
...Percayalah apa yang kita dapatkan sekarang, itu sudah cukup untuk disimpan dalam ingatan sebelum kita berpisah selamanya. ...
...~Bia Quinsa Altafunisha...
...****************...
Entah sudah berapa jam dirinya tertidur. Entah sudah berapa lama dirinya tertidur. Akhirnya tubuh yang berotot seksi dan masih sangat polos itu mulai menggeliat di atas ranjang. Dirinya mulai bergerak dengan tangan menepuk sampingnya.
Kosong.
Tak ada siapapun. Sampai membuat mata Shaka perlahan terbuka. Dia langsung terduduk dengan mata mengedar.
"Bi. Bia!" Panggil Shaka dengan ketakutan.
Ah dia takut Bia pergi. Dia takut karena dirinya kasar dan membuat wanita itu meninggalkannya. Sampai akhirnya, saat Shaka mulai beranjak dari ranjang.
Tatapannya langsung tertuju ke arah kotak yang ada di sampingnya. Kotak terbuka dan terlihat benda yang sangat dia hafal. Benda yang sangat dia nanti kehadirannya.
Shaka mengulurkan tangannya. Dia bisa merasakan tangannya gemetaran dan berkeringat dingin saat menyentuh benda itu di tangannya.
"Garis dua," Ucap Shaka dengan mata berbinar cerah. "Bia hamil?"
Dia tak percaya. Shaka mengambil lima buah respek dengan merk berbeda di dalam kotak itu. Dia melihat tespek-tespek itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku akan menjadi seorang ayah. Aku akan menjadi seorang ayah," Kata Shaka berulang kali.
Air mata itu bersamaan menetes. Shaka menghapusnya dan segera turun dari ranjang dengan respek yang ia bawa tangannya.
Dirinya lekas keluar dari kamar. Kepalanya menatap sekeliling mencoba mencari dimana keberadaan istrinya itu sekarang.
"Bi! Bia!" Teriak Shaka dengan tak sabaran.
Dia berjalan ke arah dapur. Kosong tak ada siapapun. Dirinya juga membuka kamar yang lain dan kosong juga.
Matanya mengedar. Sampai akhirnya dia melihat pintu penghubung antara villa dengan pantai terbuka. Langkah kaki Shaka melangkah kesana. Dia berjalan dengan tak sabaran sampai akhirnya tatapan matanya langsung tertuju pada sosok perempuan yang sedang berjalan-jalan di tepi pantai.
Perempuan yang sangat dia kenal dari siluet tubuhnya. Perempuan dengan gamis melambai-lambai tertiup angin dan kepala terbalut hijab itu terlihat berjalan-jalan ringan.
Perasaan Shaka semakin membesar saat tangan Bia terlihat mengusap perutnya berulang kali dengan kaki melompat kecil menandakan bahwa perempuan itu juga dalam perasaan bahagia.
"Anakku?" Lirih Shaka dengan tanpa sadar mulai berjalan menapaki pasir pantai dan menuju ke arah istrinya.
Jantungnya berdegup kencang. Ya Shaka benar-benar merasa terharu sekaligus bahagia. Dia sangat tak percaya dan menyangka jika apa yang dia inginkan, apa yang diharapkan hadir secepat ini di perut Bia.
__ADS_1
"Bi!" Teriak Shaka yang membuat Bia menoleh.
Perempuan itu melebarkan senyumannya. Senyuman teduh yang selalu menenangkan hatinya.
"Sudah melihatnya?" Tanya Bia dengan pelan dan tangannya yang mengusap perutnya.
Shaka mengangguk. Dia lekas berlari ke arah Bia dengan cepat lalu mengangkat tubuh gadis itu dan memutarnya.
"Akhhh!" Teriak Shaka dengan kencang.
Bia terkejut. Tangannya memegang pundak suaminya dengan erat karena takut jatuh.
"Akhirnya aku akan menjadi jadi ayah, Bi. Aku akan dipanggil ayah!" Teriak Shaka dengan perlahan menghentikan gerakannya memutar.
Dia menurunkan tubuh Bia dengan nafas tak beraturan.
"Kamu ya, Mas. Kalau aku jatuh gimana?" Kata Bia dengan kesal.
Shaka menggeleng. Dia menangkup kedua sisi wajah Bia dan memandang matanya.
"Kapan kamu mengetesnya?"
"Tadi pagi," Jawab Bia dengan kesal dan kepala dialihkan ke samping.
Shaka menarik dagu Bia hingga tatapan keduanya kembali bertemu.
