
...Mungkin ini pilihan tersulit yang aku ambil. Namun, percayalah semuanya telah aku pikirkan baik buruknya. Sekalipun tentang perasaan yang harus aku pendam sebaik mungkin. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Bia memejamkan matanya. Dia menghirup udara yang begitu sejuk untuk menenangkan dirinya dan pikirannya yang benar-benar mulai penuh akan pikiran tak berguna. Dia tak boleh begini, apalagi dalam keadaan hamil muda.
Dia harus menjaga kesehatan pikiran yang tenang, jiwa yang begitu baik dan juga tidak memikirkan hal apapun yang membuatnya stress.
"Ibu, Ayah," Lirih Bia dengan air mata yang menetes.
Ah masa seperti ini tentu mengingatkan dirinya dengan dua orang yang selalu mensupport dirinya. Dua orang yang menyayangi dirinya tanpa batas, dua orang yang selalu mencintai dirinya baik buruknya. Dan dua orang yang membuatnya ada di dunia ini.
"Kenapa menangis?" Tanya Shaka yang tiba-tiba datang dan membuat Bia spontan menghapus air matanya.
"Gakpapa, Mas. Aku cuma kelilipan tadi," Kata Bia dengan menggosok mata kanannya agar Shaka percaya.
Namun, tetap saja. Pria itu ya tak percaya dengan ucapan Bia. Dia berjalan mendekati ibu hamil itu lalu menarik dagu Bia agar bisa melihat ekspresi wajahnya.
"Tatap aku, Bi!"
"Apa sih, Mas!" Ketus Bia sambil mencoba menepis tangan Shaka yang ada di dagunya. "Aku gakpapa. Cuma kelilipan!"
"Tatap aku!"
Akhirnya Bia pasrah dan menyerah. Dia mengikuti pegangan tangan Shaka yang ada di dagunya hingga membuat tatapan mata itu saling menatap satu dengan yang lain.
Shaka menatap kedua bola mata Bia dengan lekat. Lalu tangannya terangkat menghapus sisa air mata yang masih ada disana.
"Jangan menangis, Bi. Ingat! Anakku akan ikut menangis. Jika kamu seperti ini!"
Bia terdiam. Dia seakan terhipnotis dengan ucapan Shaka. Matanya memandang bola mata Shaka yang indah. Sipit, tajam dan tegas. Serta alis tebal yang sangat membuat candu di mata Bia.
"Ini juga anakku, Mas."
"Tapi ini anakku juga," Kata Shaka tak mau mengalah.
Bia memutar bola matanya malas. Dia menepis tangan Shaka dan menatap ke arah pantai dengan menghela nafas berat.
"Kamu ingin tahu apa yang membuatku menangis?" Tanya Bia pada Shaka yang membuat kepala pria itu mengangguk.
"Apa?"
__ADS_1
Bia mengangkat tangannya. Dia mengusap perut ratanya dengan pelan.
"Aku takut jika dia lahir. Tak ada yang menyayangi dan menerimanya, Mas!"
Rahang Shaka mengeras. Dia menarik lengan Bia agar istrinya itu menatap ke arahnya.
"Tak akan ada yang berani memperlakukan dia seperti itu, Bi! Aku janji akan hal itu!"
"Apa yang bisa kamu janjikan padaku, Mas?" Kata Bia dengan mencoba menepis segala keburukan yang terjadi di masa depan untuk anaknya.
"Aku akan menyayangi dia, menjaga dia, merawatnya dan mencintainya dengan tulus. Siapapun yang menyakitinya akan berhadapan denganku. Siapapun akan menghargai dia karena ini anakku, ini benihku, ini cintaku dan dia darah dagingku sendiri!"
Shaka mengatakan itu dengan serius. Apa yang dia katakan benar-benar nyata dari dalam hatinya. Dia tak main-main dengan anak ini.
Dia benar-benar akan menyayangi dan mencintai buah cintanya ini dengan sepenuh hati. Anak yang dia hadirkan dengan begitu banyak masalah. Anak yang hadir dengan keadaan yang sulit tak akan pernah dia sia-siakan.
"Aku pegang janjimu, Mas. Aku akan melihatnya nanti di masa depan!"
...****************...
Akhirnya tepat keesokan harinya Bia dan Shaka pulang ke Indonesia. Mereka menginjakkan kakinya lagi ke tanah Indonesia tepat pukul sepuluh siang.
Pasangan suami istri itu datang dan tentu langsung disambut oleh Dhira yang menunggu dan menjemputnya di bandara.
