
...Terkadang membuka lama adalah hal paling menyakitkan dalam hidup. Mengulang kenangan dan ingatan kita di masa lalu dan mengorek apa yang menjadi luka begitu dalam di hati korban. ...
...~Bia quinsha Altafunisha...
...****************...
Bia terlihat menunduk. Dia menatap kedua telapak tangannya yang berkeringat dingin. Bayangan malam itu tentu berputar dalam kepalanya. Bayangan kejadian di masa lalu kini terbayang kembali dengan sangat jelas.
Saat itu, seorang perempuan tengah tidur dengan tenang. Dirinya sedang menginap di rumah saudara laki-lakinya. Bia tidur sendirian disana karena Abraham memiliki jadwal dadakan dan membuatnya harus pergi saat itu juga.
"Kakak titip rumah sebentar yah. Nanti malam Kakak dan Kak Aufa akan kembali," Kata Abraham dengan mencium dahi adik perempuannya.
Bia tersenyum dan mengangguk. "Siap, Bos."
"Kamu tidur di kamar Kakak dan Kak Aufa aja. Disana ada ACnya. Jangan di kamar depan karena disana belum Kakak Renov," Ujar Abraham mengusap kepala adiknya dengan sayang.
"Siap."
Akhirnya malam itu Bia sendirian di rumah Abraham yang lama. Dia tidur di ruang kamar kakaknya dengan tenang. Dirinya juga lelah karena telah melaksanakan koas dari rumah sakit.
Saat Bia asyik tidur. Tak lama sebuah sapu tangan menutupi hidungnya dan membuat matanya terbuka.
"Emmm emmm!" Bia berusaha meminta lepas.
Namun, kekuatan dirinya jelas kalah jauh dengan sosok yang menutup hidung dan mulutnya ini. Bia hanya mampu melihat sepasang mata itu sebelum dirinya tak sadarkan diri.
Entah sudah berapa lama dia tak sadarkan diri. Saat Bia terbangun, dia sudah terikat di atas ranjang dengan jilbab yang lepas dari kepalanya. Perempuan itu spontan melihat kaki dan tangannya yang terikat kuat di ujung ranjang.
"Bagaimana ini?" Kata Bia sambil berusaha untuk lepas.
Namun, usahanya sia-sia. Semua yang dia lakukan percuma karena ikatan tali itu kuat. Dia juga tak bisa melakukan apapun karena gerakannya terkunci.
"Akhirnya kau sudah bangun!" Ujar suara sosok pria yang asing untuknya.
Bia spontan menoleh. "Siapa kau!"
Bia merasa malu. Dirinya menunduk karena hijab lepas dari kepalanya. Dia merasa dilecehkan, dia merasa dijatuhkan begitu hina.
"Ah kau sangat cantik. Wajahmu sangat mirip dengan musuhku itu!" Kata pria itu sedikit berbisik.
Tangan pria itu menyentuh pipi Bia dan membuat Bia mengalihkan tatapannya. Dia tak mau disentuh. Dia bahkan merasa hina seperti ini.
"Aww jual mahal. Aku suka yang seperti ini," Kata pria itu dengan tangan semakin menyentuh leher Bia.
"Lepaskan aku!" Seru Bia dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Ahh melepaskanmu? Setelah apa yang sudah kalian lakukan padaku?" Seru pria itu dengan menatap Bia tajam. "Jangan harap!"
Bia gemeteran. Apalagi saat tangan pria itu semakin masuk ke dalam bajunya.
"Kumohon jangan! Jangan sentuh aku!"
Ketakutan dalam wajah Bia semakin membuat pria itu tertawa begitu keras. Semakin Bia memohon, pria itu bahkan melakukan dan menyentuh tubuh Bia dengan kasar.
"Jangan… Jangan!"
"Berteriaklah dengan keras. Teriak panggil kakakmu yang sudah mengambil Aufa dariku! Dia menghancurkanku dan keluargaku!" Teriak pria itu dengan kasar.
Bia spontan mematung. Dia menatap sosok pria yang masih memakai topeng itu. Dia menatap tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Kau adalah penebusan. Ya penebus dosa yang sudah dilakukan pria bajingan itu padaku? Kau harus membayar semua yang telah kakakmu lakukan!"
Bia seperti patung. Dia terkejut dengan apa yang dia dengar. Apa yang dia dapatkan hari ini karena perbuatan kakaknya. Karena masalah kakaknya dengan pria di depannya ini.
"Aku sebenarnya ingin menculik Aufa tapi ternyata dugaanku meleset. Kenapa harus kamu yang ada di kamar mereka!" Kata pria itu yang mulai menurunkan baju Bia.
Bia benar-benar mulai berontak. Dia tak mau. Tangisan dan suara teriakan tentu keluar dari mulutnya.
