
Kenyataan yang didapat adalah sebuah kepahitan. Memang sulit tapi percayalah apa yang sudah dikatakan adalah sebuah kesadaran bahwa cinta yang kumiliki tak akan berbalas.
~Bia Quinsa Altafunisha
***
"Aku akan membantu Mas Shaka mengurus semuanya dan kau!" Kata Dhira menunjuk Bia yang masih shock dengan apa yang dikatakan oleh Shaka. "Jangan pernah muncul dihadapanku dan Mas Shaka lagi."
Percayalah Bia tak mendengar apapun. Di dalam otaknya sekarang hanya kata talak dari Shaka yang terngiang di kepalanya. Kata yang tak pernah ada dalam pikirannya. Kata yang dikatakan oleh Shaka benar-benar sangat mengejutkan.
"Mas Shaka," Panggil Bia lagi setelah dia berusaha untuk tetap tenang.
Percayalah saat ini perutnya kembali sakit. Dia berusaha untuk menahannya demi menanyakan satu hal.
"Mas Shaka," Panggil Bia lagi dengan mencoba berbicara pada Shaka. "Apa tak pernah sedikitpun Mas Shaka mencintai Bia?"
"Jangan mimpi!" Kata Dhira dengan sarkas. "Mas Shaka hanya mencintaiku. Dan kau! Sudah ku peringatkan sejak awal. Jika Mas Shaka tak akan berpaling dariku!"
"Mas!" Panggil Bia lagi tak peduli dengan ocehan Dhira.
Dia hanya ingin mendapatkan jawaban dari Shaka. Dia hanya ingin melihat wajah pria itu saat ini.
"Ayo pulang, Dhira!" Kata Shaka lalu menarik tangan Dhira dengan pelan.
"Mas berhenti, Mas. Jawab aku!" Teriak Bia mengejar Shaka yang menarik tangan Dhira keluar dari rumah Bia.
__ADS_1
Air mata itu tak tertahan. Percayalah cinta Bia sebesar itu untuk Shaka. Hatinya benar-benar telah jatuh begitu dalam pada Shaka.
Namun, sekarang.
Semua itu seakan hanyalah kenangan.
Kata yang sangat amat tak ingin dia dengar ternyata diucapkan dengan begitu cepat oleh Shaka.
Perkataan yang dulu dia takuti begitu dalam. Namun, tak lama dia begitu nyaman dan percaya bahwa kata itu tak akan terucap. Sampai akhirnya dia lupa, jika terlalu bahagia dan sangat mencintai. Kita harus siap dengan sebuah perpisahan.
Bia melupakan akan hal itu.
"Mas Shaka!" Teriak Bia lagi sampai dia hampir jatuh tapi dengan cepat Demi menahannya.
"Bia, stop. Jangan mengejarnya lagi!"
"Mas tunggu!"
Namun, semua itu hanya sia-sia. Semua telah hancur lebur. Semuanya telah berakhir. Cintanya telah pergi meninggalkannya dan dia kembali sendirian.
"Bia…Ayo!"
Bia mencoba tetap tegar. Dia harus tetap tenang. Perutnya kembali sakit tapi dia tak boleh memaksa dan egois.
Bia perlahan berbalik. Dia menatap ke arah Semi yang menunggunya.
__ADS_1
"Bia… "
"Pulanglah!" Ucap Bia pada Semi.
"Tapi… "
"Aku hanya ingin sendirian, Sem."
Semi tak menolak. Dia mampu melihat air mata di kedua bola mata Bia yang menumpuk. Dia tahu bagaimana perasaan Bia sekarang.
"Aku akan pulang tapi kamu jangan terlalu stress. Inget anak kamu. Oke?"
Bia mengangguk. Akhirnya dia mulai masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. Dia merasakan sepi dan sunyi.
Bia melihat keadaan ruang tamu yang acak-acakan. Disana adalah tempat dimana menjadi saksi bisu bahwa dia kembali ditinggalkan.
Kepala Bia menunduk. Dia mengangkat tangannya langsung dengan pelan mengusap perutnya.
"Kita sendirian, Sayang. Tak ada lagi Papa disini. Kamu akan bersama bunda yah," Kata Bia pelan lalu dia hendak melangkah.
Namun, baru dua langkah. Suara bel rumahnya berbunyi dan membuat Bia berdecak. Dia berpikir jika itu Semi dan membuatnya langsung membuka pintu.
"Ada apa lagi, Sem? Aku… "
Jantung Bia berdegup kencang. Dia benar-benar terkejut bukan main. Saat sosok yang berdiri di depannya bukanlah Semi melainkan.
__ADS_1
"Ayah."
~Bersambung