"Mas!" Pekik Dhira dengan berlari ke arah Shaka yang sudah membuka kedua tangannya.
Ah entahlah. Hatinya memang sakit. Namun, jauh di dasar hatinya Bia ikut bahagia. Dia ikut bahagia karena hidupnya berguna dan bisa membahagiakan manusia yang lain.
Bia yang dulunya merasa seperti sampah. Akhirnya kini dia merasa sedikit bangga karena bisa membantu dan membuat pernikahan Dhira dan Shaka menjadi aman karena hadirnya anak ini.
"Selamat datang, Bi," Sapa Dhira bergantian lalu tanpa diduga memeluk Bia dengan lembut. "Terima kasih atas kabar bahagianya."
Bia tersenyum. Dia mengangguk dan membalas pelukan Dhira. "Selamat ya, Mbak. Mbak Dhira akan menjadi seorang ibu."
Dhira meneteskan air mata. Dia melepaskan pelukannya dan menunduk. Menatap perut rata Bia dengan pelan.
"Boleh elus, Bi?"
Bia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Boleh, Mbak."
Shaka melihat istrinya yang mengangkat tangannya. Perlahan telapak tangan Dhira menyentuh perut rata Bia di balik gamisnya. Tangan itu gemetaran dengan air mata yang menangis.
"Anak kita, Mas. Anak kita," Kata Dhira dengan suara bergetar menatap Shaka yang berdiri di sampingnya.
__ADS_1
Shaka mengangguk. Dia menarik lengan Dhira dan memeluknya. Pria itu tak tahan melihat istrinya menangis meski tangisan bahagia.
"Anak kita sudah ada, Mas. Dia hadir diantara kita. Mama dan Kakek akan bahagia," Kata Dhira yang membuat Shaka mengangguk.
"Kita akan memberitahu Mama dan Kakek. Kita akan memberi kejutan pada mereka!"
"Tentu. Kita akan memberitahu semua keluarga tentang ini," Sahut Shaka dengan antusias.
Bia hanya mampu memegang tangannya sendiri. Memilih jemarinya itu saat melihat bagaimana Shaka yang sangat mencintai Dhira. Bagaimana Shaka menatap dunianya. Seakan yang lain tak ada di dalam matanya.
Ya sejak menginjakkan kakinya disini, keberadaan Dhira di antara dia dan Shaka. Pria itu tak melihatnya sedikitpun. Seakan di mata Shaka hanya ada Dhira, Dhira dan Dhira.
"Bi kamu pasti lapar, 'kan?" Tanya Dhira mengejutkan Bia yang melamun.
"Ya, Mbak. Apa?"
"Kamu kenapa, Bi? Apa kamu ada pikiran?"
Ada, Mbak. Pikiran tentang perasaanku yang jatuh hati pada suamimu, kata Bia dalam hati menjerit.
"Gak ada, Mbak. Bia cuma capek," Kata Bia berbohong dengan memaksakan senyumannya.
"Maaf yah tapi kamu laper gak?"
Bia mengangguk. "Iya, Mbak. Bia laper."
"Kita cari makan dulu yah. Setelah itu langsung periksa ke dokter. Aku sudah membuat janji dengan dokter kandunganku," Kata Dhira yang membuat jantung Bia berhenti berdetak.
"Mbak sebentar!" Bia meraih lengan Dhira yang hendak berjalan lebih dulu.
"Ya, Bi?"
"Mbak gak bikin janji di rumah sakit tempatku… "
"Nggak kok!" Sela Dhira dengan cepat. "Aku tau kamu mau merahasiakan semuanya yah. Aku sudah mengaturnya dan dokter ini adalah teman sekolahku dulu!"
Bia mengangguk. Akhirnya dia sedikit lebih lega karena ketakutan dalam dirinya bisa teratasi. Bagaimanapun dia tak mau teman satu rumah sakit atau siapapun tahu tentang pernikahan ini dan kandungannya.
Bia tak mau semuanya dipersulit. Dia ingin semuanya tenang, nyaman dan tentram sampai sembilan bulan ke depan.
"Makasih banyak, Mbak."
"Aku yang harusnya berterima kasih. Makasih sudah menerima ajakan dariku dan membuatku menjadi istri yang beruntung, Bi. Aku berjanji akan menjagamu dan anakku ini dengan baik."
__ADS_1
~Bersambung
Gimana dengan bab ini hm? masih satu bab, belum bab yang lain. Huhu