Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Panggilan Sayang


__ADS_3

...Aku tak mau bermimpi terlalu besar. Aku tak mau berharap terlalu tinggi tapi jika boleh biarkan kenangan ini dan waktunya akan menjadi saksi kebersamaan mereka yang sangat indah. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Bia menatap mata Shaka tak percaya. Bahkan dia merasa telinganya apakah tak salah dengar. Apakah dirinya tak salah mendengar apa yang diucapkan oleh Shaka pagi ini.


"Mas… kamu?" Lirih Bia yang masih sangat amat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


Shaka saat ini sadar. Dia sadar apa yang dia katakan. Dia juga sadar apa yang dirinya rasakan. Pria itu mulai merasa nyaman. Pria itu juga mulai merasakan debaran hati yang sama persis dia rasakan dulu ketika bersama Dhira.


Jantungnya yang berdegup kencang sama dengan saat dia masih bersama Dhira dulu. Dan hal itu tentu membuat Shaka sadar. Membuat Shaka tahu jika hatinya mulai terselip nama Bia disana.


Kenyamanan wanita itu yang diberikan untuknya. Kenyamanan yang selalu Bia ciptakan untuknya ternyata mampu menarik perhatian Shaka.


"Apa aku boleh memanggilmu, Sayang?"


Bia seakan bungkam. Bia seakan tak mampu menjawab apapun. Lidahnya terasa keluh. Bibirnya terasa kaku seakan menjawab pertanyaan suaminya itu sangat amat sulit untuk ia keluarkan dari dalam mulutnya.


"Apa boleh?"


Akhh ini bukan mimpi. Ya Bia sadar jika ini nyata adanya. Ini benar-benar terjadi padanya. Panggilan mesra itu. Panggilan yang tak pernah ada dalam bayangan Bia kini bisa dia dengar dengan kedua telinganya sendiri.


"Boleh, Mas," Jawab Bia setelah dia mencoba membuka mulutnya.


Matanya menatap mata Shaka yang terlihat bahagia. Pria itu menangkup kedua sisi wajah Bia dan tersenyum.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih."


Setelah mengatakan itu Shaka mencium bibir Bia dengan lembut. Begitupun dengan Bia, wanita itu juga membalas ciuman itu penuh kasih sayang.


Seakan kedua bibir itu saling membalas dengan lembut dan hangat. Saling mengutarakan, saling mengantarkan perasaan mereka satu dengan yang lain.


Seakan cinta itu, cinta yang saling dirasakan tapi tak berani dikatakan mulai mengikat keduanya.


Sampai akhirnya ciuman itu perlahan mulai terlepas. Ciuman itu mulai lepas dengan perasaan tak saling ingin menjauh. Hidung keduanya saling bersentuhan satu dengan yang lain hingga nafas mereka saling menerpa wajah keduanya.


"Mandilah dulu, Bi," Bisik Shaka yang membuat kedua mata Bia terbuka.


"Mas Shaka gak mandi dulu? Bukannya Mas harus ke kantor?"

__ADS_1


Shaka menggeleng. "Aku akan izin hari ini."


"Memangnya bisa?" Tanya Bia dengan muka polosnya.


Wajah keduanya masih berdekatan. Baik Shaka maupun Bia seakan nyaman dengan posisi ini.


"Bisa. Aku bosnya dan gak bakal ada yang berani menolak!"


Bia hanya terkekeh pelan. Dia menganggukkan kepalanya seakan tahu apa yang dikatakan oleh suaminya itu.


"Ayo mandilah dulu. Setelah itu kita cari sarapan bersama. Oke?"


"Iya. Mas."


...****************...


Hampir tiga puluh menit berada di dalam kamar mandi. Akhirnya Bia keluar dengan wajah segarnya. Perempuan itu mengusap wajahnya dengan handuk kecil dengan tubuh yang sudah berbalut daster pendek yang menampilkan paha mulusnya.


Shaka yang baru saja masuk ke kamar langsung menelan ludahnya disuguhi penampakan begitu menggiurkan. Disana, istrinya tengah berdiri di depan meja rias sambil sedikit menunduk karena mengambil sesuatu yang tak ia lihat.


Shaka sudah tak tahan lagi. Apalagi ketika daster itu tersingkap dan menampakkan celana segitiga yang melindungi surga dunia miliknya. Sesuatu yang sejak tadi tidur kini kembali berdiri.


Sesuatu yang baru saja mereka rasakan kini kembali membara dalam diri Shaka.


Saat Bia hendak menegakkan tubuhnya. Shaka malah menahannya hingga membuat posisi istrinya seperti orang menungging. Kemudian tangan Shaka membuka kaki Bia lebih lebar.


"Mas!" seru Bia dengan terkejut.


Posisi yang baru kali ini mereka lakukan. Posisi ekstrim yang membuat Bia benar-benar mulai berpegangan dengan pelan.


