
...Ternyata menguatkan hati untuk tak lemah di hadapan pria yang kita cintai adalah hal tersulit yang kulakukan. Menyakitkan dan itu bukan hal mudah untukku. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
"Aku akan mampir ke rumah Bia sambil berangkat ke kantor, Sayang. Kamu mau ikut?" Tanya Shaka pelan sambil berjalan menuruni tangga.
Dia menatap istrinya yang duduk dengan tenang di atas kursi meja makan sambil memainkan ponselnya. Mata Shaka menatap pelayan rumahnya yang menyiapkan sarapan pagi untuknya di meja makan.
"Nggak, Mas. Aku mau tidur. Badanku sakit semua," Rengek Dhira yang membuat Shaka mengangguk.
Dia mengusap kepala Dhira lalu duduk dengan tenang.
"Tidurlah. Aku akan pulang cepat hari ini," Kata Shaka yang membuat Dhira mendongakkan kepalanya.
Perempuan itu meletakkan ponselnya di atas meja makan lalu menatap suaminya dengan pandangan terkejut.
"Tumben, Mas? Biasanya kamu pulang malam?" Tanya Dhira dengan nada sedikit menyindir.
Shaka tersenyum. Dia menggenggam tangan Dhira lalu mengusapnya pelan.
"Aku sadar selalu sibuk dengan pekerjaan. Meninggalkanmu di rumah sendirian sampai malam. Jadi biarkan aku menebusnya sekarang yah?"
Dhira mengangguk. Dia membalas genggaman tangan suaminya dan mencium tangan itu dengan hangat.
"Makasih, Mas. Aku bahagia kamu mau luangin waktu buat aku tapi… " Jeda Dhira yang terhenti karena pelayan mengantar makanan penutup.
"Tapi apa?"
"Aku nanti sore mau keluar dengan temanku. Apa boleh?"
"Tentu. Lakukan apa yang membuatmu bahagia," Ujar Shaka dengan lembut
Dhira tersenyum begitu lebar. Dia menganggukkan kepalanya seakan jawaban Shaka sangat amat membuatnya seperti mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah.
"Makasih banyak ya, Mas. Kamu gak pernah larang aku apapun. Aku makin cinta sama kamu."
...****************...
Di tempat lain. Embun pagi terlihat begitu menyejukkan mata di sebuah halaman rumah yang terlihat sangat asri dan sejuk. Halaman yang luas dengan bunyi kendaraan di depan rumah tak membuat seorang ibu hamil yang tengah jalan-jalan merasa terganggu.
__ADS_1
Pikirannya tenang, dunianya terasa tentram saat dia mulai menginjakkan telapak kakinya yang tak memakai alas dengan rumput yang basah.
Bia, wanita itu tersenyum dengan hangat. Dia benar-benar mulai tenang. Jiwanya yang sakit semalam seakan ikut dengan tidurnya yang membuatnya benar-benar mulai menerima semuanya.
Bia telah berubah. Dia mulai mencoba memikirkan anaknya. Dia tak boleh egois. Saat ini hal yang lebih penting daripada hatinya adalah kandungannya sendiri.
Tarikan nafas yang tenang, udaranya di rumahnya yang sejuk mungkin karena banyaknya pohon dan bunga semakin membuat perasaan ibu hamil satu ini sangat amat tenang dan bahagia.
Bia berjalan sambil mengusap perutnya. Dia tersenyum dengan hati yang berusaha tetap terjaga. Ingat semua nasehat dokter dan membuatnya tak mau terjadi hal sesuatu yang tak dia inginkan.
"Pagi ini Bunda bakalan buat salad yah. Pakai buah strawberry, anggur sama apel doang," Kata Bia dengan tersenyum.
Dia lekas berjalan menuju pintu utama. Bia hendak melakukan apa yang ingin dia lakukan. Sampai akhirnya saat langkah kakinya hampir mencapai pintu rumah. Suara mesin mobil memasuki halaman rumahnya membuatnya menoleh.
"Mas Shaka," Lirih Bia pelan dengan melihat sosok pria yang baru saja turun dari mobilnya.
"Assalamu'alaikum," Salam Shaka dengan bibir yang tersenyum lebar dan tangan membawa beberapa kantong plastik. "Selamat pagi, Anak Papa."
Shaka menyentuh perut Bia. Namun, perempuan itu dengan spontan memundurkan langkahnya beberapa langkah. Hal itu tentu membuat Shaka terkejut dan mendongak.
