Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Rencana Licik!


__ADS_3

...Kebohongan dan kebusukan yang kau lakukan pertama kali pasti akan disusul dengan beribu banyak kebohongan yang lain untuk saling menutupinya. ...


...~Bia Quinsa Altafunisha...


...****************...


Tangan Dhira gemetar saat dia melihat hasil tespek di tangannya. Benda panjang itu yang sudah dicelupkan ke air maninya ternyata sudah menunjukkan hasil. Hasil yang membuatnya terkejut, menelan ludahnya kasar dan terbelalak tak percaya.


"Apa hasilnya, Dhir?" Tanya Arthur yang juga menunggu di depan kamar mandi.


Wanita yang mendongakkan kepalanya. Dia mengangkat hasil tespek itu lalu menunjukkan ke arah Arthir.


"Garis dua," Jawab Dhira yang membuat wajah Arthir terbelalak tak percaya.


"Kamu hamil?"


Dhira mengangguk dengan posisi tubuh yang masih tak percaya. Namun, berbeda dengan Arthir. Pria itu mengangkat kepalan tangannya ke atas begitu bahagia lalu segera berlari ke arah Dhira dan memutar tubuh wanita itu dengan senang.


"Arthir stop!" Kata Dhira saat dia terkejut dengan tingkah laku kekasihnya itu. "Bagaimana kamu bisa bahagia?"


"Lalu aku harus apa? Aku tentu bahagia karena aku yakin itu anakku!"


"Apa!" Seru Dhira dengan menyugar rambutnya ke belakang.


Perempuan itu tak habis pikir. Dia berpikir jika Arthir akan marah atau sedih. Namun, ternyata ekspresi pria itu diluar keinginannya.


"Kenapa kamu seperti tak senang, Dhira?"


"Bagaimana aku bisa senang?" Seru Dhira dengan ekspresi marah. "Aku selalu minum pil pencegah hamil, Arthir. Aku selalu menggunakan itu setiap kali berhubungan. Tapi… . "


Dhira baru ingat sesuatu. Ya dia ingat akan satu hal. Saat dia dan Arthir mabuk bersama. Saat dia liburan dengan kekasihnya itu tepat pernikahan kedua suaminya.


Dia lupa minum pil itu. Dia lupa meminum pil pencegah kehamilan dan malah asyik melakukan hubungan badan satu hari penuh.


"Apa kamu ingat sesuatu?"


Dhira mengangguk. Hal itu membuat Arthir menarik lengan Dhira dan meminta wanitanya itu duduk di atas ranjang.


"Jangan dibuat stress, Sayang. Tenanglah! Ini anakku! Aku akan bertanggung jawab," Kata Arthir yang membuat Dhira menarik tangannya kasar dan membuat pria itu menatap wanitanya.


"Jangan konyol! Jika semua orang tahu, apa keberadaan kita aman?" Seru Dhira dengan marah. "Aku harus membuat kejutan untuk Shaka. Iya, jalan satu-satunya aku harus mengatakan jika hamil anaknya."

__ADS_1


Arthir terlihat marah. Ekspresi wajahnya seperti tak ikhlas. Hal itu tentu terbaca sekali oleh Dhira dan membuat wanita itu menangkup kedua sisi wajah Arthir dengan pelan.


"Sayang," Panggil Dhira dengan pelan. "Ingat! Tujuan kita belum tercapai. Kita harus segera melakukan semuanya, menutupi kehamilan ini sebagai anak Shaka jika ingin semuanya lancar. Aku juga yakin jika Shaka tahu aku hamil. Akan dengan mudah kita menjauhkan mereka berdua."


Dhira tersenyum miring. Ah ide nakal dan licik itu begitu memutar di kepala Dhira. Wanita yang memiliki rencana di dalam otaknya.


Rencana rencana yang selalu membuat kebohongan dan kebusukan yang lain saling menutupi dan hal itu tentu membuat keduanya harus selalu berada di zona nyaman.


"Apa kau yakin?"


Dhira mengangguk. Dia memajukan wajahnya lalu mencium bibir Arthir dengan pelan. Menyesapnya begitu lembut hingga ciuman itu perlahan terlepas.


"Demi tujuan kita. Tahan dulu keinginanmu, Sayang. Oke?"


Mau tak mau. Suka tak suka. Arthir mengangguk dengan wajah pasrah. Ya pria itu hanya mampu menuruti semua perintah kekasihnya itu.


Sejak dulu dia tak pernah memaksa Dhira. Tak bisa tak menuruti semua keinginannya. Apa kemauan Dhira, apa keinginan wanita itu. Bisa tak bisa Arthir selalu melakukannya.


