
...Percayalah bangkai yang kamu simpan serapih mungkin pasti akan mulai tercium juga pada waktunya. ...
...~JBlack...
...****************...
"Kamu keluar dulu, Mas. Terus entar lagi aku!" Kata Bia mencoba mencairkan suasana yang canggung.
Dia sudah berdiri di dekat meja kerjanya. Membawa tas kerjanya dan bersiap untuk keluar. Bia tak mungkin keluar bersama Shaka secara langsung. Dia takut jika ada orang yang melihatnya.
"Iya." Shaka seperti pasrah.
Dia lekas keluar berjalan menuju pintu ruangan Bia. Dirinya hendak menarik pintu itu, bersamaan tiba-tiba dari arah luar pintu itu bergerak dan membuat Shaka memundurkan langkahnya dengan Bia yang juga terkejut bukan main.
"Oh sorry!" Kata seorang pria dengan wajah yang sudah remaja itu menundukkan tubuhnya saat melihat Shaka yang mundur karena ulahnya.
Bia terkejut dengan sosok yang muncul. Sosok yang sangat dia kenal bahkan dia sayangi begitu dalam.
"Thalla," Sapa Bia yang membuat Shaka dan Athalla menoleh ke belakang bersamaan. "Kamu sama siapa disini?"
Athalla tak menjawab. Dia mengalihkan tatapannya dan menatap ke arah Shaka yang masih berdiri disini.
"Saya minta maaf. Saya tidak tahu jika ada anda di balik pintu," Kata Athalla sopan yang membuat Shaka mengangguk.
"Tenanglah. Semuanya baik-baik saja!" Jawab Shaka yang membuat wajah Athalla yang cuek hanya mengangguk.
Pria itu lekas melewati Shaka. Berjalan ke arah wanita yang mengandung anaknya. Hingga tiba-tiba, mata Shaka terbelalak saat pria yang meminta maaf padanya memeluk istrinya.
"Kenapa hmm?" Tanya Bia pelan sambil mengusap punggung adiknya.
"Kakak berangkat kenapa gak pamit sama aku?"
Bia terkekeh dengan canggung. Jujur melihat ke arah Shaka, dia melihat ada titik kemarahan di wajahnya. Dia juga canggung karena baru kali ini berada di posisi seperti ini.
"Iya. Kakak buru-buru tadi. Terus Ayah juga siap, 'kan? Jadinya Kakak langsung berangkat!"
Athalla beroh ria. Dia menganggukkan kepalanya paham dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Kakak udah selesai kerja kan? Ayo keluar!"
__ADS_1
Saat Athalla menarik tangan Bia. Langkah kaki remaja itu terhenti saat melihat sosok pria yang hampir jatuh karenanya masih berdiri disana.
Pria yang menurutnya hampir sama dengan kakak laki-laki nya itu setia berdiam diri disana membuatnya menatap kakaknya itu.
"Siapa dia, Kak? Kenapa dia masih disini? Apa dia… "
"Dia hanya keluarga pasien kakak!" Sela Bia secara langsung pada Athalla. "Dia datang kesini untuk konsultasi sakit keluarganya."
Bia menjawab dengan cekataan. Dia tak mau jika Shaka berbuat ulah atau salah menjawab.
"Apa ada yang masih anda tanyakan, Tuan?" Tanya Bia pada Shaka dengan tenang.
Shaka terlihat kecewa. Ya, entah kenapa pria itu merasa dadanya bergemuruh. Namun, dia berusaha untuk tetap tenang dan menggeleng.
"Penjelasan anda tadi sudah jelas. Terima kasih, Dokter. Permisi," Kata Shaka yang perlahan membalikkan tubuhnya dan lekas keluar dari ruangan menjauh dari keduanya.
Tatapan mata Bia terus tertuju pada langkah kaki Shaka. Perempuan itu menatap ke arah pria yang tak lagi menatap ke belakang. Bia merasa tak enak. Bia juga merasa pikirannya mulai kepikiran pada Shaka.
Namun, mau dikata apa lagi. Di sampingnya ada sosok sang adik kandungnya. Sosok yang belum tahu apa yang sudah terjadi padanya.
Setidaknya Bia sedikit bernafas lega. Dia menjadi tenang karena adiknya datang disaat yang tepat. Dia tak tahu bagaimana kondisinya jika adiknya datang saat Shaka dan dia dalam keadaan posisi intim.