"Ada apa, Bi?" Tanya Shaka dengan kening berkerut.
"Gapapa, Mas," Sahut Bia dengan memaksakan senyum. "Mas ngapain kesini?"
"Aku ingin melihat anakku," Kata Shaka lalu mendekat. "Kemarilah, Bi. Aku ingin mengusap perutmu."
Bia menelan ludahnya paksa. Akhh niat hati ingin menjauh. Ingin menguatkan hatinya tapi kenapa sekarang terasa sulit.
Berhadapan dengan orangnya langsung ternyata membuat Bia merasa seperti sesak nafas dan mematung. Sampai akhirnya tarikan pelan di tangannya membuat gadis itu terkejut dan jatuh tepat di pelukan Shaka.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Shaka pelan yang membuat Bia benar-benar terhipnotis dengan tatapan mata.
"Sadar, Bi. Sadar! Apa yang semalam kamu dengar hm?" Teriak suara hati Bia dalam hatinya.
"Mas jangan gini, Mas. Takut ada yang lihat!" Kata Bia mendorong dada Shaka dengan kuat.
Berhasil.
Pria itu melepaskan pelukannya dan membuat Bia bisa masuk ke rumahnya terlebih dahulu. Dia hanya ingin kabur, dia ingin lepas dari jeratan Shaka sebentar.
"Bi!" Panggil Shaka yang menyusul Bia.
__ADS_1
"Kamu mau buat apa?" Tanya Shaka mengikuti Bia yang memasuki dapur.
Bia tak menjawab. Ibu hamil satu ini malah lebih memilih mengambil buah yang dia inginkan lalu dia letakkan di atas meja. Dia juga mengeluarkan mayonaise dan susu dari dalam lemari pendingin.
Shaka yang merasa dicueki tak pantang arang. Dia mengambil pisau yang dipegang Bia lalu mengambil apel juga dari tangannya.
"Mas!"
"Aku bantu kupas!" Seal Shaka dengan nada tak mau dibantah.
Akhirnya Bia tak mau memaksa. Dia tak mau membuat masalah dan semakin runyam. Lebih baik dirinya memilih mengalah lalu mulai menyiapkan saus salad buatannya.
"Oh iya, Bi. Semalam ada apa kamu menelpon?" Tanya Shaka yang ingat sesuatu.
Bia terdiam. Dia tak menjawab dan malah meneruskan pekerjaannya.
"Aku semalam sibuk. Maafin aku, Bi. Jadi gak kedengeran suaramu," Kata Shaka dengan tak enak hati.
"Gak papa, Mas. Bukan masalah penting," Jawab Bia dengan pelan.
"Bahkan masalah penting apapun, kamu gak bakal dateng," Lanjut Bia dalam hati yang terdalam. "Bahkan sampai semalam aku spam telfon kamu. Aku yakin gak bakal dibalas. Kamu terlalu sibuk dengan istrimu dan bersenang-senang."
Semua itu hanya bisa dia katakan dalam hati. Semua sakitnya, semua gundah gulananya hanya bisa dia dapat dan dia lampiaskan dalam hatinya.
Perasaan ini tak berbalas. Dia hanya bisa menyimpannya sendiri tanpa semua orang tahu.
"Bibi Mar kemana?" Tanya Shaka yang melihat rumah istri sirinya itu sangat sepi.
"Bibi ke pasar," Jawab Bia dengan jujur.
"Kenapa kamu gak ikut?" Tanya Shaka dengan tangan memotong apel itu dengan lincah.
"Aku bangun kesiangan," Kata Bia lalu merebut pisau yang ada di tangan Shaka.
"Gak usah bantu, Mas. Kamu lebih baik ke perusahaan. Bajumu udah rapi banget, aku takut kotor!" Kata. Bia dengan pelan dan terkesan menyindir.
Perempuan itu memang niat menyindir Shaka. Dia ingin suaminya itu sedikit lebih peka.
"Jangan membuatku marah, Bi. Aku kesini untuk lihat anakku dan Dhira. Aku ingin menjenguknya sebentar."
~Bersambung
__ADS_1
Ciuh semalam habis bikin gedeg, sekarang ngerayu. Dasar lu kang gombal.
Maaf kemarin aku izin libur hak update lak. istirahat hehe habis perjalanan surabaya aku kemarin.