
...Akan ada masa dimana kamu merindukan dia yang selalu ada untukmu dan berbuat dengan mengutamakanmu daripada dirinya sendiri. ...
...~JBlack...
...****************...
Suara ketukan pintu membuat seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi menoleh. Wanita dengan mata sembab itu segera berjalan ke arah pintu kamarnya saat mendengar suara wanita yang sangat dia kenal.
"Iya, Bi?" Tanya Bia dengan membuka kamarnya dan tersenyum.
"Makan malamnya sudah siap, Non. Ayo makan! Kasihan dedek bayinya kelaparan," Kata Bibi Mar dengan penuh perhatian.
"Tapi… "
"Bibi buat martabak telur spesial buat, Non Bia. Non wajib cobain karena kata Tuan, martabak Bibi itu paling enak di Jakarta!" Kata Bibi Mar dengan bangga.
Bia menelisik keluar. Dia menatap ke arah seluruh ruangan untuk mengecek sesuatu yang tak ingin dia temui.
"Non cari Tuan Shaka?"
"Eh enggak, Bi!" Kata Bia mengelak.
Bibi Mar tersenyum. Dia benar-benar merasa gemas dengan tingkah pasangan suami istri di hadapannya ini.
"Tuan Shaka sudah pulang. Non Dhira menelfon tadi," Ujar Bibi Mar yang membuat Bia menghembuskan nafasnya lebih lega.
"Bia taruh handuk dulu ya, Bi. Habis itu Bia susul ke meja makan!"
Akhirnya Bia kembali ke dalam. Dia merapikan handuknya lalu segera keluar dari kamar. Baju daster murahan menempel di tubuh Bia yang membuat perutnya yang masih tak besar itu tak terlihat.
Aroma martabak telur itu sudah tercium di hidung Bia. Perempuan dengan mata berbinar cerah itu akhirnya memilih duduk dan mulai menatap martabak dengan warna brown yang menggiurkan.
"Bia boleh makan sekarang kan, Bi?"
"Tentu, Non."
Bibi Mar mengambilkan martabak itu lalu meletakkan di atas piring Bia. Dia juga mengambilkan nasi dan membuat perasaan Bia menghangat. Dia jadi inget ibunya.
Ah sudah berapa lama dia tak menelfon orang tuanya. Semenjak dirinya hamil, semenjak dirinya terjerat dengan kehidupan Dhira dan Shaka. Bia sadar jarang menghubungi orang tuanya.
"Non. Non Bia… " Panggil Bibi Mar menepuk lengan Bia yang melamun.
__ADS_1
Bia menoleh. Air mata menetes dan membuatnya segera menghapusnya.
"Non Bia kenapa nangis?" Tanya Bibi Mar yang khawatir. "Ada yang sakit kah?"
Bia menggeleng. Dia berusaha menarik nafasnya dengan pelan lalu menghembuskannya. Dia mencoba untuk tetap tenang agar dirinya tak semakin kebawa perasaan.
Sepertinya masa kehamilan ini benar-benar membuat dirinya selalu ingin menangis. Perasaan dirinya lebih sensitif dan dia semakin mudah kebawa perasaan.
"Bia hanya sedang rindu Ibu dan Ayah Bia, Bi," Jawab Bia dengan jujur.
"Non Bia masih…"
"Ya. Bia masih ada orang tua," Jawabnya mengangguk.
Bibi Mar terkejut. Mata wanita yang tak lagi muda itu terbelalak tak percaya.
"Lalu apakah mereka tau soal ini?" Tanya Bibi Mar menunjuk perut Bia dengan pelan.
Bia menggeleng.
"Mereka tak tahu apapun. Bahkan tahu Bia menikah saja. Tidak!" Kata Bia dengan menatap ke depan. "Hanya kakak laki-laki ku yang tahu, Bi. Aku menyembunyikan sebuah rahasia dari mereka. Aku tak mau membuat orang tuaku kecewa denganku. Aku tak mau membuat mereka marah dan tak bangga lagi denganku. Kesalahan masa lalu sangat buruk. Aku yakin orang tuaku akan malu kepadaku!"
Bia menunduk. Wanita itu menangis lagi. Kejadian masa lalu benar-benar menggores hatinya dan membuat Bia sangat amat tersakiti dan ketakutan.
Dia pindah duduk dan segera menarik Bia dalam pelukannya. Hubungan keduanya yang dekat. Bia yang selalu terbuka dan menganggap Bibi Mar seperti neneknya sendiri tentu merasa bahagia dengan pelukan ini.
