Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Sindiran Pedas Bia!


__ADS_3

...Bukan rasa cemburu yang membuatku terusik melainkan aku mulai curiga dengan kedatangan keduanya ke tempat dimana aku datang. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


"Apa yang Mas Shaka dan Mbak Dhira lakukan disini?" Tanya Bia pada sepasang suami istri yang duduk di hadapannya.


Ya saat ini Shaka, Dhira dan Bia berada di cafe tepat di depan rumah sakit. Bia benar-benar merasa tangannya dingin saat pikirannya mulai berpikiran jauh.


Dia benar-benar mulai menebak. Mulai menerka dengan tujuan apa yang pasangan suami istri itu lakukan di rumah sakit yang sama dengannya.


"Mas… " Panggil Bia lagi saat tak mendapatkan jawaban.


Sampai akhirnya, saat Bia hendak membuka bibirnya lagi. Tangan Dhira melingkar di lengan Shaka dengan manja dan menunjukkan gak kepemilikan dirinya di depan Bia dengan menegakkan tubuhnya sedikit.


"Apa kamu ingin tahu, Bi?"


"Tentu, Mbak," Jawab Bia dengan penasaran.


Dhira tersenyum dengan lebar. Dia menatap Shaka yang juga membalas tatapannya.


"Mungkin kita harus mengatakan pada Bia, Sayang. Kebahagiaan yang sedang kita alami ini," Kata Dhira pada Shaka yang berwajah datar.

__ADS_1


Pria itu mengalihkan tatapannya. Entah kenapa mata Shaka lebih tertuju pada ekspresi wajah istri keduanya. Pandangan Sakha lebih terfokus pada tatapan mata Bia yang seakan penasaran dengannya.


"Sebenarnya kita kesini untuk periksa, Bi," Ujar Dhira yang membuat tatapan Bia teralih.


Perempuan itu mengerutkan keningnya. Dia menatap ke arah Dhira dengan pandangan tak paham.


"Mbak Dhira sakit?" Tanya Bia dengan khawatir.


Kepala Dhira menggeleng. Dia mengangkat tangan kirinya lalu meletakkan tepat di atas perutnya dan mengusapnya.


"Kita kemari ingin periksa kehamilan, Bi," Ucap Dhira seakan petir menyambar untuk Bia. "Aku sedang hamil anak Mas Shaka. Buah cinta kita berdua."


Jantung Bia seakan berhenti berdetak. Perempuan itu bahkan terbelalak tak percaya.


"Maksudmu?" Tanya Dhira dengan suaranya yang sedikit menaik.


"Em bukan begitu, Mbak!" Kata Bia yang rasanya ingin keceplosan. "Katanya Mbak Dhira…Mmm maaf itu."


"Mandul?" Sela Dhira dengan nada suara yang mulai naik.


"Maaf, Mbak!" Kata Bia dengan pelan.


"Asal kamu tau ya, Bi. Aku tak mandul! Dokter mengatakan aku tak memiliki penyakit apapun. Aku dan Mas Shaka sehat. Hanya saja Tuhan baru memberikan keajaiban itu sekarang!"

__ADS_1


Bia menatap kedua bola mata Dhira. Otaknya memutar. Ya, Bia bukan anak kecil lima tahun yang gampang percaya.


Ingatannya terus memutar dengan apa yang dia lihat. Ya dia sangat ingat. Apa yang dia lihat di tempat sushi dengan adik laki-lakinya. Tentu hal itu membuat Bia mulai berpikir.


Apa jangan-jangan…


"Lalu jika Mbak Dhira hamil. Bagaimana dengan anak yang kukandung?" Tanya Bia dengan khawatir.


Bagaimanapun dia tak mau egois. Bagaimanapun dia tak mau anaknya menjadi korban. Dia tak mau anaknya terlantar.


Bia ingin yang terbaik untuk anaknya. Meski dia sadar jika dia harus menyerahkan anaknya nanti.


"Anak kamu ya tetap milik kami, Bi. Itu sudah perjanjian kita! Jangan ingkar dari perjanjian kita!" Kata Dhira dengan emosi. "Aku tetap akan merawat anak itu seperti anak aku sendiri."


"Mbak yakin?"


Bia benar-benar tak memiliki rasa percaya sedikitpun pada Dhira. Dia benar-benar tak percaya apapun. Dirinya bahkan khawatir jika anaknya akan menjadi pelampiasan wanita yang benar-benar membuat Bia muak.


"Apa kau tak percaya padaku?" Seru Dhira dengan marah.


"Bagaimana aku bisa percaya padamu, Mbak!" Kata Bia dengan melawan. "Mbak Dhira saja sering menelantarkan Mas Shaka. Lalu bagaimana jika mengurus dia bayi bersamaan?"


"Kau!" Seru Dhira yang benar-benar emosi sampai dia menggebrak meja dengan kuat.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2