Namun, tangisan tetap tangisan. Amarah dan dendam itu semakin besar. Pria itu benar-benar biadab. Dia membuka semua pakaian Bia meski gadis itu memohon ampun.
Bahkan dengan tak tahu malunya. Saat dia tubuh itu sama-sama tak memakai apapun. Pria itu membuka penutup wajahnya dan membuat Bia bisa melihat wajah pria itu.
"Panggil aku Semi, Sayang. Ingat wajahku dan ingat semua yang kulakukan padamu!" Kata Semi dengan menatap mata Bia yang menatap putus asa padanya.
"Setelah ini kau akan menjadi wanita sampah. Setelah ini tubuhmu telah penuh dosa dan tak akan ada pria yang mau denganmu!"
"Kau akan menjadi wanita ******. Kau tak suci lagi. Kau akan murah ketika dijual. Kau benar-benar akan menjadi wanita tak berguna dan memalukan!"
Semi mengatakan tidak berulang kali. Bahkan sampai dia memasuki Bia dengan kasar. Melakukan hal itu layaknya binatang. Tak membuatnya lelah atau takut.
Bia bahkan telah menangis, meraung, meminta berhenti. Tapi Semi tak mendengarnya. Bahkan Bia terus terngiang dengan hinaan itu tak membuat Semi berhenti merusak tubuhnya.
Dipukul, digigit sampai tubuh Bia penuh luka. Benar-benar Semi melakukannya bakal binatang kejam. Bahkan sampai akhirnya Bia pingsan dan tak sadarkan diri. Pria itu masih melakukannya.
Ingatan itu masih tercetak jelas sampai tanpa sadar membuat Bia bernafas pendek-pendek.
"Bi… Bia!" Kata Shaka yang terkejut.
Pria tentu kebingungan. Bia benar-benar seperti patung tak mendengar apapun.
Gadis itu seperti sesak nafas. Namun, tangan Bia mencengkram kepalanya seperti kesakitan.
__ADS_1
"Jangan… Jangan… kumohon berhenti!" Teriak Bia dengan menangis.
Shaka benar-benar terkejut. Dia tentu menatap Bia dengan perasaan tak menentu.
"Jangan lakukan itu padaku. Lepaskan!"
"Bia. Tak ada apapun." Shaka menangkup kedua sisi wajah Bia.
Tapi tak berhasil. Sampai akhirnya tanpa diduga. Shaka menarik Bia dalam pelukannya. Dia memeluk istri sirinya dengan kuat.
"Lepaskan aku! Aku tak mau! Jangan paksa aku! Jangan!"
"Bi ini aku, Shaka. Bia sadarlah!"
Bia mencium harum tubuh Shaka. Ya wanita itu mencium aroma tubuh suaminya dan membuat ingatannya sadar.
Membuat kepalanya memutar mengambil kenyataan. Membuat dirinya tahu jika yang memeluknya ini adalah Shaka.
Wanita itu spontan membalas pelukan Shaka. Memeluk pria itu dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di leher Shaka. Bia menghirup aroma tubuh Shaka yang menenangkan.
"Tenanglah, Bi. Ingat! Tak ada apapun disini!" Kata Shaka dengan suaranya yang lembut.
Jujur Bia merasa tenang. Ah lebih tepatnya nyaman. Suara Shaka yang tak lagi menyebalkan. Suara Shaka yang benar-benar sama seperti ketika berbicara dengan Dhira.
Kini mampu dia dengar dan rasakan.
"Tenanglah!" Kata Shaka sambil mengusap punggung Bia.
Perempuan itu merasa tenang. Bia merasa nyaman sampai nafasnya perlahan mulai teratur.
"Jangan terlalu dipaksa, Bi. Aku hanya bertanya. Jangan mengingat jika itu menyakitimu," Kata Shaka pelan.
Ah pria ini sebenarnya baik. Ya Shaka adalah salah satu pria yang paling tak bisa melihat wanita menangis. Namun, selama ini matanya tertutup oleh Dhira.
Dia sangat mencintai dan menyayangi Dhira. Sampai dia melupakan sekitarnya. Namun, sekarang, untuk pertama kalinya dia melihat sosok wanita lain.
Dia melihat Bia, istri sirinya itu yang selalu menemaninya hampir satu bulan ini. Bia yang dia kenal cerewet dan ceria ternyata memiliki masa lalu yang pahit. Bahkan sampai perempuan itu trauma dengan apa yang hendak diceritakan.
"Maafkan aku, Bi. Jangan mengatakan jika kamu tak bisa untuk mengingatnya."
~Bersambung
Nah kan mulai terbuka yah. Ingat novel Mbak Bia itu berkaitan dengan Novel Bang Abra di sebelah.
Jadi kalian wajib baca dua novelnya.
__ADS_1
Nangis gak? aku ngetik ini nangis juga.