Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Rahasia Semakin Terbuka Lebar


__ADS_3

...Firasat seorang ibu selalu benar tapi dia selalu mampu memahami anaknya meski menyadari akan sesuatu dalam diri anaknya itu. ...


...~JBlack...


...****************...


"Tenanglah. Kalau kamu setegang ini. Maka Ayah dan Ibu akan curiga Bi," Kata Abraham sambil mengusap kepala adiknya.


Saat ini mereka tengah berada di bandara. Mereka menunggu kehadiran orang tua dan keluarga kembali ke Indonesia. Perjalanan kali ini tentu membuat Bia menjadi takut. Takut jika apa yang saat ini disembunyikan akan diketahui oleh ibunya.


Bia tak mau semuanya tahu. Bia tak mau apa yang menjadi rahasia dia di masa lalu. Apa yang menjadi masalahnya di masa lalu dan sekarang diketahui oleh orang tuanya.


Bia menyayangi Almeera dan Bara. Dia tak mau membuat ayah dan ibunya kepikiran dirinya. Memikirkan nasibnya dan nasib masa depannya.


Bia hanya ingin orang tuanya bangga padanya. Bangga dengan apa yang dia lakukan dan apa yang terjadi padanya sekarang.


Bukan merasa malu dengan apa yang terjadi di masa lalu dan apa yang dia lakukan sekarang.


"Itu mereka. Ayo berikan senyumanmu, Bi!" Kata Abraham yang membuat Bia menunduk perlahan mendongakkan kepalanya.


Disana, di depan mata. Bia melihat ayah, ibu, kedua adiknya dan juga kakek neneknya berjalan ke arah mereka. Dengan adik kembarnya, Athalla yang mendorong kursi roda neneknya.


Ya, ibu dari ibunya memang sudah tak bisa berjalan dengan normal. Usianya yang semakin menua membuatnya harus duduk dengan nyaman di atas kursi roda.


"Assalamu'alaikum, Ibu," Sapa Abraham dengan hangat lalu memeluk ibunya.


Bia masih tak tahu apa yang harus dia lakukan. Entah kenapa disaat seperti ini. Bukannya dia bahagia ketika melihat wajah ayah dan ibunya. Tetapi bayangan kesalahannya, bayangan pemerkosaan, bayangan dirinya menikah secara sembunyi dan hamil kita memutar di kepalanya.


Seakan semua kesalahan itu kini terlihat di kedua matanya dan dibayangkan bagaimana jika kedua orang tuanya tau. Bagaimana jika ayah ibunya tahu apa yang terjadi padanya sekarang.


"Apa kamu tak merindukan Ayah?" Ucap suara seorang pria yang sangat Bia kenali.


Bia mengalihkan tatapannya. Menatap kedua bola mata pria yang mendidiknya, merawatnya, membuatnya ada di dunia. Mata yang selalu membuatnya tersenyum bahagia, mata yang selalu membuatnya memiliki ayah yang beruntung.


"Apa kamu tak mau memeluk Ayah?"


Air mata Bia semakin mengalir. Tanpa ragu dia akhirnya berlari dan memeluk Bara dengan erat. Tangisan ibu hamil itu tentu tak mampu terbendung lagi. Bia menangis di pelukan Bara yang membuat pria itu mengusap punggung putrinya.


"Aku rindu, Ayah," Lirih Bia dengan perasaan bersalah yang mendalam.


Bara mengangguk sambil memeluk putrinya. Dia mengusap kepala anaknya yang dibalut jilbab itu dengan lembut.


"Kenapa putri ayah se cengeng ini sekarang?" Tanya Bara yang merasakan janggal.

__ADS_1


Bia menarik nafasnya begitu dalam. Dia mencoba menahan air mata yang terus mengalir. Tak lama dirinya melepaskan pelukannya dan tersenyum begitu lebar.


"Aku menangis karena tak percaya ayah dan ibu ada disini," Kata Bia seakan tak terjadi apapun dalam dirinya. "Aku menangis karena bahagia melihat kita kembali berkumpul."


Almeera tersenyum. Bergantian dia memeluk putrinya dengan penuh kerinduan.


"Ibu dan ayah akan terus berada disini karena si kembar sudah menyelesaikan pendidikan mereka," Kata Almeera yang seakan perkataan dirinya seperti petir mencetar yang membuat Bia mematung tak percaya.


"Ibu dan Ayah serta kami akan tinggal disini lagi. Kakek dan Nenek meminta kita saling berdekatan karena tak mau anak-anaknya saling berjauhan," Kata Almeera dengan suara serak yang membuat semua orang tahu jika wanita itu pun pasti terharu dengan permintaan Kakek Harrison.


Bia mengerjapkan matanya beberapa kali. Seakan dirinya sedang mencerna perkataan yang membuatnya benar-benar tak percaya. Perkataan yang dia pikirkan itu hanyalah belaka ternyata benar-benar dia dengarkan dan kenyataan.


