
...Terkadang hal yang membuat kita tak terima adalah ketika orang yang kita cintai disakiti oleh orang yang dicintainya. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Bia ingat akan sesuatu. Dia lekas meraih ponsel yang ada di dalam tasnya. Lalu dia segera melihat keadaan sekitar. Mencoba menelusuri apakah akan ada orang yang melihat aksinya atau tidak.
"Aman!"
Bia lekas membidik arah ponselnya ke arah dia manusia yang terlihat sangat mesra itu. Dia mengambil gambar itu sebanyak lima foto dengan posisi yang berbeda lalu segera kembali membalikkan tubuhnya dan merapatkan tubuhnya di samping Athalla.
"Kakak kenapa?"
Bia menggeleng. "Kamu jangan berdiri atau pindah oke!"
"Hah!" Athalla menoleh. "Memangnya kenapa?"
Athalla spontan menatap sekitarnya. Dia yang tentu masih asing disini tak tahu dengan apa yang terjadi pada kakak perempuannya itu.
"Gapapa. Turuti permintaan Kakak. Oke?"
Athalla mengangguk. Dia yang tak peka, dia yang tak tahu sekitarnya tentu melanjutkan makan. Sedangkan Bia, perempuan itu menatap hasil fotonya.
Dia menatap foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi. Foto yang benar-benar menunjukkan jika keduanya benar-benar ada hubungan.
Hubungan percintaan yang tak pernah Bia pikirkan. Hubungan percintaan antara kakak ipar dan kakak madunya itu. Hubungan terlarang yang membuat Bia mengepalkan tangannya.
Dia benar-benar yakin jika Shaka yang paling tersakiti disini. Bia benar-benar sadar seberapa cinta Shaka pada Dhira. Hal itu tentu membuatnya ingin marah, memaki dan juga berteriak di hadapan kakak madunya itu.
"Aku harus menceritakan pada Mas Shaka nanti. Aku tak mau membuat Mas Shaka terus terjebak dengan wanita yang jelas-jelas sudah berselingkuh di belakangnya!" Gumam Bia dalam hati sebelum dia meletakkan ponselnya lalu mulai mengambil makanan yang sudah dia ambil.
Acara makan bersama itu tentu terjalin dengan hangat. Meski hanya sebentar ada insiden yang membuat Bia takut. Yang membuat Bia heran dan terkejut. Yang membuat Bia benar-benar tak percaya tapi dia bisa menguasai dirinya.
Ya Bia bisa tetap tenang. Bia bisa melewati semuanya dengan bersembunyi di samping adik laki-laki nya itu.
Dia tetap bisa melakukan makan bersama dengan suasana hangat. Meski perasaan Bia masih terfokus pada suaminya.
Bagaimana jika Shaka tahu?
Bagaimana jika suaminya mengetahui semuanya?
Kelakuan istri yang sangat dicintainya itu ternyata tak lebih dari sebuah ulat menjijikkan yang memakan daun saudara yang lain.
__ADS_1
"Kakak mau nambah?" Tanya Athalla yang mengejutkan Bia.
"Nggak!" Jawab Bia menggeleng. "Ini aja Kakak belum habis. Gimana mau nambah!"
Athalla melirik piring makan kakaknya. Dia mengerutkan keningnya saat melihat kakaknya menyingkirkan ikan mentah yang ada di atas sushinya itu.
"Kenapa ikannya gak dimakan, Kak?" Tanya Athalla yang membuat Bia melirik adiknya itu.
"Gakpapa."
"Bukannya Kak Bia suka sekali sama sushi?"
Bia menelan ludahnya. Dia berusaha tetap tenang. Bagaimanapun yang dikatakan adiknya memang benar. Dia sangat suka sushi. Dia sangat suka makanan ini. Makanan yang disajikan dengan ikan mentah dan diberikan sebuah saus yang segar dan enak itu sangat membuatnya ketagihan.
Namun, kali ini dia tak boleh egois. Hanya memikirkan kesukaan dirinya. Ada makhluk lain yang harus dia jaga juga di dalam dirinya.
"Suka banget," Kata Bia dengan mengangguk. "Tapi beberapa hari kemarin, Kakak habis makan sushi juga sama temen. Jadi perut Kakak kayak bosen gitu!"
Athalla mengangguk. Dia tak menaruh curiga karena remaja itu selalu percaya pada kakak perempuannya.
"Biar Kakak yang bayar!"
