
...Terkadang sesuatu yang kita harapkan tak pernah bisa sama seperti apa yang terjadi sekarang. Sebuah rencana kita pasti akan berubah dan menjadi lebih baik dengan rencana Tuhan....
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Kling.
Sebuah pesan masuk membuat percakapan antara anak dan ayah itu terputus. Wajah keduanya spontan menatap ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja di dekat sofa yang diduduki Bara dan Bia.
Wanita yang tengah berbadan dia itu menelan ludahnya saat melirik ayahnya yang juga tengah menatap layar ponselnya yang menyala.
"Ada pesan, Bi," Kata Bara yang membuat Bia tetap mencoba terlihat tenang.
"Iya, Ayah. Mungkin dari temanku. Aku besok mendapatkan shift pagi," Ujar Bia yang membuat Bara mengangguk.
"Menginaplah disini untuk hari ini dan besok pagi. Ayah akan mengantarmu," Kata Bara yang membuat Bia menoleh.
"Tapi… "
Bia seakan susah mengatakan apa yang ingin dia katakan saat matanya menatap ekspresi wajah ayahnya. Entah kenapa dia tahu ini adalah hal yang sudah biasa dilakukan oleh Bara sejak dia sekolah dulu.
Ayahnya akan mengantarnya kemanapun tanpa mengenal lelah. Meski baru pulang kerja, jika Bia mengajak bermain, pergi ke mall atau mengantarnya les privat. Maka Bara akan mengantarnya dengan sepenuh hati.
"Kenapa, Bi?"
"Gakpapa, Yah. Bia cuma takut ayah kecapekan," Ujar Bia yang membuat Bara tersenyum.
"Ayah hanya mengantarmu, Nak. Bukan menemanimu. Jadi apa yang membuat ayah capek?" Tanya Bara dengan menaikkan salah satu alisnya yang membuat Bia tersenyum dengan penuh paksaan.
"Baiklah."
"Ayah akan keluar. Kamu istirahat, oke. Dan besok, tuanmu ini akan mengantar putri kesayangannya," Kata Bara dengan mengangkat tangannya membuat posisi hormat yang membuat Bia tertawa tapi membalasnya dengan hormat juga.
"Selamat istirahat, Ayah."
"Kamu juga, Sayang," Ujar Bara sebelum akhirnya dia keluar dari kamar putrinya dan meninggalkan Bia sendirian.
Bia terlihat menghela nafas lega. Dia mengunci pintu kamarnya lalu segera berjalan ke arah meja dimana ponselnya berada. Perempuan itu lekas membawanya ke atas ranjang lalu membuka kunci layarnya itu dan segera membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
"Namun ada dimana, Bi? Aku datang ke rumahmu dan kata Bibi, kamu belum pulang sama sekali," Kata Bis mengeja pesan yang dikirimkan oleh Shaka kepadanya.
Dia melupakan sesuatu. Dia melupakan memberikan kabar pada Shaka. Perempuan itu benar-benar lupa jika ada pria yang harus dikabari setiap saat.
__ADS_1
Saat Bia hendak membalas pesan itu. Sebuah getaran di ponselnya membuatnya menunduk.
Sebuah panggilan dari Shaka yang membuat Bia spontan turun dari ranjangnya kembali. Dia mengambil headset yang diletakkan di dalam tasnya lalu membawanya kembali ke atas ranjang.
Dia tak mungkin menelepon tanpa menggunakan alat ini. Dia takut ada seseorang yang mendengar percakapan mereka.
"Assalamu'alaikum," Sahut Bia saat dia menggeser layar itu dan menerima panggilan itu.
Layar ponsel itu perlahan menampilkan sosok wajah pria yang ia cintai. Sosok wajah pria yang menikahinya karena sebuah alasan.
Ya, Shaka menghubunginya dengan melakukan videocall dan hal itu entah kenapa membuat perasaan Bia seakan merinding tak karuan.
"Kamu kemana saja, Bi? Kenapa kamu tak pulang? Apa kamu marah sama aku? Apa kamu kecewa sama aku, hah? Iya? Kalau kamu marah aku minta maaf… "
Bia merasa terpanah saat melihat wajah Shaka yang cerewet di layar ponselnya. Dia bisa melihat bagaimana khawatirnya wajah pria itu padanya.
Dia bisa melihat ekspresi wajah Shaka yang sangat amat jarang dia lakukan dan dia lihat. Wajah yang benar-benar seakan peduli padanya. Ekspresi wajah yang mencari keberadaan dirinya.
