Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Kecupan Dahi


__ADS_3

...Kadang menjadi orang yang tak pernah tahu apapun adalah jalan pintas agar menjadi tak menjadi orang yang paling sakit hati untuk permasalahan hati. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Akhirnya Shaka dan Dhira mengantar Bia ke rumahnya. Rumah impian Bia yang diberikan oleh orang tuanya. Rumah yang menjadi tempatnya melepas lelah ketika pulang kerja. Rumah yang merupakan jadi tempatnya berkeluh kesah itu terlihat begitu terawat dari depan.


"Mas Shaka sama Mbak Dhira mau mampir?" Tanya Bia saya mobil yang dikemudikan oleh Shaka telah berhenti tepat di depan sebuah rumah yang sangat terlihat asli dan sejuk itu.


"Nggak!"


"Iya!"


Jawab pasangan suami istri itu yang berbeda. Tentu Shaka dan Dhira menjadi saling tatap.


"Mas mau ngapain?" Tanya Dhira dengan pandangan curiga. "Bukankah kita harus ke rumah Mama?"


"Kita harus mengecek bagaimana keadaan rumah Bia, Sayang? Rumah ini ditinggali hampir sebulan lebih, kalau ada sesuatu di dalam bagaimana? Apalagi pelayan yang akan kita suruh belum kita kasih tau!" Kata Shaka dengan logis.


Dhira yang sangat amat teliti akhirnya mengangguk. Dia menatap ke arah Bia yang masih duduk tenang di belakang dan menyetujui permintaan gadis itu untuk mampir ke rumahnya.


"Kamu rawat sendiri bunga ini, Bi?" Tanya Dhira penasaran.


Halaman rumah Bia yang tak begitu luas itu terlihat begitu asri memang. Banyak bunga yang ditanam di sama dari yang pot sampai dikembang biakkan dengan cara yang lain.


"Iya, Mbak," Sahut Bia sambil berjalan ke arah pintu rumahnya.


Dia lekas mengambil kunci rumah. Perasaannya sangat bahagia dan nyaman ketika matanya mulai melihat keadaan rumah miliknya yang aman.


"Silahkan masuk!" Kata Bia dengan sopan.


Perempuan yang tengah berbadan dua itu melepas jaketnya dan menggantung di tempat gantungan jaket yang ada di dekat pintu masuk keluar rumahnya. Biar lekas berjalan ke arah tirai yang ada di ruang tamu. Membuka tirai itu dengan pelan dan jendelanya agar udara segar itu masuk ke dalam rumahnya.


Rumah sederhana dengan beberapa furniture yang sangat sederhana tapi estetik itu membuat Shaka terlihat nyaman. Meski rumahnya tak terlalu besar, tak terlalu mewah tapi jujur kondisi dan keadaan beberapa tata letak membuat siapapun merasa nyaman dan tenang disini.


"Kamu serius mau tinggal disini, Bi?" Tanya Dhira dengan pandangan yang sepertinya tak nyaman.. "Rumah ini kecil, Bi. Gak besar terus… "


Dhira menatap ke atas. Dia menyadari jika rumah ini tak bertingkat. Rumah lantai satu yang tata letaknya memang sangat saling berdekatan. Tak begitu luas seperti di rumahnya sendiri bersama Shaka.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Bia nyaman disini. Bia bisa gerak tanpa batas."


Bia mengatakan itu dengan tersenyum. Jujur dia tak tersinggung sama sekali dengan ucapan Dhira. Mungkin menurut orang rumahnya adalah rumah kecil dan sempit.


Namun, untuk dirinya yang tinggal seorang diri, bergerak sendiri dan bekerja hampir seharian di rumah sakit. Sangat amat menyukai rumah yang menurutnya bisa ia tetap dengan jarak dekat dan puas.


"Yaudah. Mbak gak mau maksain tapi yang pasti kamu harus jaga diri baik-baik oke?x


Bia mengangguk setuju. Apa yang ada dalam pikirannya akhirnya terwujud. Dia tak akan melihat pemandangan yang membuatnya sakit hati, dia tak akan melihat sesuatu yang membuatnya stress, cemburu dan juga tertekan.


Lebih baik menjadi orang yang tak tahu apapun tapi bahagia daripada harus menjadi orang yang serba tahu tapi menyakitkan. Jujur sangat sakit mencari penyakit sendiri.


Jangankan serumah, Bia yang melihat bagaimana perlakuan Shaka selama perjalanan tadi membuat hatinya sakit. Jiwanya tersentil bahwa dia harus sadar pemeran utamanya telah kembali disini.