"Nikmati saja, Sayang! Aku yakin kamu akan ketagihan."


Perlahan tangan Shaka mengusap area surga dunia itu. Dia sengaja tak menurunkan kain segitiga istrinya agar sensasinya semakin memanas.


Perlahan jari jemari Shaka menyelinap. Memasukkan dua jarinya ke dalam lembah basah yang membuat Bia mengerang.


Perempuan itu mencengkram pinggiran meja rias dengan kuat saat tangan Shaka semakin keluar masuk dengan cepat. Bahkan tanpa sadar ibu hamil itu semakin melebarkan kakinya agar tangan suami sirinya semakin leluasa mengobrak abrik miliknya.


"Mas!" jerit Bia dengan diiringi ledakan hebat yang keluar dari inti tubuhnya.


Pria itu benar-benar berhasil membuat Bia kembali merasakan kenikmatan tiada tara. Berhasil membuatnya sampai ke puncak langit kenikmatan hanya dengan jari nakalnya.

__ADS_1


Belum hilang rasa nikmat dalam diri Bia. Perempuan itu bisa melihat suaminya sudah berdiri di belakang tubuhnya. Suara celananya yang dibuka membuat Bia menatap suaminya dari cermin.


Dia bisa melihat apa yang dilakukan suaminya itu kepadanya. Dia bisa melihat dengan jelas apa yang pria itu hendak lakukan.


"Kenapa gak diturunin, Mas?" tanya Bia dengan menatap ke belakang dan tatapan polosnya.


Percayalah ibu hamil satu ini belajar tentang hangatnya ranjang, belajar tentang saling memberikan kenikmatan antara pasangannya dari Shaka. Shaka adalah guru terbaiknya tentang pelajaran ini, hehe.


"Rasakan saja sensasinya, Bi!" ujar Shaka lalu mulai memasukkan miliknya dengan celana segitiga milik istrinya yang hanya ia pinggirkan.


Gesekan kain dengan senjata Shaka begitu membuat Bia semakin merasa nikmat tiada tara. Apalagi ketika suaminya itu mulai memajukan tubuhnya membuat gerakan pelan dan semakin cepat dengan teratur membuat Bia begitu memuja.


Wajah keduanya saling menatap dari pantulan cermin. Bia bisa melihat bagaimana menggodanya wajah suaminya itu. Tubuh mereka yang saling menyatu dengan suara tumbukan miliknya dan milik Shaka yang saling bertemu. Semakin membuat suasana semakin memanas!


Wajah itu benar-benar tak mampu membuat kedua mata mereka beralih. Keduanya benar-benar melupakan rencana yang sudah keduanya susun untuk sarapan pagi.


Erangan lolos dari bibir keduanya saat gerakan mereka semakin cepat. Shaka yang merasa keenakan menaikkan satu kaki istrinya ke atas kursi rias yang semakin membuat miliknya masuk lebih dalam.


"Mas!" pekik Bia yang meledak kesekian kalinya.


Inilah yang Bia rasakan ketika bersama Shaka. Pria itu melakukan dengan lembut. Selalu meminta izin darinya dengan baik dan tak pernah memaksa.


"Nikmati saja, Bi. Keluarkan semua cairan milikmu. Aku sudah candu dengan milikmu, Sayang," bisik Shaka sambil memajukan tubuhnya.


Mereka kembali melanjutkan aksinya. Shaka menggerakkan tubuhnya semakin cepat tanpa memperdulikan alat make up yang mulai berantakan.


Baik Shaka maupun Bia saling mengejar kenikmatan lagi. Bahkan tanpa malu keduanya saling mengeluh dan mengerang ketika miliknya dan milik Bia saling bertemu dengan cepat dan semakin dalam.


Bia yang ikut menumbuk dengan kedutan di intinya semakin membuat Shaka keenakan. Hingga akhirnya keduanya mencapai puncak kenikmatan bersama dengan kepuasan batin yang luar biasa.


Nafas keduanya beradu. Dengan tubuh yang masih menyatu, baik Bia dan Shaka saling tersenyum saat menatap dari pantulan kaca rias.


"Apa aku menyakitimu?" tanya Shaka sambil mengelus perut istrinya dari belakang.


Dia ingat akan kehamilan istrinya. Dia ingat jika di dalam sana ada anak-anaknya yang tumbuh dengan sehat.


Bia menggeleng. Dia mengusap tangan Shaka yang mengelus perutnya dengan pelan.


"Aku baik-baik saja, Mas," Kata Bia dengan jujur.


"Katakan bila aku menyakitimu dan anak kita, Bia. Aku akan lebih berhati-hati," Kata Shaka yang semakin membuat jantung Bia berdegup kencang dengan kata anak kita.

__ADS_1


~Bersambung


Akhh Mas Shaka makin manis bikin diabetes astaga. Iihh gemes banget sih mas. Awas mulutnya panas lagi. Tak sentil kamu!


__ADS_2