
...Bahagia diatas penderitaan seseorang bukanlah jalan yang terbaik. Ingatlah dia ada karena kita dan apa yang kita lakukan akan kembali pada diri kita sendiri. ...
...~JBlack...
...****************...
"Ada apa Bia menelpon, Sayang?" Tanya Shaka setelah keduanya melampiaskan kenikmatan berdua.
Pria itu mengambil ponselnya karena ingat jika ada seseorang yang menelpon saat keduanya saling mengejar kenikmatan. Shaka yang sangat takut jika rekan bisnis atau kerjanya maka dia dengan cepat membuka ponselnya.
Nafas keduanya masih saling naik turun. Keduanya saling beradu nafas dengan begitu kuat karena keduanya habis bertempur di atas ranjang dengan sangat ganas.
Shaka mengerutkan keningnya saat nama istri sirinya itu disana.
"Aku gak tau, Mas. Coba telepon balik!" Kata Dhira dengan suaranya yang ketus.
Ah dari nada suara saja. Membuat Shaka paham akan solusinya. Dia melirik istrinya itu lalu meletakkan ponselnya kembali dan melingkarkan tangannya di perut Dhira.
"Jangan ngambek dong. Cemburu yah?" Bisik Shaka menggoda.
"Lepas ah, Mas. Aku gerah!" Kata Dhira dengan mencoba melepas pelukan Shaka.
Namun, bukannya terlepas. Lingkaran tangan itu semakin kuat.
"Kamu kalau cemburu gini. Gemes banget deh, Sayang. Beneran nih!" Bujuk Shaka semakin jadi.
"Gak mempan dan gak lucu gombalan kamu!"
Shaka tak menyerah. Dia sangat tahu bagaimana Dhira. Tinggal dengan Dhira, hidup berdua dan saling kenal membuat pria itu sangat tahu tabiat istrinya.
"Kamu yakin nyuekin aku?" Kata Shaka dengan suara pelan lalu menyerukan kepalanya di leher Dhira. "Aku kangen kamu loh, Sayang. Kangen banget malah!"
"Mas!" Lirih Dhira dengan menahan nafas.
Suaminya ini benar-benar sangat tahu bagaimana membujuknya. Bagaimana cara agar dirinya tak marah. Bagaimana cara agar dia bisa memaafkan Shaka jika pria itu salah.
"Maafin aku, Sayang. Yah… "
Dhira masih diam. Seakan wanita itu memang sengaja membuat suaminya kesal bukan main.
" Aww!" Pekik Dhira saat dia merasakan gigitan di lehernya. "Bener-bener kamu ya, Mas. Sakit tau!"
__ADS_1
"Habisnya kamu gemesin!" Kata Shaka tak mau kalah.
Akhh Dhira salah tingkah. Pipinya memerah dan membuat tingkah perempuan itu semakin lucu dan menggemaskan.
"Kamu harus tanggung jawab. Kamu harus bayar leher aku yang merah!" Kata Dhira dengan pelan dan berhasil menjauhkan kepala suaminya dari lehernya.
"Katakan! Apa yang kamu inginkan?"
Dhira masih diam. Namun, tak lama Dhira perlahan menatap mata suaminya. Dua mata itu saling tatap seakan saling menyalurkan apa yang keduanya rasakan.
"Aku ingin masak masakan kamu, Mas. Aku mau makan dari buatan tangan kamu. Oke?"
Shaka merasa dejavu. Pikirannya seakan memutar dan membayangkan apa yang pernah dia lakukan dengan Bia di Singapura.
"Bagaimana kabar Bia? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Gumam Shaka dalam hati.
"Mas!" Rengek Dhira sambil menggoyangkan tangan suaminya itu.
"Ya?"
"Aku mau makan masakan kamu!" Kata Dhira setengah memaksa.
"Baiklah. Aku akan memasak nasi goreng saja yah?"
...****************...
Saat Dhira baru saja menjejakkan kakinya menuruni tangga. Aroma khas nasi goreng tercium di hidungnya. Makanan favorit dia sejak muda itu sangat terhirup jelas olehnya. Segera dia menuju dapur dan melihat apa yang dilakukan oleh suaminya.
Pria tampan dengan celana pendek selutut dan kaos yang membentuk tubuhnya sedang mondar mandir disana. Shaka, tak menyadari jika ada sosok yang menatapnya tanpa berkedip.
