatap jalanan luar yang begitu banyak lalu lalang kendaraan.
"Aku tak mau Bia kecapekan, Mas! Ayo cepat!"
"Sayang! Bia hamil. Dia harus hati-hati!" Bela Shaka tak mau kalah.
"Tapi gak harus pelan banget, Sayang. Kalau kayak gini, kita bisa telat!"
"Aku akan menambah laju mobilnya. Kalau perut kamu sakit. Bilang sama aku, Bi?" Kata Shaka sambil menoleh ke belakang.
Bia terlihat menghela nafas pelan. Namun, dia menatap wajah Shaka dari tempat duduknya.
"Iya, Mas. Kalau aku merasa tak nyaman. Aku akan bilang!"
Akhirnya Shaka menambah laju mobilnya. Dia mengemudi dengan kendaraan yang lumayan cepat sampai akhirnya keduanya sampai di rumah sakit.
"Pelan-pelan, Bia," Kata Shaka sambil membukakan pintu mobil.
Ibu hamil itu tersenyum. Entah kenapa perhatian kecil begini saja membuatnya merasa bahagia dan senang. Diperhatikan oleh pria yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat dinantikan.
Dhira benar-benar membuat ibu hamil itu merasa sangat diprioritaskan, disayangi dan diperhatikan. Langkah kaki keduanya berjalan beriringan. Dengan tangan mereka saling menggenggam satu dengan yang lain.
Senyuman tak lepas dari bibir mereka. Bahkan sesekali tatapan mereka saling bertemu pandang.
"Nona Bia!" panggil perawat yang berjaga di depan.
Ketiga orang itu segera masuk. Tangan Dhira dan Shaka saling bertaut. Jantung keduanya begitu luar biasa berdegup kencang.
__ADS_1
"Silahkan duduk," ujar wanita berpakaian sneli putih dengan ramah. "Ada keluhan?"
"Begini, Dok. Kami kesini ingin mengantar temanku periksa."
"Teman?" Ulang wanita berwajah masih muda menatap Dhira tak percaya.
"Oke oke. Aku jujur. Dia adalah istri kedua suamiku. Dia sedang hamil. Mereka habis melakukan perjalanan honeymoon. Jadi butuh istirahat!" Ujar Dhira dengan enteng.
"Apa!" Seru wanita itu dengan kaget. "Lu gila, Dhir? Kamu gila banget yah. Bisa-bisanya kalian ngelakuin itu pada gadis tak berdosa!"
"Udah diem!" Seru Dhira tetap diam. "Cepat periksa dia! Aku ingin melihat anakku sekarang!"
"Ayo kita tes dulu. Bukankah ini kehamilan pertama dan tes pertama anda, bukan?" tanya dokter itu pada Bia.
"Iya, Dok."
"Gunakan itu lalu segera kembali kemari!" kata dokter yang membuat Bia menganggu.
Bia tentu segera ke kamar mandi. Dia mengetes kehamilannya dengan alat hamil. Setelah itu dia membawa alat tes hamil itu lagi dan memberikannya pada dokter.
"Dua garis," Ujar dokter sambil mengarahkan ke arah Dhira dan Shaka.
Tanpa kata Dokter segera meminta Bia berbaring untuk segera diperiksa. Dhira tentu masih memiliki perasaan tak yakin atau bisa dibilang curiga.
Istri Shaka itu merasa gugup saat sebuah gel dingin diberikan di atas perutnya. Lalu kemudian sebuah alat diletakkan disana dan digerakkan dengan pelan.
Layar yang mulanya hitam mulai menyala dan menampilkan gambar yang kurang jelas memang. Kemudian Dokter meminta Dhira, Bia dan Shaka menatap layar itu dengan seksama.
"Selamat, Ka. Istrimu benar-benar hamil," kata dokter itu dengan senyuman lebar. "Dan titik itu adalah calon anak kalian."
Mata Shaka kembali berkaca-kaca. Dia menatap layar itu dengan hati yang bergetar. Jiwanya benar-benar tak bisa sebahagia ini saat melihat wujud anaknya yang masih berupa titik kecil.
Ahh entah kenapa perasaan calon ayah ini sangat sensitif jika menyangkut anaknya. Dia merasa bergetar saat melihat layar itu.
"Itu beneran anakku, 'kan, Dok?" tanya Shaka yang masih benar-benar takjub dengan hadiah dari Tuhan.
"Iya, Ka. Itu benar-benar anakmu," kata Dokter lalu membersihkan gel itu dari perut Bia.
"Apa anak kami sehat, Dok?" tanya Dhira dengan serius.
"Sehat," sahut Dokter lalu memberikan hasil usg itu pada pasangan suami istri di depannya ini. "Kandungan istri keduamu masih memasuki usia empat minggu. Aku harap jangan terlalu lelah dan selalu jaga makan-makanan yang sehat untuknya."
~Bersambung
__ADS_1
Akhirnya yekan. Huhu terharu banget aku tuh. semangat buat kita?