
...Tak ada yang tau jika seseorang memiliki trauma di masa lalu karena dia terlalu rapi menyembunyikannya. Dia terlalu tertutup dan membuat dirinya menjadi sosok yang benar-benar berbeda dari rasa traumanya sendiri. ...
...~JBlack...
...****************...
Bia menatap hamparan pantai di depannya. Dia duduk di sebuah ayunan dengan pandangan kosong. Sudah sejak tadi dirinya ada disini. Duduk diam dengan mengingat semua yang terjadi dalam hidupnya.
Dibalik sikapnya yang ceria, dibalik senyuman yang selalu lebar. Ternyata Bia memiliki sesuatu hal yang menyakitkan.
Sebuah kejadian di masa lalu yang dia dapatkan ternyata mampu membuat hatinya dan perasaan sebagai seorang wanita hancur tak berbekas. Seakan Bia tak memiliki rasa percaya diri lagi untuk membanggakan apa yang dia punya.
Dia menarik nafas begitu dalam. Menurunkan pandangannya dan menatap ke arah kakinya yang tak memakai alas apapun.
"Ternyata diam dan menjadi seperti ini sangat amat tenang," Kata Bia dengan memaksakan senyumannya.
Sekelebat kejadian semalam mulai memutar di kepala Bia. Wanita itu menggelengkan kepalanya. Mencoba menarik nafasnya begitu dalam saat wajah Shaka, suaranya dan juga bagian teramat menyakitkan itu terus terngiang dalam pikirannya.
"Aku iri sama Mbak Dhira. Memiliki suami yang setia. Bahkan disaat dia dalam keadaan tak sadar. Nama dan wajah istrinya yang dia ingat," Kata Bia pada dirinya sendiri.
Namun, sedetik kemudian. Dia tertawa sendiri. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri yang terlalu mengharapkan sosok Shaka lain untuk dirinya.
Menertawakan jalan hidupnya yang benar-benar penuh kesakitan tapi meminta akhir yang bahagia.
"Apa masih ada pria yang menerima kekuranganku ini?"
...****************...
Sedangkan di tempat lain.
Terlihat Shaka mulai mencari keberadaan Bia. Jujur pria itu marah dan kesal saat mengingat bagaimana istrinya yang menangis dan marah kepadanya karena Bia pergi.
Dia benar-benar tak percaya istrinya lebih meminta dirinya mencari Bia daripada dirinya sendiri.
"Bi!"
"Bia!" Teriak Shaka berulang kali.
Pria itu berjalan sesuai dengan apa yang dia rasakan. Apa yang dia pikirkan membawanya berjalan melewati hamparan pantai yang begitu indah.
"Permisi," Kata Shaka pada beberapa orang disana. "Apa anda melihat wanita memakai pakaian gamis dan berjilbab jalan disini?"
__ADS_1
"Tidak. Kami tak melihatnya," Jawab salah satu wanita dari tiga orang wanita disana.
"Terima kasih," Sahut Shaka lalu melanjutkan pencariannya sendiri.
Dia benar-benar mencari dengan menatap kanan kiri. Sosok wanita yang sangat diharapkan agar bisa ditemui. Dia tak mau Dhira terus menangis. Dia tak mau Dhira terus marah dan membuat hubungan keduanya renggang.
Ya tentu apa yang dilakukan oleh Shaka hanya untuk dia dan Dhira. Untuk keberlangsungan hubungan keduanya agar tetap Damai dan tenang.
"Permisi. Apakah Anda melihat seorang wanita memakai gamis dan kerudung. Kulitnya putih… "
"Hidungnya mancung?" Tebak wanita itu yang membuat Shaka mengangguk.
"Ya benar."
"Mungkin wanita yang Anda cari adalah dia!" Tunjuk wanita itu ke sebuah ayunan dengan wanita duduk begitu tenang dan gamis yang melambai karena terkena terpaan angin. "Sejak tadi wanita itu melamun disana. Mungkin dia yang Anda cari."
Shaka tersenyum senang. Dia mengangguk lalu tak lupa mengucapkan terima kasih. Langkah kakinya spontan berjalan ke arah wanita yang ia anggap Bia. Dia bergerak dengan cepat dan saat sampai di dekatnya. Shaka menepuk bahunya.
Bia spontan mendongak. Shala langsung bernafas dengan lega saat wanita itu benar-benar wanita yang dia cari.
"Ayo pulang!" Ajak Shaka pada Bia.
"Nggak!" Sahut Bia lalu mengalihkan tatapannya lagi.
"Ayo, Bi. Kita pulang!" Ajak Shaka dengan suara yang lebih lembut.
"Pulanglah, Mas. Bia mau disini."
Shaka terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia bukan tipikal pria penyabar. Shaka adalah orang yang gampang terpancing emosi. Kecuali hanya dengan satu orang. Hanya ada Dhira dia bisa sesabar mungkin.
