Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Sosok Misterius?


__ADS_3

...Kebohongan tiap kebohongan yang dibuat lambat laun akan menumpuk dan suatu saat bisa menjadi seperti bom yang siap meledak kapan saja. ...


...~JBlack...


...****************...


"Apa Shaka curiga kepadamu, Sayang?" Kata Dhira sambil membaca teks pesan yang dikirimkan padanya dalamnya.


Matanya mendongak. Dia menatap ke arah Shaka yang saat ini tengah duduk di kursi kerjanya mengerjakan pekerjaan kantor. Dhira tersenyum lalu dia menunduk kembali dan mulai mengetikkan balasan pesan itu dengan cepat.


"Semuanya aman. Bukankah ide ku untuk merubah wangi parfummu berhasil?" Kata Dhira lalu mengirim pesan itu dan setelahnya dia menghapus pesan itu lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Bagaimana kabar anak kita, Mas?" Tanya Dhira yang membuat Shaka menghentikan kegiatannya.


"Baik. Bia juga terlihat baik-baik saja."


"Apa Bia mengalami mual muntah?"


"Sepertinya tidak. Tadi saja dia pagi-pagi sudah membuat salad dan makan dengan lahap," Ujar Shaka yang membuat Dhira mengangguk.


"Kenapa kamu menanyakan Bia, Sayang?x


" Gakpapa, Mas. Aku cuma takut dia gak bisa rawat anak kita. Apalagi itu juga kehamilan pertama dia."


Shaka tersenyum. Perlahan dia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah Dhira. Shaka duduk tepat di samping istrinya itu lalu meraih tangannya.


"Bia pasti bisa menjaga kandungannya. Dia adalah dokter, 'kan? Aku yakin meski ini pertama kali untuknya, meski dia juga bukan dokter kandungan. Bia pasti bisa mengatur seberapa kuat dirinya dan kandungannya," Kata Shaka percaya dengan Bia.


"Iya, Mas. Tapi… . " Jeda Dhira yang membuat Shaka menunggu perkataan istrinya itu. "Apa kita gak tinggal bareng Bia aja? Kalau gitu kan, kita bisa mengontrol dia."


Shaka menggeleng. "Aku gak mau buat dia gak nyaman, Sayang. Kalau Bia tertekan juga. Bukankah akan berpengaruh pada anak kita?"


Dhira mengangguk setuju. "Kamu bener juga sih, Mas!"


Shaka mengusap kepala istrinya. Dia paham apa yang dikhawatirkan istrinya itu. Namun, percayalah Shaka juga tak mau membuat istri sirinya itu tak nyaman dengan keberadaannya.


Permintaan Bia yang meminta tinggal sendiri saja membuat Shaka sadar. Permintaan Bia untuk tinggal di rumahnya sendiri membuat Shaka bisa tahu jika istrinya itu tak nyaman bersama dirinya dan Dhira.

__ADS_1


"Lebih baik kita support dia dan dukung keputusan Bia agar dia bahagia juga, Sayang. Kalau Bia bahagia, itu tandanya calon anak kita juga pasti bahagia."


...****************...


"Mbak Bia beneran mau ke rumah sakit?" Tanya Bibi Mar sekali lagi pada perempuan yang sudah dia anggap anaknya sendiri.


Entah kenapa kebaikan Bia, ketulusan hatinya dan kelembutan wanita itu membuat Bibi Mar yang beberapa hari kenal dengannya langsung sesayang itu pada Bia.


Sikap Bia yang tak semena-mena. Sikap Bia yang benar-benar menganggapnya seperti neneknya sendiri bukan pelayan membuat Bibi Mar merasa begitu disayangi oleh wanita yang tengah hamil anak majikannya itu.


"Iya, Bi. Beneran. Masa cuti Bia habis dan Bia harus kembali bekerja," Kata Bia sambil merapikan kemeja yang dia pakai.


Saat ini perempuan itu memakai kemeja dengan rok lebar yang membuat penampilan dirinya tak terlihat jika ia tengah hamil. Ditambah perutnya ya belum sebesar itu dan membuat Bia bisa menutupinya untuk beberapa bulan ke depan.


"Apa Tuan Shaka sudah tahu?"


Bia menggeleng. "Jangan beritahu Mas Shaka, Bi. Bia gak mau nanti ada salah paham antara Bia dan Mbak Dhira."


"Tapi, Non… "


"Nanti Bia yang akan kirim pesan ke Mbak Dhira sendiri kok. Ya, Bi. Bia mohon jangan kabarin Mas Shaka!" Bujuk Bia dengan merengek memegang tangan Bibi Mar dan memasang ekspresi lucu bak anak kecil yang ingin dituruti keinginannya.