Bahwa dia harus sadar dirinya adalah pemeran pengganti. Tak ada yang spesial dari semua kenangan yang terwujud selain untuknya sendiri. Ya untuk, Bia. Untuk Bia semua adalah kenangan indah yang tak akan dia ganti dan dia lupakan sedikitpun.


"Yaudah. Mbak sama Mas Shaka pulang ya, Bi!" Kata Dhira dengan menatap ke sekeliling dan mencari sosok suaminya yang tak terlihat.


"Kemana Mas Shaka?" Tanya Dhira yang tak melihat suaminya itu.


Bia ikut menatap sekitar. Ya Shaka tak ada disana.


Dhira menggeleng. Dia berjalan ke arah pintu rumah dan berdiri disana.


"Mbak tunggu dalam mobil ya, Bi. Tolong carikan Mas Shaka dan bilang kita harus cepat ke rumah mama."


Bia mengangguk. Dia melihat Dhira mulai berjalan ke arah mobil dan membuat ibu hamil itu masuk ke dalam rumahnya dan berjalan ke arah belakang.


Terakhir dia melihat Shaka adalah pria itu mengecek sekitar. Akhirnya Bia yakin jika suaminya itu ada di taman belakang dan benar saja. Saat Bia baru saja keluar dari pintu penghubung. Dia melihat sosok Shaka yang benar ada disana.


Pria itu sedang berdiri sambil melihat beberapa tumbuhan buahnya yang ia tanam.


"Mas!" Panggil Bia yang membuat Shaka menoleh. "Mbak Dhira udah di mobil. Katanya suruh cepetan pulang karena mau ke rumah keluarga Mas Shaka."


Shaka yang baru ingat mengangguk. Dia menatap sekitar dan terlihat menarik nafasnya begitu dalam.


"Buah disini kamu yang tanam?"


Bia menatap apa yang Shaka lihat. Beberapa jauh strawberry yang ia tanam, lalu seperti sayuran tomat, cabe dan beberapa sayur hijau lain sudah terlihat siap dipetik.

__ADS_1


"Iya, Mas."


"Boleh aku minta buah ini?" Tanya Shaka sambil menyentuh sebuah buah berwarna merah merona itu.


"Strawberry?"


Kepala Shaka mengangguk.


"Aku pengen banget, Bi. Rasanya kayaknya bakalan seger gitu. Boleh?"


Bia mengangguk. Dia berjalan ke arah tanaman strawberry yang terlihat begitu rapi itu. Bia mengambil dan memetik buahnya beberapa lalu dicuci olehnya di sebuah kran air yang mengalir dengan begitu lancarnya.


"Ini," Ujar Bia memberikan pada Shaka yang terlihat tak sabaran.


Pria itu menerima buah itu. Shaka lalu tanpa berpikir panjang segera memakannya.


"Gimana?" Tanya Bia dengan menatap ekspresi wajah Shaka yang begitu tenang.


"Enak. Gak terlalu masam dan ya aku suka!"


Bia tersenyum. Dia melihat Shaka yang lahap memakan buah petikannya sampai akhirnya buah yang ada di tangan Shaka habis.


"Aku harus pulang!" Kata Shaka pamit pada Bia.


Ibu hamil itu mengangguk. Jujur dalam dirinya dia merasa berat. Namun, kembali lagi, dia harus sadar. Sadar bahwa dirinya bukanlah pemeran utama.


"Kamu jaga diri baik-baik ya, Bi. Jangan ceroboh. Jangan kecapekan. Aku akan mampir kesini tiap hari ketika mau ke kantor. Oke?"


Bia mengangguk tersenyum. Dirinya semakin menahan nafas saat Shaka mendekati dirinya dan mengusap kepalanya.


"Jaga anak kita dengan baik ya. Makan yang teratur dan pelayan yang aku minta akan datang besok kesini," Kata Shaka yang membuat perasaan Bia menghangat.


Jantung Bia semakin tak karuan saat Shaka mendekat, melingkarkan tangannya di pinggangnya dan terakhir. Sebuah kecupan begitu pelan di dahi Bia membuat ibu hamil itu seperti lupa bernafas.


Jantungnya berdegup kencang, perasaan bahagia dan juga dia merasa kupu-kupu terbang di perutnya.


"Jangan tidur terlalu malam," Kata Shaka saat kecupan di dahi itu terlepas dan membuat Bia benar-benar sadar bahwa kecupan itu nyata


~Bersambung

__ADS_1


Duh Mas Shaka ini masih aja ngasih harapan kek gini lagi. Lama-lama kamu tak krues loh ihh. manis manis gemes ngeselin


__ADS_2