"Pulanglah, Bi. Jangan bikin aku khawatir. Aku janji gak bakal marah lagi!"
Kata Shaka mengatakan semuanya tanpa jeda. Pria itu benar-benar menjadi pria cerewet kali ini. Pria yang menunjukkan bagaimana khawatirnya dirinya pada sosok Bia.
"Kenapa diam? Jawab, Bi?"
"Apa kamu bilang?"
"Cerewet!"
Shaka melototkan matanya. Bukannya Bia takut, ibu hamil satu ini entah kenapa malah tertawa dengan tanpa beban. Bia benar-benar merasa lucu dengan ekspresi wajah suaminya itu.
Wajah yang membuatnya tenang, membuat dirinya tak merasa takut. Meski beberapa waktu yang lalu dia benar-benar merasa takut dengan keberadaan kedua orang tuanya. Namun, entah kenapa melihat wajah Shaka saja membuatnya tenang.
"Teruslah tertawa seperti itu, Bi," Kata Shaka tiba-tiba yang membuat Bia menatap layar ponselnya dengan lekat.
"Jangan menangis dan maafkan aku yang sering membuatmu menangis, sedih dan tertekan. Aku janji tak akan membuatmu menangis lagi," Kata Shaka berlanjut dengan wajah yang serius. "Jadi pulanglah! Aku merindukan kalian."
Jantung Bia terasa berdegup kencang. Dia mampu melihat wajah serius di ekspresi wajah Shaka. Dia mampu melihat perkataan suaminya itu sungguh-sungguh.
"Merindukan siapa?"
"Kalian," Kata Shaka yang membuat Bia menyangga kepalanya dengan tangan.
"Kalian itu siapa? Gak ada namanya. Mana aku ngerti, Bapak?"
__ADS_1
"Aku merindukan kamu dan anak kita."
Akhhhh.
Bia ingin berteriak kencang. Bia ingin histeris rasanya. Jantungnya berdebar kencang. Dirinya benar-benar merasa dejavu, akhh bukan. Ini mimpi. Mimpi besar yang dia inginkan sejak dulu.
Apa ini pertanda cintanya berbalas?
Apa ini tandanya jika cintanya mendapatkan balasan dari Shaka?
"Jadi pulang yah?"
Bia berusaha menerapkan ekspresi wajahnya. Dia menelan ludahnya lalu menegakkan tubuhnya. Menyandarkan punggungnya kembali ke ranjang lalu menatap ke arah Shaka dengan ekspresi wajah yang terlihat tenang.
"Kamu gak jelas bilangnya. Bilang apa sih?" Goda Bia yang sangat ingin membuat dirinya kembali mendengar perkataan suaminya itu.
"Aku merindukan kamu dan anak kita!" Teriak Shaka yang membuat Bia tersenyum dengan lebar.
Dia benar-benar merasa bahagia. Dia merasa tak menyangka dengan perkataan Shaka. Perkataan yang dulu sangat ingin dia dengar. Perkataan yang menurutnya mungkin itu hanya mimpi tapi sekarang benar-benar nyata dia dengar.
Kalimat yang sangat amat berhasil membuat dirinya berharap. Berharap dari hubungan yang penuh perjanjian ini.
"Aku akan pulang besok siang. Setelah pekerjaan di rumah sakit selesai," Kata Bia yang membuat Shaka mengerutkan keningnya.
"Kenapa gak pulang sekarang?"
Bia terlihat bingung. Dia melirik suasana kamar yang sangat amat membuatnya selalu merasa nyaman dan tenang.
"Jawab, Bi. Kamu dimana sekarang," Tanya Shaka yang terdengar tak sabaran.
Bia menelan ludahnya paksa. Berusaha untuk menutupi semuanya tapi apakah itu benar?
Ah tidak! Jika dia tak mengatakan hal yang benar adanya. Dia takut Shaka akan berbuat nekat atau bisa-bisa semua yang dia tutupi akan terbongkar.
"Aku sedang ada dirumah orang tuaku," Kata Bia pelan yang membuat Shaka terdiam.
Dia tak mengatakan apapun. Ekspresi wajah Shaka berubah dan menatap Bia dengan lekat.
"Orang tuamu belum tahu tentang kita, 'kan?" Tanya Shaka dengan pelan di layar ponselnya.
~Bersambung
Duh mas shaka udah bilang kangen aja. Trobos aja mas, eh bilang cinta sekalian ahhaha.
__ADS_1