Pelukan hangat dan menenangkan. Pelukan sederhana yang membuat Bia masih merasa dia memiliki seseorang yang selalu ada untuknya.
"Jangan dibuat beban, Non. Keluarkan semuanya. Jangan menyimpannya sendiri karena itu tak baik untuk ibu hamil," Kata Bibi Mar mengingatkan.
"Iya, Bi. Maafkan Bia yah. Bia akan berusaha lebih terbuka pada diri Bia sendiri."
Bibi Mar mengangguk. Dia melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata Bia dengan pelan. Wajah putih itu tentu terlihat jelas kemerahan bekas air mata yang diusap.
Hidung memerah dan juga mata yang bengkak tanda memperlihatkan dia yang habis menangis sangat jelas terlihat.
"Sekarang lebih baik Non Bia makan. Bibi yakin perasaan Non Bia akan lebih baik setelah makan martabak buatan Bibi!"
...****************...
"Assalamu'alaikum," Salam Shaka saat dia baru saja sampai di rumahnya.
__ADS_1
Pria dengan pakaian yang sudah lusuh itu mulai masuk ke dalam rumah dengan menenteng tas kerjanya. Dia melonggarkan dasi yang mengikat lehernya dan berjalan ke arah sofa ruang tamu.
Tak ada jawaban apapun. Bahkan Shaka juga tak melihat istrinya di mana. Shaka memilih meletakkan tas kerjanya di sofa lalu duduk disana untuk bersandar.
"Minumnya, Mas. Bia yakin Mas Shaka capek kan habis kerjain tugas kantor," Ucap suara yang tiba-tiba terdengar dan membuat Shaka yang sedang menenangkan jantungnya dengan mata terpejam itu makin memutar ingatannya.
"Teh hijau hangat!" Kata Bia dengan senyuman manis.
Mata Shaka perlahan terbuka. Dirinya menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah meja di depannya.
Kosong! Tak ada minuman seperti Bia yang selalu membuatkan dirinya.
Dia ingat betul semua kenangan di Singapura. Setiap kali dia selesai mengerjakan tugas kantor. Shaka akan mendapati Bia membuatkan teh hijau untuknya.
"Oh, Tuan. Maaf. Bibi baru saja selesai membersihkan belakang," Kata seorang pelayan yang melihat kedatangan tuannya.
"Gakpapa, Bi," Jawab Shaka lalu beranjak berdiri. "Dhira kemana?"
"Nyonya Dhira ada di taman belakang."
Shaka akhirnya berjalan dan meninggalkan tasnya di sofa. Dirinya menuju ke pintu penghubung antara rumah dengan taman belakang rumahnya.
Dari jauh, Shaka bisa melihat istrinya sedang sibuk dengan kegiatannya. Semakin dekat, Shaka bisa melihat jika istrinya itu sedang melakukan pengecatan kuku di tangannya dengan seorang teman wanita.
"Sayang!" Panggil Shaka yang membuat keduanya menoleh.
"Aduh, Lit. Liat kan? Ihh!" Seru Dhira dengan kesal. "Mas Shaka ada apa sih? Gara-gara Mas Shaka ngagetin jadi berantakan kan?"
Shaka mengerutkan keningnya. "Gara-gara aku?"
Shaka tak habis pikir. Dia merasa lelah dan menyusul istrinya untuk melepas rasa lelah tapi malah diberikan jawaban seperti itu.
"Aku baru pulang dari kantor loh, Dhir. Aku mau dekat kamu karena capek banget tapi kamu… "
"Mas jangan manja lah, Mas!" Seru Dhira dengan mata menatap tangannya yang mulai dirapikan lagi cat kukunya. "Kamu udah besar, Mas. Kamu udah bisa sendiri kan? Kalau capek, kamu istirahat aja. Tidur!"
Shaka tak habis. Dia menatap istrinya dengan pandangan kesal dan marah. Kepalanya hampir pecah dengan memikirkan Bia tadi. Lalu dirumah bukannya mendapatkan ketenangan malah dia berdebat dengan Dhira.
"Udah sana lah, Mas. Ada Bibi juga kan? Kalau Mas Shaka capek, minta buatin Bibi teh hangat biar badan Mas Shaka anget. Habis itu baru mandi dan tidur!"
~Bersambung
__ADS_1
Duh mas jan bilang mau bandingin ya ama anak gue. jelas jauh banget! anak gue udah cantik, pinter kan. Lah istri lu? huhu