"Aku… "
"Ustt!" Kata Bia menutup bibir Shak dengan jari telunjuknya.
Dia bisa melihat tatapan itu sendiri. Dia bisa melihat perasaan bahagia di kedua mata Shaka. Dia bisa melihat tatapan penuh rasa hari dengan air mata itu di kedua bola mata Shaka.
"Aku ikut bahagia, Mas. Aku ikut bahagia. Selamat yah," Kata Bia dengan menghapus air mata Shaka yang mengalir. "Selamat kamu akan menjadi seorang ayah sebentar lagi."
"Sedikit lagi!" Lanjut Bia dengan perasaan yang sama-sama bahagia.
Tanpa diduga. Shaka memeluk tubuh Bia. Pria itu memeluknya dengan erat dan mencium ujung kepalanya. Shaka benar-benar berada di situasi yang sangat amat membuatnya ingin berteriak karena terlalu senang.
Seakan kabar yang sudah ditunggu bertahun-tahun. Kabar yang dinanti banyak orang itu kini bisa dia rasakan dan dia dengar sendiri.
"Makasih banyak, Bi. Kalau bukan karena kamu disini. Aku tak akan tahu kapan anak ini hadir padamu," Ujar Shaka dengan pelan lalu melepaskan pelukannya. "Boleh aku melihatnya?"
Bia mengangguk. Perlahan tubuh Shaka merosot. Dia mensejajarkan kepalanya dengan perut Bia yang masih rata. Pria itu mengangkat tangannya yang gemetar.
__ADS_1
Menyentuh perut itu dengan perasaan yang membuncah. Dia segera mengusapnya dengan pelan. Membayangkan ada sosok makhluk kecil hidup disana karena dirinya.
Membayangkan anak itu makin hari akan berkembang. Perut membesar dan perlahan akan lahir dan memanggilnya seorang ayah. Hal yang membuatnya tanpa sadar menangis.
"Selamat pagi, Calon Ayah. Ayah harus sehat agar bisa bertemu denganku," Kata Bia dengan suara khas anak kecil yang membuat Shaka mendongakkan kepalanya.
Kepalanya Shaka mengangguk. "Aku akan terus menjaga kesehatanku, Bi. Aku akan sehat demi dia."
Shaka perlahan memajukan wajahnya. Dirinya mencium perut itu dengan penuh perasaan. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Bia dan perlahan meletakkan kepalanya disana.
Sebuah pemandangan pagi yang indah bukan. Matahari yang hangat dan pelukan hangat dari pria yang saat ini memenuhi hatinya.
Pelukan hangat yang begitu menggetarkan hatinya dan tanpa sadar membuat tangan Bia perlahan naik. Membuat tangan Bia dengan pelan mengusap rambut Shaka yang masih asyik meletakkan kepalanya tepat di perutnya.
"Makasih banyak, Bi. Makasih," Lirih Shaka sekali lagi dan membuat perasaan Bia semakin hangat.
"Sama-sama."
Momen indah ini mau tak mau harus bubar ketika Shaka mendengar suara perut Bia. Pria itu mendongak dan menatap wajah Bia yang kemerahan.
"Kamu lapar?" Tanya Shaka dengan tertawa.
"Ih, Mas. Jangan diketawain! Gak boleh!" Seru Bia dengan kesal.
"Oke oke. Maaf maaf," Ujar Shaka dengan perlahan beranjak berdiri. "Kamu lapar hmm?"
Shaka menanyakan itu dengan suaranya yang lembut. Dia bahkan menatap mata Bia dengan hangat.
"Iya. Aku sangat lapar. Aku nungguin kamu bangun lama banget!" Kata Bia dengan malu-malu.
Shaka menahan senyumannya. Entah kenapa pagi ini istri sirinya itu terlihat begitu menggemaskan.
"Maaf maaf. Baiklah! Ayo kita makan. Aku akan memasakkan sesuatu untukmu," Kata Shaka dengan menarik lengan Bia dengan pelan.
Mata Bia berbinar. Dia menatap Shaka dengan tatapan tak percaya.
"Beneran, Mas? Kamu mau masakin aku sarapan? Iya?"
"Cerewet banget sih. Udah ayo!" Kata Shaka dengan mengajak Bia berjalan kembali ke villa.
~Bersambung
Akhh selamat ya Mas Shaka. Mau jadi ayah?
__ADS_1
kalau udah begini, itu tandanya masa bulan madu selesai. Dan tandanya kalau mereka pulang dan...
lanjut sendiri ahhahaha.