"Terbaik. Aku makin cinta sama kamu, Sayang," Ucap Dhira dengan tersenyum lalu memeluk Arthir dengan pelan.


...****************...


"Kakak beneran gak mau ikut pulang ke rumah?" Tanya Athalla sekali lagi yang berdiri di samping mobilnya.


"Iya. Kakak besok masuk pagi. Jadi kakak gak bisa pulang," Kata Bia dengan pelan.


"Yaudah. Thalla pulang yah. Kakak hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa hubungan Thalla atau gak ayah," Kata Athalla lalu memeluk kakaknya.


Bia selalu merasa nyaman dengan keluarganya. Entah itu ayah, kakak atau adik atau ibunya. Dia selalu merasa tenang ketika dipeluk dengan mereka.


Hubungan yang diajarkan oleh Bara dan Almeera. Hubungan persaudaraan yang diajarkan keduanya tentu berhasil diterapkan oleh keduanya.


Saling menyayangi, saling mencintai satu dengan lain. Tanpa adanya minder, egois atau iri.


Almeera dan Baru selalu berusaha adil untuk keempat anaknya dan membuat mereka tentu saling bersama satu dengan yang lain.


"Kamu juga hati-hati yah. Sampai rumah kabarin kakak!"


Athalla mengangguk. Dia melepas pelukannya lalu segera melambaikan tangannya pada kakak perempuannya itu.


"Assalamu'alaikum," Kata Athalla sebelum dia masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," Jawab Bia lalu segera membalas lambaian tangan adiknya sampai mobil yang membawa Athalla pergi menjauh darinya.


Bia lalu lekas masuk ke dalam rumah. Dia menatap sekitar dan mencari keberadaan Bibi Mar. Namun, suasana rumah begitu tenang dan membuat Bia akhirnya memilih meletakkan tas nya di sofa lalu dia duduk disana.


Menarik nafasnya panjang lalu menyandarkan punggungnya di sofa panjang itu. Dia merasa lelah dan sakit di bagian perutnya. Dia merasa kram tapi hal utama yang memenuhi pikirannya adalah ingatan dimana Arthir dan Dhira sedang kencan begitu romantis.


"Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Bia dengan pelan.


Dia menarik nafasnya dengan berat. Dirinya benar-benar mulai merasa tak nyaman. Perutnya terasa sakit dan membuat matanya perlahan terbuka.


"Aww!" Gumam Bia dengan pelan.


Dia mencoba tetap tenang. Dia perlahan beranjak berdiri dan berjalan dengan pelan ke arah dapur.


Bia berjalan sedikit membungkuk. Ya dia merasa membutuhkan obatnya. Pikiran terlalu banyak tentang sikap dan kejutan yang dia dapatkan ternyata mampu membuatnya stress berat.


"Tenang, Bi!"


Bia berhasil sampai ke tempat dimana vitamin hamilnya berada. Dia membuka tempat itu lalu mengambil obatnya. Setelah itu dia mengambil segelas air putih dan segera membuka obatnya itu.


Terlalu sakit dan keburu membuat dia tak sabaran. Sampai akhirnya beberapa obatnya berjatuhan.


"Ahhh!"


Bia mengerutkan keningnya. Sampai akhirnya sebuah tangan merampas obatnya dan membuat dia menoleh.


"Mas Shaka!" Kata Bia dengan terkejut.


"Kenapa kamu keburu. Kamu… "


"Mana obatnya dulu, Mas. Cepet!" Kata Bia memohon.


Shaka segera memberikan obatnya pada Bia. Perempuan itu meminumnya dan segera meneguk air putih dengan tak sabaran. Bia mencoba tenang. Dia duduk dengan pelan lalu mengatur nafasnya.


"Kamu kenapa, Bi?" Tanya Shaka dengan pelan.


Pria itu khawatir. Shaka bahkan sampai duduk di sampingnya dan mengusap kepala Bia dengan pelan. Elusan itu entah kenapa membuat Bia tenang dan ajaib perutnya juga merasa tak seterang tadi.


"Perutku kram, Mas. Tapi sekarang… " Kata Bia dengan pelan yang membuat Shaka menunggu lanjutan perkataan wanita itu. "Mulai tenang. Bisakah kamu mengusap perutku sebentar? Sepertinya dia rindu ayahnya."


~Bersambung

__ADS_1


Duh yang satu lagi gemes gemes manja. Yang satu lagi bikin rencana baru. Memang kisahnya naik turun macem naik Rollcoster


__ADS_2