Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Dia Telah Pergi!


__ADS_3

Tak selamanya akhir yang bahagia akan bersama. Terkadang akhirnya yang bahagia adalah ketika keadaan di antara keduanya berdamai dengan masalah yang terjadi dan memilih hidup dengan jalan masing-masing adalah ending yang begitu membahagiakan untuk semua pihak.


~Bia Quinsa Altafunisha


***


"Bia berangkat ya, Bi. Jaga rumah ini untuk Bia dan anak Bia," Ucap Bia sambil mencium punggung tangan Bibi Mar saat mereka sudah berada di teras rumah.


Ya hari ini Bia akan meninggalkan Indonesia. Hari ini dia akan pergi dari semua kehidupan yang membuatnya paham bahwa cinta tak selamanya harus dimiliki.


Bahwa cinta tak selamanya berakhir bersama. Terkadang cinta juga harus mendapatkan keadilan sendiri dan berakhir dengan mengikhlaskan apa yang bukan menjadi miliknya.


"Iya, Non. Bibi akan menjaga rumah ini," Kata Bibi Mar dengan mengangguk. "Non juga jaga kesehatan yah. Dimanapun Non berada, Bibi hanya berdoa semoga Non sehat dan melahirkan dengan selamat."


Bia mengangguk. Dia meneteskan air mata mendengar doa tulus dari seseorang yang selama ini merawatnya. Bia memeluk Bibi Mar dengan pelan. Memeluknya dengan hangat karena dirinya benar-benar merasa berat untuk pergi dan meninggalkannya.


"Terima kasih banyak, Bi," Kata Bia sambil meneteskan air mata. "Bia titip Mas Shaka ya. Jangan sampai dia telat makan dan istirahat."


Bia berbisik ktu di telinga Bibi Mar. Bagaimanapun Bia sangat tahu bagaimana pria yang ia cintai itu jika sudah gila kerja.


Bibi Mar mengangguk sambil menghapus air matanya setelah pelukan itu terlepas. Bia lekas masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya ke arah Bibi Mar.

__ADS_1


"Aku pergi dulu ya, Bi. Assalamu'alaikum," Ucap Bia sebelum akhirnya jendela mobil di tutup dan kendaraan itu perlahan pergi meninggalkan rumah Bia.


***


Jika Bia tengah berkendara menuju bandara. Tidak dengan Shaka. Pria itu benar-benar mengemudi dengan cepat. Berulang kali dia mengumpat karena jalanan benar-benar padat merayap.


Bahkan pria itu sampai membunyikan klakson berulang kali agar segera sampai ke rumah Bia. Ya, pria itu akan kesana. Dia yakin untuk memenuhi mantan istrinya itu.


Ahhh mantan istri?


Mantan istri yang ditalak dengan gegabah. Mantan istri yang ditinggalkan tanpa berpikir panjang.


Dirinya benar-benar gila. Dirinya benar-benar melakukan semuanya tanpa pikir panjang. Dan sekarang, dirinya hanya bisa meneteskan air mata. Menyesal dan menyesali semuanya.


Akhirnya setelah hampir satu jam lebih dia melawan kemacetan. Kini Shaka telah berhasil sampai di depan rumah Bia. Rumah yang terlihat sepi, sunyi dan tak berpenghuni.


Rumah yang benar-benar tak terlihat adanya kehidupan. Tentu saja hal itu membuat Shaka lekas turun dari mobilnya. Berlari menuju pintu yang tertutup dan tak beberapa lama, pintu tersebut terbuka dengan sendirinya.


"Bibi!"


"Tuan!" Sapa Bibi Mar dengan wajah yang masih mengandung kesedihan.

__ADS_1


"Bia kemana, Bi? Bia kemana?" Tanya Shaka kelimpungan.


Dia masuk ke dalam rumah dan mencari sosok yang dia cari. Dia keluar masuk ke kamar Bia tapi tak ada siapapun.


Hal itu tentu membuatnya frustasi. Hal itu tentu membuat Shaka benar-benar gila.


"Bia katakan padaku. Kemana Bia, Bi? Bia kemana?" Kata Shaka dengan wajah benar-benar frustasi.


Pria itu menatap Bibi Mar dengan memohon. Bibi Mar benar-benar tak tahu harus apa. Dia sendiri saja tak tahu kemana Bia pergi.


"Bi. Kumohon! Kemana Bia?"


"Non Bia sudah pergi, Tuan. Non Bia sudah pergi!" Lirih Bibi Mar yang seperti petir menyambar menghantam jantung Shaka yang membuat pria itu mematung tak percaya.


"Nggak, nggak mungkin kan, Bi?" Tanya Shaka sambil menggoyangkan lengan Bibi Mar.


"Bi, katakan itu nggak kan?"


Bibi Mar menggeleng. Dia benar-benar bisa melihat bagaimana tuannya ini hancur.


"Non Bia benar-benar pergi, Nak," Lirih Bibi Mar sambil menghapus air mata pria yang dia asuh sejak kecil itu. "Non Bia pamit pada Bibi. Bahwa dia akan pergi dan meninggalkan negara ini."

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2