
...Ternyata melihat sosok yang selalu kita cintai sakit hati karena ulah kita. Ada rasa penyesalan yang besar dalam diri kita. ...
...~Ashaka Karena...
...****************...
Nafas perempuan itu terengah-engah dengan dada naik turun. Dia sudah lemas seperti habis berlari maraton. Namun, tidak dengan Shaka. Pria itu masih kuat dan sanggup hingga membuatnya ingin mencoba hal baru lagi. Dibaliknya tubuh istrinya itu hingga telungkup. Lalu diangkatnya bagian bawah hingga membuatnya semakin seksi.
Shaka langsung menyelipkan lagi miliknya dan dia memegang dua bongkahan sekal milik Bia. Pria itu bahkan mencengkramnya dengan kuat sampai meninggalkan bekas saat gerakan keduanya semakin cepat.
Hingga Shaka mulai merasakan sesuatu ingin melesak keluar. Pria itu bahkan dengan kasar menampar padatnya bongkahan bawah milik Bia hingga wanita itu sedikit memajukan tubuhnya karena terkejut.
"Agh, mas. Sakit!" Pekik Dhira saat tangan Shaka terus memukul pantatnya.
Dia terkejut. Jujur baru kali ini Dhira merasakan hal berbeda dari suaminya itu.
Bersamaan dengan itu. Baik milik Shaka dan milik Bia akhirnya meledak bersama. Keduanya terhempas di atas ranjang dengan Shaka ada di atas Bia dengan milik mereka masih dalam penyatuan.
Nafas keduanya terengah-engah. Tapi mereka sama-sama puas. Akhirnya Shaka menyingkirkan tubuhnya. Dia membaringkan dirinya di samping Bia lalu membalikkan tubuh wanita itu dan memeluknya.
"Kamu luar biasa, Bi. Aku suka dengan milikmu."
Jantung Dhira mencelos. Mata wanita itu terbuka dengan kilat marah. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar. Wanita itu mendorong tubuh Shaka dan menamparnya.
"Aku Dhira, Mas! Bukan Bia!"
Spontan jantung Shaka seakan berhenti berdetak. Ya pria itu merasa tertampar dengan kenyataan. Matanya spontan terbuka semakin lebar.
Dan benar saja. Wanita yang ada di dekatnya, wanita yang mulai berdiri dan meraih pakaiannya kembali adalah istri pertamanya.
Istri yang sangat dia cintai. Istri yang selama ini memenuhi hatinya sebelum adanya Bia, istri sirinya.
"Sayang!"
"Jangan bilang kalau kamu bayangin aku sebagai Bia, Mas!" Pekik Dhira dengan marah. "Jangan bilang kalau apa yang kita lakuin barusan adalah bayangan kamu dan Bia!"
Shaka terdiam. Dia tak bisa melakukan pembelian apapun. Apa yang dikatakan oleh istrinya benar. Apa yang dikatakan oleh Dhira tak ada yang salah.
"Kenapa diam, Mas! Kenapa hah?" Terima Dhira dengan marah.
Nafas wanita itu naik turun. Dia benar-benar terlihat begitu marah dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Kamu jahat, Mas. Kamu jahat! Aku membencimu!"
"Dhira!" Seru Shaka yang ikut turun dari ranjang.
Di memakai celana pendeknya lalu menyusul istrinya. Shaka menarik tangan Dhira yang hendak membuka pintu kamar. Pria itu memeluk Dhira dengan kuat.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf!"
"Lepasin aku! Lepasin aku!" Teriak Dhira dengan begitu keras.
Untung saja semua kamar yang ada di rumah orang tua Shaka kedap suara. Jadi apapun yang terjadi di dalam kamar. Teriakan apapun atau suara jeritan keras tak akan terdengar di luar sana.
"Kamu ingkar janji, Mas! Kamu ingkar!" Seru Dhira mendorong tubuh Shaka.
Dia menghapus air matanya. Dia menatap suaminya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Aku yakin kamu akan meninggalkanku sebentar lagi. Kamu sudah jatuh cinta sama Bia kan? Iya kan?"
Dhira mengatakan itu dengan serius. Air mata bahkan mengalir di kedua matanya. Dia benar-benar merasa kecewa. Sangat amat kecewa.
