Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Jujur


__ADS_3

Percayalah sebesar apapun rasa kecewa seorang orang tua pada anaknya. Dia masih membuka tangan untuk memeluk anaknya yang kala terlena akan dunia.


~JBlack


***


"Ayah," Panggil Bia pelan saat Bara terdiam cukup lama.


Pria itu mengalihkan tatapannya. Ingatannya hilang mendengar panggilan putrinya. Matanya menatap kedua bola mata Bia yang benar-benar mengandung kesedihan disana.


"Maafkan Bia, Ayah. Bia…" Jeda Bia dengan menunduk.


Jujur melihat wajah ayahnya yang berubah. Melihat wajah yang biasanya tersenyum cerah padanya terganti dengan kedua bola mata yang berkaca-kaca dan juga bibir yang terdiam seribu bahasa semakin membuat dirinya ingin menangis berteriak.


"Bia sudah menikah dan sedang hamil," Kata Bia akhirnya mengakui semua yang telah terjadi.


Dalam sekali ucapan. Air mata itu menetes di ujung bola mata seorang ayah yang merasa gagal. Bara meneteskan air mata untuk kesekian kalinya setelah sekian lama dia menyakiti istrinya dulu dan kini ia menangis kembali karena nasib putrinya.


Air mata itu tentu mengalir tanpa bisa dicegah. Apalagi saat Bia memegang kedua tangannya dan dicium berulang kali olehnya.


"Maafkan Bia menyembunyikan semuanya, Ayah. Bia menutupi semuanya karena Bia punya alasan. Bia… "


Tanpa diduga, Bara menarik putrinya dalam pelukan. Pria itu memeluk tubuh ringkih putri yang sangat dia sayangi dengan erat. Jujur Bara tak tahu harus mengatakan apa.


Namun, yang pasti.

__ADS_1


Satu hal yang ada dirinya adalah kecewa.


Bukan kecewa pada keadaan, bukan kecewa akan hadirnya bayi dalam kandungan putrinya.


Namun, dirinya kecewa karena gagal menjadi seorang ayah.


Dia kecewa karena tak tahu apa yang sudah dilewati oleh putihnya. Bara kecewa karena dia tak tahu apapun. Dia yakin jika yang dilakukan Bia pasti memiliki alasan yang kuat.


"Maafkan Ayah, Bi. Maafkan Ayah," Kata Bara meminta maaf.


Bia semakin merasa bersalah. Dia membalas pelukan ayahnya dengan tak kalah erat. Perempuan itu menangis di pelukan sosok ayah yang sangat dia sayangi.


"Ayah tak tahu apa yang sudah kamu jalani selama ini, Nak. Ayah merasa jauh dari Bia."


"Ini bukan salah Ayah," Sahut Bia dengan menggeleng.


"Ini semua salah Bia, Ayah. Bukan salah Ayah. Ayah adalah ayah yang terbaik," Kata Bia dengan pelan dan menatap kedua mata ayahnya dengan tatapan bersalah.


"Bia akan menceritakan semuanya, Ayah. Bia akan mengatakan semuanya," putus Bia dengan keputusannya.


Ya dia tak mau semuanya semakin hancur lebur. Dia tak mau terus menutupi semuanya dari ayahnya. Bagaimanapun semuanya sudah terjadi.


Bagaimanapun apa yang dia tutupi sudah diketahui oleh ayahnya. Maka siap tak siap. Mau tak mau dia harus menceritakan semuanya. Dia tak mau ayahnya semakin dihantui rasa bersalah.


Hingga akhirnya dengan perlahan Bia mulai menceritakan semuanya. Dari kejadian pemerkosaan itu sampai tawaran menjadi istri kedua untuk hamil dan memberikan keturunan pada pasangan suami istri Shaka dan Dhira.

__ADS_1


Bia tak menutupi apapun lagi. Dia benar-benar mengatakan semuanya sampai dirinya bisa melihat banyak ekspresi di wajah ayahnya.


Terkejut, marah, kecewa, sedih semua bisa dia lihat di ekspresi ayahnya itu. Bia yakin setelah ini mungkin ayahnya akan marah besar dan kecewa padanya.


Namun, menurutnya ini lebih baik.


Lebih baik ayahnya tahu dari bibirnya sendiri sebelum orang lain yang akan menceritakan.


"Maafkan Bia, Pa. Bia benar-benar telah mengecewakan Papa," Lanjut Bia diakhir setelah semuanya telah dia ceritakan


Bara benar syok. Dia terkejut bukan main. Air matanya bahkan mengalir dan membuatnya menyugar rambutnya ke belakang dengan isi beban di kepala yang penuh.


"Ayah tak pernah tahu lukamu sebesar ini dan kamu… " Jeda Bara dengan pelan dan menarik nafasnya dengan berat. "Menyembunyikan dari ayah dan ibu bersama abangmu?"


Nada itu penuh kekecewaan dan Bia tahu akan hal itu. Namun, bagaimanapun dia harus siap di posisi ini.


"Maafin Bia, Ayah. Bia dan Bang Abra… "


Bara menggelengkan kepalanya. Dia meminta putrinya untuk tak mengatakan apapun lagi. Dirinya tak mau mendengarkan apapun.


"Dengarkan Papa, Bi!" Kata Bara dengan tegas.


Pria yang memiliki empat orang itu menatap putrinya. Dia mengusap kepala Bia yang tertutupi hijab.


"Mulai sekarang jangan pernah sembunyikan apapun lagi dari Ayah. Seberat apapun itu, Ayah dan Ibu akan membantu Bia. Apapun itu, Ayah dan Ibu akan menerima Bia. Jadi jangan berpikir jika Ayah akan meninggalkanmu karena sampai kapanpun…" Jeda Bara dengan pelan dan mengusap air mata putrinya yang mengalir. "Kamu adalah putri Ayah Bara dan Ibu Almeera."

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2