Bia, Ibu Pengganti

Bia, Ibu Pengganti
Susu Hamil


__ADS_3

...Percayalah sekuat apapun kalian menyembunyikan kenyataan. Jika itu waktunya sudah tiba. Maka akan tercium baunya....


...~JBlack...


...****************...


"Bia berbohong, Mas," Kata Almeera dengan menoleh ke arah Bara yang duduk di sampingnya.


Bara tentu lekas menoleh. Dia menatap ke arah perempuan yang usianya sudah lebih tua dari dirinya. Wanita yang menjawab bahwa dirinya bekerja sebagai pelayan putrinya.


Wanita yang tak pernah ia kenal. Wanita yang baru kali ini keduanya lihat. Ya Almeera dan Bara ada di rumah Bia. Kedua orang itu tidak sengaja datang ke rumah putrinya untuk beristirahat sejenak.


Namun, hal tak terduga mereka baru ketahui. Almeera dan Bara baru tahu jika Bia memiliki pelayan baru. Pelayan yang tak pernah diceritakan pada keduanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini. Tolong ceritakan kepada kami," Pinta Almeera pada Bibi Mar yang berdiri sambil menunduk di depan orang tua Bia.


Jujur Bibi Mar terkejut bukan main. Saat dirinya membersihkan ruang tamu. Tiba-tiba ada pasangan suami istri datang dan langsung masuk.


Hal yang tak terduga lagi adalah. Ketika dia melihat salah satu dari mereka memiliki wajah yang mirip dengan Bia. Gadis yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


"Saya hanya pelayan disini, Nyonya. Saya hanya diminta Nona Bia untuk menemaninya," Jawab Bibi Mar dengan alasan yang dia buat.


Bagaimanapun untuk apa yang terjadi di rumah ini. Untuk semua yang terjadi, bukan urusannya. Dia juga tak mau membuka suara karena Bibi Mar yakin Nona Bia. Wanita muda yang dihormati itu memiliki alasan tersendiri.


Almeera terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia tak mungkin memaksa wanita tua di depannya ini.

__ADS_1


Dirinya yakin pasti ada sesuatu di rumah ini hingga putrinya menyewa satu pelayan yang tak pernah mereka kenal.


"Mas!" Pekik Almeera saat Bara tiba-tiba beranjak berdiri. "Mau kemana, Mas?"


"Aku ingin ke kamar putriku dulu!" Kata Bara sambil mulai berjalan.


Almeera tak suka itu. Dia tak pernah berpikiran menuduh putrinya.


"Mas, tunggu!" Pekik Almeera sambil mengikuti langkah kaki Bara.


"Mas, stop!" Pekik Almeera setengah berteriak.


Berhasil.


Bara perlahan berhenti dan membuat Almeera bisa meraih tangannya.


Dia memegang wajah Bara. Menariknya agar menoleh padanya. Tatapan Almeera yang tulus ternyata mampu membuat tatapan Bara yang tadinya khawatir dan resah mulai tenang.


"Kamu tahu, Kan? Kamu masih ingat, Kan?"


Bara perlahan mengangguk. Dia sangat tahu dan ingat akan apa yang keduanya lakukan. Mereka selalu memberikan ruang pada keempat anaknya untuk memiliki dunia sendiri.


Menyembunyikan apapun sampai mereka siap cerita padanya.


"Kita harus percaya pada Bia, Mas. Tunggu putri kita yang akan menceritakan langsung. Almeera yakin, Bia memiliki alasan melakukannya, Mas. Oke?"

__ADS_1


Almeera selalu seperti itu. Sosok ibu yang selalu percaya dengan keputusan anaknya.


"Tapi Bia… "


"Mas gak percaya sama putri kita?" Tanya Almeera telak.


Bara tentu tertampar. Dia selalu percaya pada keempat anaknya. Keputusan apa yang mereka ambil pasti sudah mereka pikirkan dengan baik..


"Ra… "


"Kita harus percaya, Mas. Ingat! Dia adalah darah daging kita. Kita yakin Bia pasti akan mengatakan jika sudah siap!" Lanjut Almeera dengan yakin.


Bara terlihat menghela nafas berat. Dia menganggukkan kepalanya. Dia sadar akan apa yang dikatakan istrinya.


"Maaf," Ucap Bara yang membuat Almeera tersenyum.


"Kita tunggu Bia cerita yah!" Kata Almeera sekali lagi.


"Iya!"


Sampai akhirnya saat keduanya hampir melangkah pasti. Sebuah kotak kardus di meja dekat keduanya berdiri membuat keduanya teralih.


Mata Bara dan Almeera tertegun. Keduanya bahkan sampai mematung. Menatap barang kotak kardus dengan gambar seorang wanita di sana.


Sampai sebuah tangan meraih kotak itu dan membuat keduanya menoleh.

__ADS_1


"Kotak susu hamil milik siapa itu?" Tanya Almeera dengan jantung berdebar.


~Bersambung


__ADS_2