"Aku memang mandul, Mas. Aku memang tak sempurna. Aku banyak kurangnya daripada Bia!"
"Kamu yang harusnya cukup, Mas. Kamu diam!" Teriak Dhira tak mau kalah.
"Aku kecewa sama kamu. Aku kecewa!" Kata Dhira dengan menangis hebat.
Bahunya bergetar. Air mata itu mengalir deras yang semakin membuat Shaka kecewa pada dirinya sendiri. Dia juga tak tahu kenapa pikirannya bisa membayangkan sosok istri istrinya.
Shaka juga tak tahu kenapa dia bisa memikirkan Bia disaat seperti ini. Dia bisa memikirkan sosok wanita lain saat berhubungan dengan istrinya.
"Aku tak bermaksud melakukan itu, Sayang. Aku menyesal. Aku benar-benar menyesal. Aku tak akan mengulanginya lagi!" Kata Shaka sambil memegang lengan Dhira.
Wanita itu masih diam. Dia menghapus air matanya dengan tangannya yang lain. Lalu dengan pelan Dhira menarik tangan Shaka yang membuat pria itu mendongak.
"Aku masih sakit, Mas. Aku kecewa sama kamu," Lirih Dhira dengan pandangan benar-benar penuh kecewa. "Aku ingin pulang."
"Aku akan mengantarmu!"
"Nggak!" Seru Dhira dengan keras. "Kalau kamu ikutin aku! Aku gak mau kembali sama kamu, ketemu sama kamu dan lihat muka kamu, Mas. Ingat itu!"
Dhira mengancam Shaka tak main-main. Dia menunjuk wajah Shaka dengan jari telunjuknya. Hal yang tak pernah Dhira lakukan akhirnya kini dilakukan.
__ADS_1
Wanita itu terakhir kali menunjuk wajahnya ketika dulu sebelum mereka menikah dan kali ini perempuan itu melakukan lagi.
"Aku akan pulang ke rumahku sendiri. Jangan jemput aku sampai aku pulang sendiri! Ingat itu, Mas!"
Setelah mengatakan itu Dhira lekas mengambil tasnya. Dia juga mengambil jaket yang ada di lemari suaminya. Setelah itu Dhira lekas keluar dari kamar tanpa menatap suaminya lagi. Ya wanita itu pergi tanpa kata apapun lagi.
Meninggalkan Shaka sendirian dengan duduk di atas ranjang. Pria itu mengusap rambutnya ke belakang. Di memukul kepalanya lagi karena merasa bodoh dan jahat akan dirinya sendiri.
Dia sadar menyakiti istrinya lagi. Istri pertama yang sangat dia cintai. Istri pertama yang sangat dia sayangi selama ini. Untuk pertama kali dia membuat Dhira sekecewa ini dengan dirinya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku menyakitimu," Lirih Shaka dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sampai akhirnya, saat pikiran Shaka kacau. Saat pria itu ingin ketenangan. Tiba-tiba suara ponsel dari benda pipih miliknya membuat pria itu mendongak.
Dia mencari dimana letak ponsel miliknya sampai dia melihat di atas meja. Shaka lekas mengambilnya.
"Bia," Kata Dhira membaca username pemanggil.
Pria itu menarik nafasnya begitu dalam. Di hanya melihat panggilan itu tanpa mau mengangkatnya.
"Jangan ganggu aku, Bi!" Lirih Shaka meletakkan ponselnya di sampingnya.
Ponsel itu kembali berbunyi. Hal itu membuat emosi Shaka yang tak stabil mulai kembali tersulut. Dia mengambil ponselnya dan hendak melempar. Namun, bayangan Bia yang hamil membuat pria itu mengurungkan niatnya.
Dia mencoba menarik nafasnya yang naik turun. Shaka berusaha mengontrol dirinya yang benar-benar sedang diadu oleh emosinya.
"Ingat, Ka. Ada anak kamu disana!"
Akhirnya Shaka menggeser layar itu. Dia menerima panggilan itu dan mendekatkan di telinganya.
"Ada apa, Bi?"
…… .
"Apa? Oke aku akan kesana sekarang!"
~Bersambung
Hyaaa ya kan yakan.. Awww berantem deh. Hahaha next bakalan ada kejutaan apa lagi yaw...
siapin jantung aja. mau update lagi gak?
__ADS_1