
Cinta memang tak ada yang tahu seberapa sakit dan indah yang akan mereka jalani. Namun, sebuah cinta memang akan ada masa dimana diuji untuk memberikan bukti seberapa besar cinta di antara mereka.
~Bia Quinsa Altafunisha
***
"Jangan merasa menyesal. Penyesalan itu sudah tak ada arti untuk sekarang. Yang terpenting, kamu sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi," Kata Bia yang membuat Semi semakin menjatuhkan hatinya untuk Bia.
Ya, mungkin bisa disebut karma. Setelah kejadian dulu, Semi terus terbayang akan wajah cantik Bia. Penyesalan itu terus menghantuinya yang membuatnya bisa di titik ini.
Mencari Bia kemanapun, ingin memohon ampunan dan juga memulai semuanya dari awal adalah niatan dirinya. Namun, mengetahui kenyataan semalam. Jika wanita yang ia cintai sudah menikah bahkan sedang hamil. Membuat Semi hampir menyerah. Namun, mengetahui semuanya dari Shaka.
Membuat Semi sedikit berharap. Berharap jika hubungan Bia dan Shaka hanya mutualisme. Hanya untuk seorang anak.
"Jangan terlalu dipikirkan. Aku sudah baik-baik saja untuk mengingat kejadian itu," Sambung Bia yang membuat Semi mengangguk.
"Oh iya. Mas Shaka kemana?" Tanya Bia lagi yang sejak tadi penasaran.
"Pulang!" Jawab Semi dengan pelan.
"Pulang?" Ulang Bia yang tak percaya.
"Iya. Dia mendapatkan panggilan setelah itu dia menitipkanmu padaku disini," Kata Semi menjelaskan yang membuat sesuatu diujung hati Bia kembali sakit.
__ADS_1
Dia mengalihkan pandangannya. Ahh memang rasa sensitif pada ibu hamil ini sangat amat menyiksa batin Bia sendiri.
"Jangan terlalu dipikirkan, Bi. Dokter memintamu untuk istirahat dan jangan mudah stress. Kamu gak kasihan sama anak kamu yang sejak kemarin berjuang untuk bertahan?"
"Aku… "
"Setidaknya kalau kamu khawatir, pikirkan anakmu, Bi. Jangan pikirkan orang lain!"
Deg.
Bia merasa tertampar akan perkataan Semi. Apa yang pria itu katakan memang benar. Selama ini dirinya egois dan membuat anaknya selalu menderita.
Hal itu membuat tangan Bia terangkat. Dia mengusap perutnya dengan pelan yang membuat Semi berpaling.
Sampai akhirnya perhatian keduanya teralih dengan suara pintu yang terbuka dan muncullah sepasang suami istri dari sana.
Dhira yang hampir sampai di ranjang Bia tentu berhenti sejenak. Dia terkejut saat ada seseorang yang duduk di samping ranjang adik madunya.
"Semi?"
"Dhira," Kata Semi yang beranjak berdiri dan bersalaman dengan Bia.
"Apa kabar?"
__ADS_1
"Baik," Sahut Semi dengan pelan.
Dhira menatap Bia dan Semi bergantian. Seakan dia menanyakan sesuatu dalam keterdiamannya.
"Aku diminta Shaka menjaga Bia tadi."
"Ohhh," Sahut Dhira mengangguk. "Tapi sepertinya kalian sudah lama kenal. Betul bukan?"
Bia menelan ludahnya sendiri dengan susah. Apa yang akan ia katakan.
"Betul."
"Waw!" Dhira mengangguk dengan menatap Bia seakan penuh penghakiman. "Apa ada hubungan spesial di antara kalian di masa lalu?"
"Dhira!" Cegah Shaka pada istrinya.
"Kenapa sih, Mas. Aku cuma ingin tahu," Kata Dhira dengan manja. "Yakan mustahil aja gak sih. Semi yang termasuk pria sibuk, mau menjaga Bia. Kalau bukan tak ada hubungan lama, aku yakin dia gak akan mau, kan?"
Dhira terlihat menaikkan alisnya ke arah Bia. Namun, ujung bibirnya tersenyum miring. Tatapan mata itu seakan mengejek dan membuat Bia hanya mampu mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu memang benar. Aku adalah pria sibuk. Tapi, aku juga tak sejahat itu untuk tak mau menerima permintaan sahabatku, Shaka. Untuk menjaga istrinya yang lain," Jawab Semi dengan menekankan kata istri di akhir kalimatnya.
"Waww. Sangat baik sekali."
__ADS_1
"Tentu. Jika kamu diposisi Bia pun. Aku juga akan melakukan hal yang sama, Dhira. Menjagamu dengan baik di rumah sakit!"
~Bersambung