Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Sarapan Buatan Shaka


__ADS_3

...Ternyata mendapatkan cinta dan perhatian yang besar dari sosok yang kita cintai adalah hal terindah dalam hidup....


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Bia baru saja keluar dari dalam kamarnya dengan memakai daster pendek yang dia beli ketika berada disini. Saat Bia baru saja menjejakkan kakinya menuju arah dapur. Aroma khas nasi goreng tercium di hidungnya. Makanan favoritnya ketika lapar dan buatan ibunya masih menjadi nomor satu untuknya.


Bia menatap ke arah dapur. Seorang pria tampan dengan celana pendek selutut dan kaos yang membentuk tubuhnya sedang mondar mandir disana. Shaka, tak menyadari jika ada sosok yang menatapnya tanpa berkedip.


Bia bahkan sampai diam menyandarkan punggungnya di dinding. Matanya fokus menatap ke arah Shaka yang tak menyadari kehadirannya.


Pria itu terlalu fokus dengan pekerjaannya dan membuat Bia begitu lama memperhatikan gerakan suami sirinya. Suami tampan yang beberapa minggu ini bersamanya.


Suami yang sebentar lagi harus dia relakan. Rela dengan segala kenyataan yang akan terjadi setelah ini. Rela dengan segala hal yang akan terjadi pada mereka.


Bunyi perutnya dengan gerakan itu membuat Bia mulai menegakkan tubuhnya. Ya dia mulai tak bisa menahan rasa laparnya.. Apalagi aroma nasi goreng yang sangat amat dia kenal tanpa melihat.


Langkah kaki Bia perlahan mendekat. Dia berdiri di belakang Shaka yang sedang mengaduk nasi itu di atas penggorengan.


"Baunya sangat enak," Kata Bia yang membuat Shaka menoleh.


"Sudah mandi?" Tanya Shaka dengan lembut.


Bia mengangguk. Dia berdiri di samping Shaka dan melihat bagaimana lihainya tangan pria itu bergerak ke sama ke mari. Tangan yang sangat amat dengan mudah dan terlihat begitu alih itu membuat Bia sadar. Sadar jika Shaka sudah biasa dengan dapur dan alat-alatnya.


"Sudah, Mas."


"Kamu pasti makin lapar kan?" Tanya Shaka pada Bia.


Bia tak berbohong. Kepala ibu hamil itu mengangguk. Menyetujui ucapan suaminya yang mengatakan bahwa dia sangat amat lapar.


"Tunggulah di meja makan. Nasi goreng ini sudah jadi," Kata Shaka pada Bia.


"Boleh aku mencicipinya?" Tanya Bia dengan pelan.


"Gak boleh!"


"Dikit aja, Mas. Pelit banget sih!" Seru Bia dengan kesal.


"Tunggu di meja makan. Ini udah selesai!" Ujar Shaka dengan suara yang sedikit diturunkan.


"Gak mau. Aku mau nyicip!" Kata Bia tak mau kalah.


"Bi!"


"Mas!" Seru Shaka dengan mata melotot. "Aku cuma ingin nyicip doang, Mas. Aku pengen!"


Bia merengek. Mata ibu hamil itu berkaca-kaca. Ah entah kenapa hal itu membuat perasaan Shaka campur aduk. Entah kenapa dia merasa kasihan dn luluh.

__ADS_1


Akhirnya pria tampan itu meraih sendok bersih. Lalu dia mengambil sesendok nasi goreng yang masih panas itu dan mendekatkan di bibirnya.


"Masih panas. Aku tiup dikit yah?" Kata Shaka dengan lembut.


Bia mengangguk. Dia benar-benar berubah menjdi wanita manja sekarang. Entah kenapa Bia berpikir Shaka tak akan menolak keinginannya.


"Ak!" Kata Shaka meminta Bia membuka mulutnya.


Bia seger menurut. Dia menerima suapan pertama dari tangan Shaka. Dia menerima suapan itu dengan perasaan yang semakin membuncah. Perasaan Bia semakin besar bahkan saat mulutnya mulai mengunyah.


Mengunyah nasi goreng buatan Shaka sendiri. Rasa dan aromanya benar-benar sama. Benar-benar tak berbeda.


Harum, nikmat dan juga sangat amat luar biasa.


"Ini enak sekali," Kata Bia dengan mata terpejam. "Sangat amat enak."


Entah kenapa pujian itu membuat Shaka tersenyum. Ada perasaan bahagia saat masakannya dipuji oleh orang lain. Padahal jika dia ingat, sudah lama sekali dirinya tak masak. Semenjak dia menikah, semenjK dia tinggal dengan Dhira. Shaka tak pernah berkutat di dapur karena pekerjaannya.


