
...Terkadang kebersamaan yang terjadi tanpa sadar membuat di antara keduanya mulai bergantungan dan saling membutuhkan. ...
...~JBlack...
...****************...
Pipi Dhira bersemu merah. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan saat Shaka meneliti semua tubuhnya dengan intens. Hal itu membuat pria yang sedang dimabuk wajah Bia mulai gemas. Dia membuka wajah Dhira yang dia lihat sebagai Bia lalu memberikan kecupan mesra di bibir.
"Apakah boleh aku meminta hakku lagi?" tanya Shaka dengan lembut dan tangan mengusap area rawa-rawa itu dengan gerakan menggoda.
Jika caranya begini Dhira tak bisa berpikir jernih. Dia hanya merasa panas dan ingin sesuatu meledak dalam dirinya. Akhirnya tanpa suara, kepala gadis itu mengangguk seakan menyetujui apapun yang dilakukan oleh Shaka dalam dirinya.
"Aku milikmu, Sayang."
Mendengar jawaban Bia. Kepala Shaka langsung sejajar dengan rawa-rawa yang terlihat basah. Bukannya merasa jijik tapi Shaka merasa tertantang.
Akhirnya dia mulai memasukkan salah satu jarinya yang ternyata membuat sesuatu yang sangat Dhira sukai. Perempuan itu menjerit terkejut tapi bukannya kesakitan melainkan Dhira semakin blingsatan.
Dengan semakin tak tahan, Shaka kembali memasukkan jari keduanya hingga dia bisa merasakan sesuatu dalam rawa sang istri berkedut. Ya pria itu mendongak. Dia ingin melihat ekspresi istri sirinya itu.
Dhira yang ditatap sebagai Bia itu menunduk hingga Shaka bisa melihat wajah Bia yang melambai di depan matanya.
"Kamu luar biasa, Sayang," Kata Bia di kata Shaka.
Tak mau semakin menunda. Shaka memajukan wajahnya. Mengganti jari itu dengan lidah tak bertulang miliknya hingga membuat Dhira memejamkan matanya.
"Sayang, teruskan!" pekik Dhira dengan suara serak yang terdengar seksi.
Shaka tak menjawab. Dia seakan menemukan kegiatan yang membuatnya candu. Memakan bak sedang memakan es krim dan permen. Memainkan lidahnya seperti penari mengorek semua isi milik Bia dengan lidahnya yang sangat lihai. Hal itu mampu membuat wanita itu menjerit hingga membuat Shaka semakin berantusias.
"Sayang, aku!" Mata Dhira juling ke atas.
Dia merasakan sesuatu meledak dalam dirinya untuk pertama kali. Hal itu entah kenapa membuatnya merasa lega sekaligus kurang dalam bersamaan.
Sedangkan Shaka, melihat sesuatu cairan basah yang keluar dari milik Bia semakin bahagia. Dia menyesapnya sampai habis hingga membuatnya semakin kecanduan.
Namun, ini tak boleh seperti ini terus. Miliknya sudah ingin berperang kuat dengan milik Bia. Hal itu tentu harus dikabulkannya. Hingga akhirnya Dhira melihat Shaka mulai membuka kaos yang digunakan dan melemparkannya ke lantai. Lalu diikuti celana yang dipakai oleh Shaka telah lolos yang membuat wanita itu menahan napas.
__ADS_1
Entah kenapa Dhira merasa tak sabar. Ya mungkin karena keduanya sudah hampir sebulan lebih tak melakukan hubungan badan. Saat keduanya harus dipisahkan dalam waktu yang tak sebentar hingga membuat jantung Dhira berdegup kencang.
Disana, milik Shaka sudah berdiri tegak. Bersiap bertempur untuk menghabiskan malam yang panas dan indah bersamanya.
"Kalau sakit, katakan padaku, Sayang. Aku akan berhenti. Oke?" pinta Shaka saat tubuh mereka mulai bertatapan.
Kepala Dhira mengangguk. Tangan mereka menyatu dan diletakkan di samping kanan kepala Bia. Sedangkan tangan kanan Shaka semakin membuka kaki Bia.
Shaka sedikit mengangkatnya hingga akhirnya posisi miliknya dan milik Bia sejajar. Dengan pelan, pria itu menggeseknya secara perlahan hingga membuat Dhira tak sabar bukan main.
"Mas. Aku sudah tak tahan. Masuki aku!"