"Jadi Ibu dan Ayah akan tinggal disini seterusnya?" Tanya Bia saat pelukannya dengan Almeera terlepas.


Ibu dari empat orang anak itu mengangguk. Dia menangkup kedua sisi wajah Bia dengan perasaan sayang.


"Kenapa? Kamu gak suka Ayah dan Ibu kembali?"


"Apa!" Pekik Bia dengan spontan. "Siapa yang bilang begitu?"


"Bia suka ibu dan ayah disini. Bia suka kita tinggal bersama lagi. Bisa suka bersama ibu dan ayah," Kata Bia dengan tersenyum begitu lebar.


Semua yang Bia katakan memang benar. Dia bahagia orang tuanya satu negara dengannya. Bia bahagia sudah bisa berkumpul dengan keluarganya lagi.


Namun, yang membuatnya sedih bukan perihal itu. Melainkan kenapa harus bersama ketika dirinya merahasiakan ini. Kenapa semuanya terjadi ketika dirinya berada di titik yang sekarang.


"Ayo!"


Saat Bia hendak mendorong kereta dorong berisi koper keluarganya. Abraham lekas mendekat dan mengambil alih.


"Ingat, Bi!"


Bia menatap kedua bola mata kakaknya. Dia merasa benar-benar bahagia memiliki seorang kakak seperti Abraham. Sosok yang sangat tahu dirinya dan shalat menjaga dirinya dengan baik.


"Jangan mengangkat barang berat apapun atau… "


"Atau apa…" Sela suara perempuan yang membuat jantung keduanya berdegup kencang.


Almeera datang dan mendekati keduanya. Menatap kedua putra putrinya yang terlihat tegang.


"Kenapa Bia tak boleh mengangkat barang berat?"


Bia menelan ludahnya paksa. Dia benar-benar merasa takut jika ibunya mulai menaruh curiga.

__ADS_1


"Karena Bia hendak ke rumah sakit sebentar lagi, Bu. Dia memiliki jadwal operasi," Kata Abraham dengan pelan. "Jika Bia mengangkat barang berat, lalu dia kecapekan. Aku takut konsentrasi dia akan terganggu nanti."


Almeera terlihat menatap putrinya. Dia menatap dengan lekat lalu tanpa diduga mengusap kepalanya.


"Jangan terlalu lelah. Oke? Bekerjalah dengan pelan dan jangan terburu-buru, Nak. Rejeki sudah ada yang mengatur," Kata Almeera dengan bijak yang semakin membuat hati Bia mencelos telah membohongi orang tuanya sejauh ini.


"Iya, Bu," Jawab Bia dengan menahan tangisannya.


"Ayo jalan bersama Ibu? Biarkan kakakmu yang membawanya!"


...****************...


"Arthir!" Pekik Dhira saat dia baru saja masuk ke dalam sebuah apartemen yang membuat sosok pria yang ada di dalam ruangan terkejut.


"Ada apa, Dhira? Kenapa kau harus berteriak?" Tanya Arthir dengan lembut lalu mendekat ke arah perempuannya itu.


Dia menarik pinggang Dhira lalu mencium dahinya. "Apa yang membuatmu marah?"


"Ibumu itu!" Seru Dhira dengan melepaskan pelukan Arthir lalu berjalan dengan menyugar rambutnya ke belakang menuju dapur. "Dia benar-benar membuatku kesal. Dia seakan tahu apa yang aku lakukan di belakang anaknya!"


"Ibu?" Ulang Arthir dengan mengikuti langkah Dhira. "Maksudmu Mama Vio?"


"Mau Mama siapa lagi, Hah? Mama yang membenciku, sangat membenciku selain mamamu, siapa lagi?"


"Aku benar-benar tak percaya punya mertua sepertinya. Bagaimana papamu dulu mencintai wanita seperti itu?" Tanya Dhira dengan menggelengkan kepalanya.


"Mama Vio baik padaku," Kata Arthir dengan menyesal batang rokok yang sejak tadi dia letakkan di atas meja karena kedatangan Dhira yang terlihat marah.


"Baik?" Ulang Dhira mengejek. "Dia saja pilih kasih antara kamu dan Shaka."


"Bukan begitu… "


"Iya begitu, Sayang. Dia yang membuat papamu jatuh cinta lagi. Melupakan almarhum ibumu. Dia yang membuat cinta papamu terbagi lagi."


"Dhir!"


"Aku tak mau dia menjadi pengacau. Kita harus menangani wanita tua itu jika dia tahu rahasia kita. Kau mengerti, Arthir?" Seru Dhira yang membuat ekspresi Arthir terlihat tertekan.


"Sayang. Kau mengerti?"


"Ya aku mengerti."


~Bersambung

__ADS_1


Siapa yang tebakannya benar hmm? aduhh aduhh... ditambah mbak meera udah tinggal di Indonesia selamanya.


BTW guys. setting waktu cerita Bia dan Bang Abra beda yah. Di Bang Abra, Bia umur 18, disini Bia umur 25. Jadi plis bedain rentang waktunya yah.


__ADS_2