"No!" Kata Athalla menggeleng. "Aku dikasih uang jajan sama Ayah. Jadi biarin Athalla yang bayar. Oke?"
Bia terkekeh pelan. Dia benar-benar sangat amat tahu jika saudaranya ini memang masih pendidikan. Mengandalkan uang jajan orang tua tapi mereka tak pernah boros atau menghamburkan uang.
Bia terdiam. Dia menatap adiknya dengan ragu.
"Kenapa?"
"Emm Kakak biar naik Grab aja. Kamu langsung pulang!"
Athalla menggeleng. "No! Aku harus mengantar kakak sampai selamat di rumah!"
Jika mode begini. Bia tak bisa melakukan apapun. Ya, perempuan itu tahu bagaimana watak adik laki-lakinya.
Ah hampir keempat saudara ini memiliki watak yang sama. Keras kepala tapi tetap tanggung jawab. Tanggung jawab dengan apa yang mereka putuskan. Tanggung jawab dengan apa yang mereka pilih.
Dengan sangat amat terpaksa. Dengan jiwa dan raga akhirnya Bia masuk ke dalam mobil. Perempuan itu juga lekas mengambil ponselnya dan mencari kotak pesan suaminya.
"Mas Shaka jangan ke rumah dulu. Adikku akan mengantarku pulang."
Bia berusaha tenang. Dia mengirim pesan itu lalu memasukkan ponselnya lagi.
__ADS_1
"Semoga Mas Shaka baca pesan ini," Gumam Bua lalu segera menyandarkan punggungnya di sandara mobil dan menatap keluar jendela.
...****************...
"Mau kamu apa sih, Dhir. Kamu minta sushi aku turutin. Sampai sana kamu makan sedikit. Terus sekarang kamu minta aneh-aneh lagi! Mau kamu apa hah?" Seru Arthir dengan marah-marah.
Dhira yang sedang duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya sambil memakan snack yang diberikan oleh Arthir dari market itu hanya terdiam cukup lama. Mata perempuan itu menatap ke depan dengan tangan terus menyuapi bibirnya makanan.
Otaknya bekerja. Ya dia diam bukan tak memikirkan apapun. Bukan melamun. Melainkan dia memikirkan yang terjadi padanya beberapa hari ini
Kejadian yang sangat amat membuatnya tak tenang. Kejadian yang membuatnya spontan meletakkan makanan yang tadi dia pegang di atas meja.
Dia ingat sesuatu. Ya, perempuan itu lekas berjalan melewati Arthir yang masih mengoceh.
"Mau kemana, Dhir?"
Arthir mengikuti langkah kaki kekasihnya itu. Keduanya ke dalam kamar dan Dhira segera meraih kalender duduk yang ada di samping ranjangnya.
"Apa mungkin?" Gumam Dhira sambil menyentuh perutnya.
Dhira ketakutan. Dia mengusap perut itu sambil menatap ke arah Arthir.
"Ada apa, Dhir? Apa yang terjadi?" Tanya Arthir yang ikut kebingungan.
Dia menatap wanitanya yang masih terdiam sambil menatapnya. Hal itu tentu membuat Arthir tak sabaran.
Dia sudah lelah dengan tingkah Dhira. Dia sudah lelah dengan rengekan wanita itu dan sekarang Dhira malah semakin membuatnya bingung.
"Ada apa? Katakan, Dhira! Aku tak suka menebak!" Seru Arthir yang kesabarannya benar-benar setipis tisu.
"Pergilah ke apotik sekarang!" Kata Dhira dengan berusaha membuang pikiran buruknya.
Ah entah apa ini pikiran buruk atau Dhira harus bahagia. Namun, dia benar-benar tak yakin dengan apa yang dia pikirkan.
Bagaimanapun Dhira adalah wanita. Dia mengerti meski belum pernah merasakannya. Dhira mengerti akan apa yang terjadi padanya meski itu hanyalah tebakannya saja.
"Untuk apa aku ke apotek? Siapa yang sakit?" Tanya Arthir yang bingung.
"Gak ada yang sakit tapi ini soal aku!" Teriak Dhira yang sama emosinya.
"Maksudmu apa, Dhira!" Seru Arthir yang mulai terbawa emosi.
"Belikan aku tespek di apotek sekarang, Arthir!"
__ADS_1
~Bersambung
Hiyaa makin mulai dag dig dug kan. Hiks