Tatapan keduanya saling menatap penuh gairah. Baik Shaka dan Bia sudah tak bisa mundur lagi. Mereka sama-sama menginginkan kenikmatan ini. Hingga perlahan gesekan itu dihentikan oleh Shaka.
Pria itu mulai menyelipkan miliknya dengan mudah. Pria itu mengerut tapi tak lama dia berusaha membuat dirinya tenang.
Genggaman tangan Bia yang semakin kuat membuat Shaka menghentikan gerakannya. Dia bisa melihat wajah istri sirinya yang begitu cantik itu dengan lekat.
"Kenapa berhenti, Mas?" tanya Bia yang tak merasakan pergerakan Shaka.
Ya selama berhubungan di Singapura. Selama bulan madu mereka. Selama Shaka melakukannya tanpa obat. Pria itu benar-benar melakukannya dengan sadar, melakukannya dengan lembut dan selalu mengutamakan kenyamanan Bia.
Dia tak pernah egois. Shaka tak pernah memaksa apapun meski dirinya harus mengakui jika dirinya sudah candu dengan milik Bia.
Ya mereka selalu melakukan hal hal manis itu di semua tempat villa yang disewa oleh Dhira. Dalam keadaan sadar keduanya melakukan dan membuat pandangan mata Shaka semakin terhanyut dalam pesona Bia.
"Iya, Mas," kata Bia dengan jujur pada suaminya itu.
"Jangan dipaksakan kalau kamu tak kuat."
"Mas!" pinta Bia melingkarkan kedua tangannya di leher Shaka.
Tatapan mereka saling beradu pandangan. Bia menatapnya penuh gairah dan hangat lalu mencium bibir Shaka dengan lembut.
"Aku sudah siap. Lanjutkan," kata Bia dengan suaranya yang terdengar sangat seksi.
Dia tak bisa menolak. Wanita itu bisa merasakan milik Shaka sangat besar dan siap perang. Dia menatap suaminya dengan lekat lalu mulai menggodanya.
__ADS_1
"Kamu!"
"Ayo masuki, Mas!" Rengek Bia yang terbayang jelas di kedua mata Shaka.
"Katakan kalau sakit yah!" pinta Shaka dengan lembut.
"Pasti, Mas."
Akhirnya Shaka membiarkan tangan istri sirinya itu mengalung ke lehernya. Dia memegang kaki Bia agar miliknya semakin leluasa menjelajahi lembah istrinya itu.
Hingga sedikit demi sedikit miliknya itu mulai menerobos masuk dan tertelan semuanya.
"Mas!" Pekik Dhira dengan suaranya yang sangat seksi.
Namun, di telinga Shaka, pria itu hanya mendengar suara Bia serta matanya menatap sosok Bia yang terlihat jelas.
Sepertinya Shaka benar-benar sudah tergila-gila sekarang. Dia bahkan semakin gila membayangkan atau melihat Dhira sebagai Bia sekarang.
Milik Shaka berhasil menyelinap sempurna. Tertelan habis oleh milik Dhira dan membuat wanita itu mulai bergerak.
Untuk Shaka, ini seperti melayang di langit ketujuh. Miliknya mendapatkan kedutan kuat yang membuat miliknya ingin sekali segera berperang. Pria itu tak bisa menahannya lagi. Dia melepaskan ikatan tangan Bia di lehernya lalu membuatnya berada di atas kepala wanita itu.
"Jangan gerakkan kedua tanganmu, Sayang. Kalau bergerak. Aku akan menghukummu. Oke?"
Bia mengangguk. Perlahan kedua kaki Bia diangkat oleh Shaka. Bagian punggung bawah, diganjal oleh bantal kecil hingga posisi milik Bia semakin mampu menelan miliknya.
Dengan pelan, Shaka mulai memainkan miliknya. Berperang dengan pelan lalu cepat secara teratur yang membuat Bia sangat amat menjerit dengan laknat.
Hal indah yang wanita itu rasakan membuat otaknya melayang ke langit ketujuh. Mata mereka terpejam merasakan sensasi yang sangat nikmat dan panas ini. Keringat mulai membasahi keduanya. Namun, tak ada yang mau berhenti dan menghentikannya.
Bahkan Shaka semakin bergerak dengan cepat tatkala dia merasakan milik Bia mencengkram miliknya semakin kuat.
"Mas, aku…" Akhirnya Dhira meledak lebih dulu.
~Bersambung
Kira kira kalau Mas Shaka sebut nama Bia gimana yah? jadi berabe gak? hayoo
__ADS_1