"Sekarang duduklah disana. Aku akan segera datang!"


Bia mengangguk. Dia benar-benar menurut seperti anak ayam yang selalu mengikuti induk ayam. Ibu hamil itu duduk senang tenang. Dia menatap hamparan pantai yang terlihat dari duduknya.


Bia benar-benar berada dalam perasaan yang sangat amat baik. Dia merasa senang dan membuatnya yakin jika anak dalam kandungnya juga pasti bahagia.


"Ini untuk Nona Bia," Ujar Shaka sambil menyerahkan sepiring nasi goreng dengan telur di atasnya.


Bia merasa air liurnya ingin menetes. Dia merasa sangat amat tergiur dengan arom makanan di depannya.


"Berdoa dulu!"


Bia menyengir kuda. Dia hampir lupa karena terlalu lapar. Bia segera mengatupkan kedua tangannya di depan dan memanjatkan doa.


"Aamiin."


"Selamat makan ibu hamil. Makan yang banyak dan habiskan!" Kata Shaka pada Bia.


Perempuan itu mengangguk. Dia lekas mulai menggerakkan sendoknya. Sampai akhirnya saat Bia hendak menyuapi dirinya sendiri. Tiba-tiba perutnya terasa ingin mual dan…


"Huek?" Bia menutup mulutnya.


Dia mencoba menelan ludahnya.


"Kamu kenapa, Bi?" Tanya Shaka khawatir.


"Gak tau, Mas. Aku merasa tiba-tiba ingin mual," Ujar Bia dengan tetap menutup mulutnya.


Shaka menatap nasi goreng di piring Bia. Dia menatap piring dan Bia bergantian.


"Apa masakanku gak enak?"

__ADS_1


Kepala Bia spontan menggeleng. Ah dia tak bermaksud seperti ini. Namun, entah kenapa dia merasa ingin mual saat makan.


"Enak kok, Mas. Enak banget malah!" Kata Bia dengan cepat.


"Terus sekarang kenapa kamu mual-mual. Aku yakin pasti gak enak kan?"


Ah kenapa jadi seperti ini. Bia lekas menelan ludahnya sendiri. Lalu segera membuka tangannya.


"Masakan kamu enak, Mas. Hanya saja, perutku tiba-tiba gak enak dan ingin mual!" Kata Bia menjelaskan.


"Beneran? Bukan karena gak enak?" Tanya Shaka memastikan.


"Iya, Mas. Beneran. Gak tau aneh banget, tadi disuapin kamu, aku baik-baik saja kan?"


Shaka mengangguk. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya memutar. Seakan dia terasa lebih konek dan peka.


"Apa kamu ingin aku suapin?"


Jantung Bia berdebar kencang. Namun, dia menatap kedua bola mata Shaka dengan lekat dan itu sangat amat serius.


"Mas… "


"Mau nggak?"


"Mau!" Jawab Bia dengan cepat.


Akhirnya Shaka pindah. Dia duduk di samping kursi yang di duduki Bia. Pria itu meraih piring Bia dan segera memegangnya dengan tangan.


"Buka mulut!" Kata Shaka yang mulai menyodorkan sendok berisi nasi goreng itu pada Bia.


Ibu hamil itu menerima suapan pertama dan berhasil. Ya, Bia bisa memakan makanan itu dengan tangan Shaka yang menyuapinya. Seakan rasa mual yang tadi dia rasakan segera tertepis dengan hanya tangan Shaka.


"Pelan-pelan aja, Bi. Aku gak bakal ambil!"


"Aku gak mau nasi kamu dingin, Mas. Aku yakin kamu makan, nasi gorengnya udah dingin," Kata Bia menyesal.


"Jangan pikirkan apapun. Aku akan makan setelah kamu makan."


Bia merasa terharu. Perempuan itu merasa sangat amat diperhatikan. Setelah semua makanan itu habis. Bia membawa piring itu ke dapur dengan Shaka membuntuti dirinya.


"Aku kabarin Dhira boleh gak, Bi?"


"Soal?"


"Kehamilan kamu," Jawab Shaka yang membuat gerakan tangan Bia berhenti sejenak sebelum kembali bergerak.


"Boleh."


"Yaudah. Aku ke ruang tamu dulu yah. Aku akan hubungi Dhira"

__ADS_1


~Bersambung


Yey update lagi. Hal manis dulu yakan sebelum kembali ke tanah air.


__ADS_2