Bagian ini adalah bagian favorit Dhira. Saat suaminya berperang dengan alat masak, ketampanan Shaka menambah sangat jauh diatasnya menurutnya.
"Hai, Sayang. Kemarilah!" panggil Shaka saat dia baru menyadari ada Dhira di pintu dapur.
Seperti kucing dengan induknya. Dhira menurut. Perempuan itu berjalan di mendekati Shaka sampai pinggangnya ditarik oleh suaminya hingga tubuh keduanya menempel. Dhira tak bisa mengelak. Namun, posisi ini sangat-sangat dirindukan olehnya.
"Nasi goreng ditambah jamur, sosis, telur dan ayam spesial untukmu," kata Shaka dengan tangan kirinya mengapit pinggang Dhira dan tangan kanannya menggerakkan spatula.
"Ini beneran, Mas yang masak?" tanya Dhira tak percaya.
Jujur hampir Dhira tak mau memakan masakan suaminya. Entah kenapa wanita itu dulu tak suka melihat dirinya memasak. Namun, entah setan apa yang merasuki hari ini.
__ADS_1
Dhira bisa mau memintanya memasak.
"Tentu saja," ucap Shaka sambil menepuk dadanya. "Hanya ada aku disini."
Dhira mengangguk. Pandangannya ia alihkan di satu wajan besar yang berisi nasi goreng spesial campur itu. Terlihat menggiurkan hingga tanpa sadar membuat Dhira menelan ludahnya.
"Ingin mencobanya?" tawar Shaka saat melihat ekspresi istrinya.
Sebagai seorang suami yang sudah beberapa tahun bersama Dhira. Dia sangat mengenal betul istrinya itu. Istri pertamanya ini paling tak bisa menahan jika ada makanan favoritnya ini.
Dengan malu-malu kepala Dhira mengangguk. Dia melihat suaminya mengambil sendok dan menyodorkan di depan mulutnya.
"Aaa…"
Dia tak menolak. Dhira segera memakan sesendok nasi goreng itu hingga matanya terpejam. Ini benar-benar nasi goreng yang sangat lezat. Kemampuan Shaka dalam bidang memasak tak perlu diragukan lagi. Pria itu memang memiliki hobby yang sama dengan ibunya meski dirinya sering tak percaya. Suka berperang dengan alat masak dan menciptakan makanan yang enak adalah hal yang berbeda di mata Dhira.
"Kurang?"
Pipi Dhira bersemu merah saat dia kepergok merasa ingin memakan nasi gorengnya lagi. Tak bisa menghindar, tangan Shaka mengelus kepalanya lembut dan mencium pucuk kepala istrinya itu.
"Duduklah dulu. Aku akan menyajikan di meja makan."
Akhirnya Shaka segera membagi rata nasi goreng itu di atas piring. Meletakkannya di atas meja makan dan bersamaan dengan dirinya dan istrinya.
"Makan yang banyak, Sayang. Habiskan semuanya!" Kata Shaka dengan pelan.
"Iya, Sayang. Aku akan makan yang banyak untukmu," Jawab Dhira sambil membusungkan dadanya dan menepuknya dengan bangga.
Entah kenapa apa yang dilakukan oleh Shaka membuat Dhira tertawa dengan keras. Tawa yang sangat dirindukan oleh Shaka akhirnya mampu melihatnya kembali. Tawa bahagia dan begitu lepas tanpa beban. Tawa itulah yang sangat-sangat berharga untuk Bara saat ini.
Shaka benar-benar bahagia. Dia menatap istrinya yang makan dengan lahap. Suara canda tawa dan bahagia itu tersebar luas disana. Dengan baik bahkan Shaka mengusap sudut bibir istrinya yang berantakan saat makan.
"Lain waktu kamu harus masakin aku lagi, Sayang!" Kata Dhira sambil mengedipkan sebelah matanya di depan suaminya.
"Tentu. Apa yang kamu mau, apa yang tuan putri minta. Hamba akan siap untuk membuatkannya!"
"Serius, Mas? Yakin?"
Shaka mengangguk. Dia menangkup kedua sisi wajah Dhira lalu mencium dahinya. Ciuman yang hangat, ciuman singkat yang sangat amat menunjukkan bahwa keduanya saling mencintai.
"Serius, Sayang. Aku akan memasakkan untukmu jika mau!"
__ADS_1
~Bersambung
duhh mas Shaka jan bikin ulah terus ente yah. kesel abis di bikin baper jadi sakit lagi.