"Bibi Mar yang terbaik," Ujar Bia memeluk Bibi Mar dengan sayang.


"Eh, Non. Baju Non Bia nanti kotor!" Kata Bibi Mar yang terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bia padanya.


"Nggak bakal. Bibi bersih kok!" Ujar Bia lalu perlahan melepas pelukannya.


Bia meraih tangan perempuan yang tak muda lagi itu lalu menciumnya. Ajaran orang tuanya benar-benar berhasil mendidik dirinya.


Bia selalu bisa menghormati dan menghargai orang yang lebih tua tanpa memandang status sosial, siapa mereka untuknya.


"Bia berangkat dulu yah, Bi. Bia titip rumah," Goda Bia yang membuat Bibi Mar tertawa kecil.


"Siap, Non!"


Akhirnya Bia mulai keluar dari rumahnya. Dia menenteng tas kerja lalu masuk ke dalam mobil yang selama beberapa bulan terakhir ini diam di dalam garasi. Wanita itu tersenyum masuk ke dalam kendaraan yang dia dapatkan ketika lulus kuliah dari orang tuanya.

__ADS_1


Bia mulai menyalakan mesinnya dan dengan mudah mobil itu mulai menyala. Bia benar-benar bisa menikmati hari pertamanya bekerja. Dia mulai melakukan mobil itu menuju rumah sakit yang jaraknya dekat dengan rumahnya. Namun, karena kondisi dirinya hamil, akhirnya mau tak mau dirinya naik mobil untuk menjadi menuju kesana.


"Selamat siang, Dokter Bia," Sapa seorang perawat saat Bia baru saja menutup pintu mobil.


Wanita itu tersenyum.


"Selamat siang," Sahut Bia lalu keduanya mulai berjalan bersama memasuki rumah sakit.


"Kata dokter dan teman-teman yang lain. Dokter Bia kemarin ambil cuti ya?"


Bia mengangguk. "Iya. Aku rindu dengan keluargaku dan akhirnya mengambil cuti untuk kembali ke negaraku."


"Banyak pasien yang merindukan Dokter Bia. Katanya Dokter Bia sangat ramah dan lembut. Jadi banyak orang yang mungkin…" Jeda perawat itu yang membuat Bia mengusap punggungnya.


"Aku tau," Kata Bia dengan pelan. "Mereka yang berjuang dengan penyakitnya dan berharap di meja operasi bisa selamat adalah sebuah harapan bukan. Aku hanya bisa melakukan yang terbaik. Aku bukan Tuhan yang pasti bisa menyelamatkan mereka tapi aku tetap berusaha agar mereka bisa membuka matanya lagi."


Perawat itu tersenyum. Dia semakin kagum pada Bia yang membuat kepalanya mengangguk.


"Aku pamit dulu yah. Aku harus keruanganku dulu," Kata Bia dengan sopan dan mulai saling berpisah dengan perawat yang sangat ia kenal sebagai perawat yang membantu teman dokternya.


Akhirnya Bia mulai berjalan menuju lantai dimana ruangannya berada. Sepanjang jalan banyak perawat dan teman dokter yang menyapanya. Kebaikan hati Bia, ketulusan dan kelembutan dirinya membuat dia disayangi banyak orang.


Bukan hanya keluarga melainkan teman kerja dan pasien yang ia tangani banyak yang sangat dan suka padanya. Sampai akhirnya saat Bia baru saja belok ke kanan dan hendak menuju ke lorong ruangannya.


Langkah kaki Bia melemah. Dia menatap seseorang yang familiar di matanya. Sosok itu terlihat tegang saat berbicara dengan dokter di hadapannya.


Namun, bukan itu masalah sebenarnya. Melainkan tangannya juga bergetar. Jantungnya ikut berdegup kencang saat dia mulai melihat wajah sosok itu dari samping.


Sosok yang seumur hidupnya sangat dia tahu dan tak akan pernah dia lupakan. Langkah kakinya tanpa sadar mundur dan membuat Bia tak tahu ada perawat yang mendorong brankar dan membuatnya hampir tertabrak.


"Maaf… Maaf."


Insiden itu membuat dokter dan sosok itu beralih. Hal itu membuat tatapan mata itu akhirnya bertemu. Tatapan yang membuat Bia ingat masa kelamnya. Masa hancurnya itu.


"Bia," Kata sosok itu yang membuat Bia semakin takut.


~Bersambung

__ADS_1


Akhh mulai muncul satu satu kan. Mau update lagi gak?


__ADS_2