Dia tak tahu apa yang terjadi tapi setidaknya kali ini dia selamat. Dia selamat dari hal-hal yang membuatnya hampir saja terkejut dengan apa yang selama ini disembunyikan.
"Ya?"
"Ayo, Kak!"
"Ah iya!"
Akhirnya Bia menerima ajakan adiknya. Kakak adik itu mulai keluar dari ruangan Bia. Mereka berjalan bersama dengan beberapa kali membalas sapaan dokter atau perawat lain yang menyapa Bia.
"Kita mau kemana, Bi?"
"Kita ke mall yah? Aku pengen makan sushi, Kak," Ajak Athalla yang membuat Bia menggeleng.
Jujur Bia sangat heran dengan adiknya itu. Badan boleh kekar seperti bukan umurnya, wajah garang dengan bibir yang jarang tersenyum. Namun, sebenarnya di balik sosok Athalla yang dingin. Dia adalah sosok pria yang hangat pada keluarga.
"Kenapa geleng kepala? Kakak gak mau?"
__ADS_1
Bia terkekeh pelan. Dia melingkarkan tangannya di lengan adiknya yang tingginya hampir rata dengannya.
"Kakak mau dong. Demi adik kakak yang tampan ini. Apapun gak bisa Kakak tolak!"
...****************...
"Kamu serius mau makan sebanyak itu?" Tanya Bia saat melihat adiknya makan dengan lahap.
Kali ini keduanya memang datang di tempat surga dunianya sushi. Keduanya mencari tempat duduk yang ada di pojok dekat dengan tempat memutar sushi itu berjalan.
Keduanya selalu memiliki tempat ujung karena lebih private dan tak begitu umum.
"Aku sudah lama sekali tak makan seperti ini di New York. Ibu tak mengizinkan aku setelah makan disana karena alergi?" Kata Athalla yang sangat ingat kejadian saat dia baru pulang dengan teman-temannya makan sushi bersama.
Tiba-tiba badannya langsung gatal-gatal dan memerah.
Bia terkekeh pelan. Dia sangat ingat kejadian itu yang membuat adiknya harus diam di rumah dengan tenang. Tak bisa kemana-mana karena tubuhnya bengkak.
"Terus disini. Kenapa kamu makan ini lagi. Nanti kalau sama, gimana?"
"Gak mungkin sama. Aku yakin berbeda!"
Bia hanya geleng-geleng kepala. Menurutnya di manapun tempatnya. Jika sushi ya sama saja. Tak ada yang berbeda.
"Kalau kamu udah ngerasa panas, gatal dan kayak mau bengkak. Bilang kakak Oke? Kakak bakalan kasih pencegah alergi sama kamu. Biar bengkak dan gatal kamu gak terlalu," Ujar Bia yang membuat Athalla mengacungkan jempolnya.
Akhirnya perempuan itu mulai mengambil beberapa makanan yang bisa dia makan. Ibu hamil juga tak boleh makan makanan yang mentah. Hingga mau tak mau Bia harus memakan sedikit saja atau tanpa diikuti bahan mentahnya.
Sampai akhirnya saat Bia hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Tiba-tiba dia mengurungkan niatnya saat matanya tak sengaja menatap pemandangan di depannya.
Dua sosok orang yang sangat dia kenal. Dua sosok orang yang sangat dia ketahui siapa. Dirinya benar-benar terkejut. Bia merasa kaget dan tak percaya sampai dia menunduk dan menggeser duduknya agar posisi dia tak terlihat.
Jantungnya berdegup kencang. Bahkan Bia merasa apa yang dia lihat apakah mimpi atau nyata.
"Mbak Dhira sama Mas Arthir," Lirih Bia dengan mengatur nafasnya. "Ada apa dengan hubungan mereka. Kenapa mereka seperti pergi kencan?"
Bia menelan ludahnya. Dia menoleh sedikit dan melirik ke arah tempat dimana kakak madunya itu atau perempuan yang membawa dirinya ke kehidupan rumah tangganya yang rumit.
"Ini bukan mimpi. Ini nyata! Ada sesuatu antara Mbak Dhira dan Mas Arthir!"
__ADS_1
~Bersambung
Hiya ketahuan sama Mbak Bia kan? enaknya gimana nih? dududud