"Maafin aku, Bi. Maafin aku yang mungkin bicara kasar sama kamu. Maafin aku yang udah hina kamu bahkan tampar kamu tadi," Ujar Shaka dengan berjongkok dan menatap ke arah wajah Bia yang tak mau menatapnya.
"Aku hanya terkejut. Aku terkejut dengan apa yang terjadi pada kita," Lanjut Shaka dengan menatap wajah Bia yang hanya diam. "Kamu tau sendiri. Bagaimana aku mencintai Dhira. Bagaimana aku menyayangi istriku, Bi. Wajar jika aku masih terkejut dengan apa yang kita lakuin semalam."
Tak ada respon. Tak ada jawaban apapun. Bahkan Bia masih tak mau menatap ke arah Shaka yang tengah berbicara.
"Kumohon, Bi. Jangan batalkan kesepakatan kita. Aku tak mau melihat istriku menangis. Aku tak mau melihat Dhira kecewa sebesar itu. Aku tak mau melihatnya terluka hanya karena aku," Pinta Shaka yang berhasil membuat Bia menoleh.
Dari sana, Shaka terkejut. Ya bekas luka tamparan itu terlihat jelas di ujung bibir Bia dengan jelas.
"Bi," Kata Shaka dengan tergagap.
__ADS_1
"Luka ini gak seberapa, Mas. Daripada hinaan kamu tadi," Kata Bia yang seperti tamparan untuk Shaka. "Luka ini bisa disembuhkan tapi untuk semua ucapan kamu. Mungkin untuk melupakannya saja, tak akan pernah."
Shaka merasa tersentil. Dia menunduk seakan ucapan Bia benar-benar membuatnya sadar.
"Aku disini ada karena Mbak Dhira, Mas. Aku hanya berniat membantunya karena dia sudah membantuku. Aku hanya ingin balas budi kepadanya. Aku juga seorang wanita dan bisa merasakan apa yang Mbak Dhira rasakan tapi… "
Bia terlihat menahan sesuatu. Dia menatap indahnya pantai lagi dengan perasaan sesak dan sakit.
"Ucapan kamu seperti tamparan kalau aku seperti pelakor murahan yang datang di rumah tangga kalian!"
"Nggak, Bi. Nggak!" Kata Shaka dengan menggenggam tangan Bia.
Untuk pertama kalinya Shaka memegang tangan Bia dalam keadaan sadar. Untuk pertama kalinya pria itu memegang terlebih dahulu.
Seakan ucapannya sendiri. Ucapan kasar saat dia tak mau disentuh dilanggar oleh dirinya sendiri.
"Maafin aku, Bi. Aku benar minta maaf. Aku janji tak akan mengulanginya lagi. Ayo kita pulang! Kumohon, Bi!" Shaka benar-benar meminta maaf.
Bahkan pria itu sampai menundukkan kepalanya pada seorang wanita selain Dhira. Untuk pertama kalinya seorang Shaka memohon pada wanita lain dengan begitu serius.
"Apa yang Mas Shaka janjikan jika Bia kembali dengan kesepakatan kita?" Tanya Bia yang membuat kepala Shaka mendongak.
Dia terdiam. Seakan ucapan Bia barusan membuat Shaka berpikir. Ya berpikir keputusan apa yang akan diambil untuk masa depan mereka.
Ah bukan masa depan lagi! Namun, jalan apa yang akan mereka lalui nanti bersama-sama.
"Aku tak mau mendengar hinaan lagi, Mas. Aku tak mau apa yang terjadi terulang kembali. Itu menyakitkan untukku!" Kata Bia dengan pandangan terluka.
Perlu di garis bawahi. Bia sejak tadi tak menangis. Wanita itu benar-benar mampu mengendalikan dirinya dan tak mau dianggap rendah.
"Aku janji akan lebih lembut padamu, Bi. Berikan aku waktu untuk belajar mengenalmu, belajar lebih tenang dan menjaga emosiku denganmu," Ucap Shaka dengan mata begitu serius. "Jadi kamu mau kembali?"
Bia tentu tak sejahat itu. Dia adalah salah satu orang yang bisa dipegang perkataannya. Sekali dia bersepakat maka dia memutuskan menjalaninya sampai akhir.
" Iya, Bi. Mau kan untuk melanjutkan kesepakatan kita dan kembali ke Villa?" Kata Shaka lagi dengan suaranya yang benar-benar lembut.
Bia terdiam. Dia terlihat sedikit lebih lega telah meminta ini. Meski semua ini dilakukan untuk kesepakatan. Setidaknya selama semuanya berjalan, dia tak ada mendengar hinaan lagi.
"Iya. Bia mau!"
~Bersambung
__ADS_1
Kalau baca kisah ini harus banyak elus dada yah. Bakalan dibikin naik turun. Pen ngumpat, pen marah hihi. Jangankan kalian, aku yang nulis dan baca sinopsis aku aja juga ikutan gedeg.